Aku membelalak. "Mbah ...." teriakku.
Mbah menatap orang-orang di hadapannya. Kedua tangannya gemetar.
"Berapa? Berapa uang yang katanya dia ambil? Akan saya bayar. Saya bayar lebih. Asalkan jangan sakiti cucu saya lagi." Air mata Mbah mulai jatuh.
"Mbah ...." suaraku semakin bergetar. Kakiku terasa lemas tapi aku tetap berdiri, diapit bapak Faiz dan Bapak Bagas.
"Kenapa kalian tega menyakiti dia? Kenapa kalian tega memukul dia? Dia masih anak-anak." Mbah mengusap air matanya sendiri dengan tangan yang gemetar. "Kalau dia salah, tanyakan baik-baik. Jangan dipukul seperti itu. Di mana hati nurani kalian? Kalian ini manusia atau bukan?"
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Aku tidak mampu menahan air mataku lagi. Aku semakin menangis.
Bude Lastri dan Bude Ti segera menghampiri Mbah. Mereka memeluk Mbah, mencoba menenangkan Mbah. Membantu Mbah berdiri.
Sementara itu, Pakde Burhan melangkah maju. Wajahnya merah padam. Tangannya menunjuk orang-orang yang ada di balai ini.
"Siapa?" bentaknya. "Siapa yang berani memukul keponakanku?" Pakde Burhan masih terus menunjuk orang-orang. "Siapa orangnya? Sini! Lawan aku!"
"Pakde ...." suaraku lirih. Dibalik sikap kerasnya padaku, ternyata Pakde Burhan juga sayang padaku.
Pakde To segera menghampiriku. Beliau berdiri di depanku, lalu melihat darah di pelipisku. Tangannya mengusap lenganku pelan.
"Sudah, Le. Jangan takut. Semuanya bakal baik-baik saja. Kamu tenang ya."
Aku mengangguk, meskipun air mataku masih jatuh.
"Sini maju, lawan saya," teriak Pakde Burhan.
"Ponakan kamu maling, kok masih mau kamu bela?" Bapak Faiz menyahut Pakde Burhan.
Aku menoleh.
Bapak Faiz berdiri dengan wajah penuh keyakinan.
"Jangan-jangan kamu yang ngajarin dia, ya?" sahut seorang bapak lainnya.
Pakde Burhan langsung menoleh tajam. "Jaga ucapanmu!"
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki dari depan. Pak Lurah datang bersama beberapa perangkat desa.
"Sudah! Ada apa ini?"
Semua orang langsung terdiam. Pak Lurah memandang ke sekeliling aula, lalu tatapannya berhenti padaku, lalu pada Ibunya Bagas yang berdiri tak jauh dariku. Pak Lurah mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan suasana.
"Sudah, sudah. Kita bicarakan baik-baik dulu. Jangan ada yang emosi."
"Baik-baik bagaimana, Pak Lurah?" Pakde Burhan masih berdiri dengan wajah merah. "Keponakan saya sudah babak belur begini! Yang mukul anak kecil ini, orang-orang dewasa. Nggak punya otak apa?"
"Pakde Burhan, saya mengerti Bapak marah. Tapi kalau semuanya bicara dengan emosi, masalahnya tidak akan selesai. Kita duduk dulu. Kita cari tahu sebenarnya apa yang terjadi."