Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #25

Rumah Kami

Pusara di depanku ini masih basah. Aku hanya berdiri diam di hadapannya. Menatap gundukan tanah yang masih baru tanpa tahu harus melakukan apa. Pikiranku kosong.

Orang-orang mulai meninggalkan makam satu per satu. Suara langkah mereka perlahan menjauh, tetapi aku tetap berdiri di sini. Aku tidak ingin pulang. Untuk apa pulang kalau Mbah sudah tidak ada di rumah? Untuk apa pulang kalau Mbah ada di sini.

Bude Lastri mendekat. Matanya juga masih sembap.

"Pulang, yuk, Le," ajaknya.

Aku menggeleng pelan. "Aku masih mau di sini, sama Mbah."

Suara Bude Lastri bergetar. Air matanya kembali jatuh. Beliau merangkulku. Tak lama kemudian, Pakde To mendekat. Ia berjongkok di sampingku.

"Beli es krim, yuk, Le. Nanti Pakde beliin banyak rasa. Tegar mau es krim rasa apa?"

Aku menggeleng.

"Mau main kartu?"

Aku kembali menggeleng.

Pakde To terdiam. Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Lalu Pakde Burhan datang menghampiri. Tanpa bicara apa-apa, beliau langsung mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya. Aku tersentak.

"Pakde! Turunin!" Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari gendongan Pakde Burhan.

Lihat selengkapnya