Semua masalah sudah selesai. Kami sudah saling memaafkan. Namun, sejak saat itu, kesehatan Mbah justru perlahan memburuk.
Hari ini, Mbah baru saja pulang dari puskesmas.
Setelah magrib, aku masuk ke kamar Mbah. Aroma khas balsam langsung menyambutku. Mbah sedang berbaring di atas tikar dengan wajah terlihat lelah.
"Mbah nggak apa-apa, kan?" tanyaku. Aku tidak mau mendengar Mbah sakit apa. Pokoknya Mbah harus baik-baik saja.
"Nggak apa-apa," jawab Mbah lemah.
Aku duduk di sampingnya. "Tegar pijitin, ya, Mbah."
Mbah tersenyum kecil.
Aku langsung memijat lengannya pelan-pelan. Setelah itu, kedua kakinya yang sering terasa pegal juga kupijat dengan hati-hati.
Tak lama kemudian, Bude Lastri datang membawa makanan untuk kami. Sejak Mbah mulai sakit, Bude Lastri memang sering mengantarkan makanan untuk kami.
"Wah, cah bagus. Pinter, ya, mijitin Mbah," puji Bude Lastri.
Aku tersenyum kecil.
"Tapi sekarang makan dulu, gih. Sudah Bude bawakan makan. Bude taruh di depan."
"Aku makan nanti aja, Bude," jawabku.
"Sekarang aja. Kamu harus cepat belajar. Besok sudah mulai ujian kelulusan, kan?"
Aku mengangguk.
"Janji harus dapat NEM yang tinggi, ya," kata Bude Lastri.
"Iya, Bude."
Aku kemudian menatap Mbah. "Mbah ...."
"Iya, Le?"
"Aku janji bakal dapat NEM tertinggi. Tegar janji bakal bikin Mbah bangga."
Mbah tersenyum. Tangannya terulur mengusap rambutku.
"Iya. Begini saja Mbah sudah bangga sama kamu, Le."
Aku terdiam. Mataku tiba-tiba terasa panas. Aku segera berdiri dan membalikkan badan sebelum Mbah melihat air mataku. Aku lalu melangkah keluar kamar. Namun baru beberapa langkah, aku berhenti sebentar di ambang pintu, ucapan Mbah tadi terus terngiang di kepalaku.
'Begini saja Mbah sudah bangga sama kamu, Le.'
Aku mengusap sudut mataku, lalu berjalan menuju ruang depan. Aku makan dalam diam. Sebenarnya aku tidak lapar. Pikiranku terus tertuju pada Mbah yang sedang sakit di kamar. Aku hanya memaksakan diri menghabiskan makanan agar Mbah tidak khawatir.
Tak lama kemudian, teman-temanku datang untuk belajar bersama. Biasanya kami belajar di dalam rumah, tetapi malam ini aku mengajak mereka belajar di teras.
"Di sini aja, ya. Biar nggak berisik. Mbah lagi sakit."
Mereka semua mengangguk. Kami belajar dengan suara pelan. Sesekali aku melirik ke arah kamar Mbah, memastikan beliau tidak terganggu.
Malam semakin larut. Setelah teman-temanku pulang, aku masuk ke kamar Mbah. Malam ini aku memilih tidur di sana.
Aku mengambil kipas tangan yang biasa digunakan Mbah untuk mengipasi aku, lalu mulai mengayunkannya perlahan.
"Sudah, Le. Tidur saja. Biar Mbah yang kipasi."
"Nggak. Sekarang giliran Tegar yang kipasi Mbah."