Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #23

Memaafkan

Aku meninggalkan aula kantor kepala desa yang masih dipenuhi suara riuh orang-orang. Aku mencari-cari Mbah, tetapi aku tidak melihat beliau di mana pun.

"Pakde, Mbah di mana?" tanyaku.

"Mbah sudah pulang tadi sama Bude Lastri," jawab Pakde To.

Aku mengangguk pelan.

Pakde To lalu mengajakku naik ke motornya. Motor tua itu melaju menuju rumah Mbah. Sepanjang perjalanan, pikiranku kembali pada kejadian tadi. Aku teringat saat Mbah berlutut di hadapan semua orang, teringat tatapan orang-orang yang menghakimiku, seolah-olah aku benar-benar seorang pencuri.

Aku memeluk pinggang Pakde To lebih erat.

Sesampainya di rumah, Bude Lastri sudah menunggu di depan. Begitu motor Pakde To berhenti, beliau langsung menghampiriku.

"Ya Allah, Tegar ...."

Bude Lastri segera mengangkat tubuhku dari motor dan memelukku erat. Tanpa banyak bicara, beliau menggendongku masuk ke dalam rumah.

Di dalam, aku melihat Mbah. Beliau terduduk lemas di atas tikar, ditemani Bude Ti. Air mata masih mengalir di wajah senjanya.

Begitu melihatku, Mbah langsung mengulurkan kedua tangannya. Bude Lastri kemudian menurunkanku tepat di hadapan Mbah. Detik berikutnya, Mbah langsung memelukku erat.

Aku membalas pelukannya. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut kami. Hanya ada suara tangis, tangisku dan tangis Mbah berpadu dalam pelukan yang begitu erat, memenuhi rumah kecil kami dengan kesedihan yang sulit dijelaskan.

Setelah beberapa saat, Mbah perlahan melepaskan pelukannya. Beliau mengusap air mataku, lalu menyentuh pipiku yang memar. Tatapan Mbah kemudian tertuju pada pelipisku yang masih berdarah. Air matanya kembali mengalir.

"Sini, Bude obati dulu, Le," ucap Bude Lastri lembut.

Aku menoleh kepadanya. Bude Lastri kemudian membersihkan luka di pelipisku dengan hati-hati. Sesekali wajahnya terlihat menahan sedih saat melihat memar di wajahku.

Di sampingku, Bude Ti masih menangis sesenggukan. Tangannya mengusap lenganku pelan.

"Nasib wong cilik kaya ngene, ya, Le..." gumamnya lirih.

Aku hanya diam. Aku tidak begitu mengerti arti ucapan Bude Ti. Aku hanya tahu, malam ini banyak orang menangis karena aku. Aku bahkan bisa melihat sisi kasih sayang Pakde Burhan padaku.

Saat malam semakin larut, saat hanya tinggal aku dan Mbah di rumah. Saat Mbah mengipasiku menjelang tidur seperti biasa ... Aku menatap Mbah.

"Mbah, coba aku punya doraemon ya?" Kataku pelan, ingin menyudahi rasa sedih ini.

Mbah nampak bingung. "Doraemon itu apa, Le?" tanyanya.

"Boneka yang punya kantong ajaib," jawabku.

Dan malam ini, ku habiskan untuk bercerita tentang Doraemon dan Nobita pada Mbah. Agar Mbah tidak sedih lagi memikirkanku.

Sampai sekarang, aku tidak tahu siapa pencuri sebenarnya, mungkin memang Mas Hary, seperti yang diucapkan Pakde Burhan.

🍃🍃

Pagi harinya, aku tidak berangkat sekolah karena wajahku masih memar-memar. Mbah mengompresku dengan telaten.

Tak lama, Pakde Burhan datang bersama Bude Lastri.

Lihat selengkapnya