Sepulang sekolah, seperti biasa, Mbah sudah menungguku di depan gerbang dengan sepeda tuanya. Aku segera naik ke boncengan.
"Hari ini ulangan terus, Mbah. Dari masuk sampai pulang," ucapku mulai bercerita.
"Tegar bisa ngerjain?" tanya Mbah.
"Alhamdulillah bisa semua. Tapi ada satu yang dapat nilai sembilan puluh. Itu karena Tegar malah nambahin nol di belakang."
Mbah terkekeh. "Berarti besok lebih teliti lagi ya."
"Iya, Mbah."
Pelan, aku mendongak menatap langit. Hari ini langit cerah sedikit mendung.
Sesampainya di rumah, Mbah langsung menyuruhku makan.
"Makan dulu, Le. Mbah sudah siapin."
"Iya, Mbah."
Aku segera mengganti seragam, lalu menghampiri Mbah yang sudah duduk di teras sambil mulai memilah bawang merah. Aku duduk di sampingnya.
"Mbah ...." panggilku.
"Hm?"
Aku mengeluarkan sesuatu dari saku. "Nih."
Mbah menoleh. Sebuah botol kecil balsem kuletakkan di hadapannya.
Mbah terdiam, lalu menoleh menatapku.
"Balsem Mbah sudah habis kan? Itu buat Mbah, Tegar beli di warung dekat sekolah."
"Tegar beli?"
Aku mengangguk. "Iya."
Tangannya perlahan berhenti memilah bawang merah. Beliau mengambil botol balsem itu, lalu menggenggamnya erat.
"Kamu dapat uang dari mana, Le?"
"Aku ngambil sedikit celenganku."
Seketika itu juga, aku melihat mata Mbah berkaca-kaca. Tangannya mengulur mengusap kepalaku.
"Terima kasih, ya, Le."
Aku tersenyum. "Sama-sama, Mbah."
Setelah itu, aku makan siang. Begitu selesai, aku kembali menghampiri Mbah yang masih duduk memilah bawang merah. Aku duduk di sampingnya dan mulai membantu.
Sekarang, membantu memilah bawang merah sudah menjadi kebiasaanku. Dan mataku sudah tidak pernah pedih lagi karena bawang.
Sore hari, setelah membantu Mbah, aku pergi bermain ke lapangan. Teman-temanku ternyata sudah berkumpul di sana.