Aku sampai di rumah menjelang siang dengan membawa sebungkus sate ayam pemberian Pakde To.
Mbah ada di teras masih sibuk memilah bawang merah, aku langsung berlari menghampirinya.
"Mbah! Lihat!" teriakku. Aku mengangkat bungkusan di tanganku tinggi-tinggi, memperlihatkan apa yang kubawa.
Mbah menoleh. "Apa itu, Le?"
"Sate ayam!" jawabku, sambil mencium aromanya, tapi yang kudapat hanya aroma plastik.
"Tegar dapat sate ayam dari mana?" tanya Mbah. Aku berdiri di dekatnya.
"Dibeliin Pakde To," jawabku. "Tegar ikut Pakde nganter kacang ke juragan. Terus Pakde beliin sate."
Mbah tersenyum. "Alhamdulillah."
"Alhamdulillah," aku ikut mengucapkannya.
"Mbah ambilin piring dan nasi dulu. Tunggu sebentar ya," ucap Mbah. Beliau lalu berusaha berdiri dari duduknya dengan susah. Aku hanya diam menatapnya, tidak tahu harus apa.
"Biar Tegar yang ambil piring dan nasinya," kataku akhirnya. "Mbah ... Mbah cuci tangan aja lalu makan bareng sama Tegar."
Aku segera melangkah masuk ke dalam rumah, mengambil piring dan menyiapkan nasi untuk makan siang kami.
Baru selesai mengambil piring, Mbah datang menghampiri. "Sini Mbah ambilin nasinya."
Aku memberikan piring pada Mbah, lalu Mbah mengisinya dengan nasi. Kami makan siang bersama, duduk di atas tikar di dekat jendela samping.
"Sate ayam enak ya, Mbah. Bumbunya aja udah enak banget," kataku.
Mbah mengangguk. "Iya, makan yang banyak ya."
Aku menatap piring, Mbah. Ternyata Mbah tidak mengambil sate ayam itu. Mbah malah tetep makan pakai rebusan daun singkong dan garam.
Pelan, aku mengambil dua tusuk sate ayam lalu meletakkannya di atas nasi Mbah.
Mbah mengangkat wajah menatapku. "Makan Tegar saja. Mbah nggak doyan yang beginian."
Aku menatap Mbah, lalu tersenyum tipis, menyadari jika Mbah selalu mengalah dan berbohong padaku.
"Mulai hari ini, Mbah harus doyan sate ayam. Kalau nggak doyan, aku nggak mau makan." kataku mantap.
Mbah malah terkekeh. "Ya sudah, Mbah satu saja," katanya.
"Nggak. Harus dua, pokoknya harus dua." Aku tetap memaksa.