SAAT Gino tiba di rumah Pak RT, matahari sudah mulai condong ke barat, namun masih menyisakan sinar yang sangat terik. Saat-saat menjelang Ashar di pertengahan bulan Juli, memang waktu ketika matahari masih keras-kerasnya bersinar.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak bermain bola di lapangan kecil dekat Pos Ronda. Memanfaatkan menit-menit akhir, sebelum mereka ‘diusir’ oleh orang-orang dewasa untuk bergantian main bola di lapangan itu.
Rumah Pak RT tampak sepi. Di teras hanya ada Bu RT dan pembantunya yang lagi nyabutin uban yang mulai bermunculan di rambut Bu RT.
“Asalamualaikum,” ucap Gino, berdiri di depan pintu pagar.
“Waalaikumsalam,” jawab Bu RT dan pembantunya bersamaan.
“Masuk aja. Gak dikunci,” kata Bu RT.
Mendengar itu, Gino lalu mendorong pitu pagar.
“Permisi, Bu. Bapak ada?” tanya Gino, agak membungkuk.
“Ada. Di belakang tuh. Lagi ngasih makan ikan. Masuk aja.”
“Hmmm, nggak apa-apa bu, langsung masuk?” ujar Gino, canggung.
“Gak apa-apa. Masuk aja. Kayak di rumah siapa aja kamu No,” Bu RT mempersilakan sekali lagi.
Memang, keluarga Pak RT itu, termasuk sekian orang di kampung itu yang rumahnya sangat terbuka untuk siapapun datang, masuk, dan berkumpul. Terutama anak-anak muda, sudah tidak canggung lagi keluar masuk rumah Pak RT, baik saat sedang ada kegiatan maupun tidak. Bahkan tu sudah biasa di saat ia belum terpilih menjadi RT.
“Izin masuk, Bu,” ujar Gino.
“Iya. Masuk aja gih. Ke belakang”
Gino masuk melalui teras pinggir rumah. Walaupun sebetulnya jika ia masuk melalui area ruang tamu, lalu tembus ke area makan dan dapur rumah Pak RT pun tidak masalah, namun Gino memilih untuk melipir ke sisi rumah.
Di teras belakang, Gino bisa melihat langsung Pak RT di taman bawah, di sisi empang. Ia pun bergegas turun melalui tangga yang undakannya terbuat dari batu-batu besar.
“Assalamualaikum, Pak RT,” ucap Gino, sambil menuruni tangga.
“Waalaikumsalam. Eh, Gino. Kirain siapa,” jawab Pak RT, begitu ia mendapati Gino yang mengucapkan salam tadi.
“Sini…sini,” sambung Pak RT.
Setelah mencium tangan Pak RT, Gino lalu mengambil posisi duduk di bangku plastik di samping Pak RT.
“Mau ngopi, No?” tanya Pak RT, sambil meletakkan plastik berisi pakan ikan.
“Nggak usah, Pak RT. Makasih.”
Pak RT mengangguk pelan.
“Aya perlu naon, No? Tumben siang-siang. Biasanya kalo ngumpul di sini malem, sambil ngeronda,” kali ini tangan Pak RT meraih koran di atas meja kecil di dekatnya, lalu digunakannya untuk mengipas-ngipas badannya yang kegerahan.
Gino menarik napas pendek. Sedikit gugup, meski wajahnya berusaha tetap santai.
“Ini Pak… Hmmm…, kan nanti Agustusan bakalan ada panggung malam kreasi lagi ya, Pak?”
“Oh iya. Kenapa?” sambut Pak RT.
“Kamu bagian tim sibuknya lagi kan?” sambungnya.
“Hmmm…, gini, Pak. Bisa gak, saya yang jadi MC nya, Pak?” Gino langsung to the point.
“Pengen nyoba, Pak.”
Pak RT berhenti mengipasi dirinya dengan koran bekas. Suasana seketika mendadak agak hening.
Seorang bapak yang sedari tadi luput dari perhatian Gino, yang tengah menyeruput kopi sambil merokok di sudut lain kolam, sampai menoleh ke arahnya.
Pak RT berkedip dua kali.
“MC?” ulangnya memastikan.
“Iya.”
Pak RT menatap Gino cukup lama.
“Hmmm…”
Wajah Gino mulai sedikit berbinar.
“Sebenernya sih bukan gak boleh ya, No…”
Nah. Kalimat itu. Gino langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Tapi…”
“Tapi apa, Pak?”
Pak RT terlihat berpikir keras mencari alasan.
“Soalnya tahun ini konsep acaranya semi formal.”
Gino mengernyit.
“Memang saya gak formal? Saya bisa Pak, dandan formal.”
“Bukan gitu.”
“Terus?”
Pak RT batuk kecil.
“Suara kamu tuh terlalu… bulat.”
“Bulat?” Gino bengong.
“Iya.”
“Emang suara bisa bulat?”
“Bisa atuh.”