MC Ghaib

Galih Priatna
Chapter #1

BAGIAN 1

CAHAYA lampu kristal bergelantungan megah di langit-langit gedung. Kilau keemasannya memantul pada lantai marmer yang bersih mengilat. Di setiap sudut ruangan berdiri rangkaian bunga putih dan merah muda yang tersusun rapi, menjalar bak taman kecil di dalam istana.

Alunan suara piano mengalir lembut memenuhi udara. Ratusan tamu undangan duduk dengan pakaian terbaik mereka. Jas mahal. Kebaya mewah. Gaun panjang berkilau. Gelas-gelas bening berisi minuman berwarna-warni berjejer di atas meja bundar yang dilapisi kain satin putih.

Di tengah kemegahan itu, Gino berdiri tegak di atas panggung. Jas hitamnya licin dan rapi, dipadu dengan kemeja putih dan dasi berwarna hitam motif bunga. Motif bunga di dasi itu berwarna sama, hitam. Dan hanya akan terlihat saat terkena cahaya dari kemiringan sudut tertentu. Elegant, dan nampak mahal. Rambutnya yang bergaya undercut tersisir sempurna. Sepatu pantofelnya mengilap terkena cahaya lampu. Tangan kanannya memegang mikrofon, sementara tangan kirinya menggenggam lembar susunan acara, dengan cover berwarna hitam doff dan tulisan MC Gino dengan tinta berwarna emas dan font yang artistic, tertulis di cover itu.

Tatapannya tenang. Penuh percaya diri. Ditariknya napas panjang sebelum mengucapkan kalimat pembuka.

Para tamu undangan langsung menoleh kagum.

“Yang terhormat kedua mempelai beserta keluarga besar…” suaranya mengalun berat dan berwibawa, memenuhi seluruh ruangan. “Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena di hari yang berbahagia ini kita semua dapat berkumpul, untuk menjadi saksi sebuah ikatan suci nan sakral…”

“MC-nya bagus banget, ya…” Seorang ibu berbisik kecil pada orang yang duduk di sampingnya.

Gino melanjutkan dengan senyum tipis yang elegan.

“Cinta bukan sekadar pertemuan dua insan. Ia adalah perjalanan panjang tentang kesetiaan… tentang menerima… dan tentang tumbuh bersama.”

Kata-katanya mengalir mulus. Tangannya bergerak luwes. Intonasinya naik turun sempurna. Ia benar-benar menguasai panggung itu.

Gino bisa merasakan semua mata memandang ke arahnya. Menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Dan seperti sebelum-sebelumnya, ia menjadi seseorang yang penting di acara itu. Sangat penting.

Musik perlahan mengecil. Lampu panggung menyorot wajahnya. Gino menarik napas pelan sebelum kembali membuka suara.

“Dan kini tibalah kita pada prosesi yang paling kita nantikan bersama…”

Tiba-tiba…

“AAAAA!”

Seorang anak kecil berlari kencang dari sisi ruangan.

Gino sempat melirik sekilas.

Anak itu tertawa sambil membawa balon panjang.

“Hei, hati-hati dek…” teriak seorang tamu.

Lalu.

BRAKKK!

Anak kecil itu tanpa sengaja menabrak meja bundar di dekat panggung. Sebuah dispenser sirup besar di atas meja oleng.

Gino membelalak.

“WOI! WOI! WOI…!”

BYUURRRR!

Cairan dingin langsung mengguyur wajah dan tubuhnya.

Gino tersentak keras.

Dingin. Basah. Lengket.

“Woy…, Ngomong sendiri. Kebiasaan!” omel emak sambil berkacak pinggang. Ember plastik merah masih di genggamannya.

Gino tersentak. Matanya yang sempat menutup beberapa detik, refleks terbuka. Air menetes dari rambutnya. Gino terdiam. Suara piano menghilang. Lampu kristal lenyap. Ballroom mewah itu berganti kamar yang berantakan dengan dinding berwarna krem kusam.

“Mana teriak-teriak kayak orang kesurupan!” teriak emak lagi yang masih berdiri di mulut pintu kamar Gino.

Gino mengusap wajahnya pelan. Cermin yang menggantung miring di dinding kamar, memantulkan wajahnya yang basah.

“Ah, Emak. Apa sih Mak? Orang lagi latihan juga,” Gino menggerutu.

“Latihan-latihan. Dari tadi gak berhenti-berhenti! Emak kira kesambet jin ti mana, maneh (kamu)!”

Gino meringis. Air kembali menetes dari ujung hidungnya.

“Mak, dikit lagi klimaks padahal tadi…”

“Klimaks apanya? Tuh anterkeun (anterin) kembang kol ke rumah Wak Darman sekarang. Buruan!”

Emak menunjuk dua kardus besar di dekat pintu. Gino langsung menoleh.

“Wak Darman yang lagi hajatan?”

“Iya. Dari tadi orang dapur nungguin!”

Gino buru-buru meletakkan gagang sapu yang sejak tadi cosplay jadi mic.

“Jangan bengong aja! Udah tua kerjaan ngayal terus.”

“Iya, iya, berangkat.”

Gino setengah berlari mengambil kardus itu sambil terus menggerutu.

“Jadi orang tua susah bener ngeliat anaknya lagi latihan,” gerutunya.

“Liatin aja kalo ntar uda jadi MC sukses.”

“Liatin apa, hah?” timpal Emak yang masih bisa mendengar gerutuan Gino.

“Orang mah seumuran kamu udah pada kerja. Pada sukses. Lihat tuh si Bono. Pergi ngerantau, pulang-pulang udah sukses,” gerutu Emak, sambil membuntuti di belakang Gino yang berjalan keluar rumah.

“Kamu, kerjaan cuma ngelamun terus tiap hari.”

Gino yang sudah sampai di ambang pintu, lalu membalik badan.

“Gino juga kan lagi berproses, Mak. Latihan ngomong tiap hari,” timpal Gino, tidak terima dengan ocehan emaknya di belakang dia.

“Berproses apaan? Kerjaan cuma ngehayal doang. Orang mah kerja yang bener.”

Gino cuma manyun mendengar ocehan yang sudah terlampau sering ia terima dari emaknya. Entah mengapa, sejak lulus SMA ia kurang berminat untuk bekerja. Selepas SMA ia pernah bekerja sekali di sebuah counter HP. Namun tidak berumur panjang. Setelah gajian pertama, ia tidak pernah balik lagi ke counter itu.

“Kenapa gak nyari kerja lagi? Emang kamu mau jadi apa?” tanya emak suatu hari setelah Gino kabur dari counter itu.

“Mau jadi MC, mak,” jawab Gino.

“Atau jadi penyiar radio. Atau apapun pekerjaan yang kerjanya cuma ngomong,” sambungnya.

Sebenarnya itu bukan kali pertama ia mengutarakan cita-citanya itu. Sejak SMA ia sudah sering bilang, ia ingin sekali menjadi MC.

Usut punya usut, ternyata keinginannya itu ke-trigger oleh penampilan satu kakak kelasnya yang sudah lulus, yang menjadi MC di kegiatan pentas seni di sekolahnya suatu hari. Entah apa yang dilihat Gino, yang jelas di matanya, penampilan kakak alumninya itu keren banget.

Lihat selengkapnya