SEMBARI berjalan pulang menyusuri jalan kampung yang lengang, Gino merogoh saku celananya. Diambilnya ponsel dari dalam saku. Beberapa detik ia hanya menatap layar tanpa ekspresi, sebelum akhirnya mencari nama Kemal di daftar kontak.
Tak lama, sambungan telepon tersambung.
“Halo Gin. Kenapa?” suara Kemal terdengar, bercampur dengan suara angin dan riak air sungai.
“Di mana lo?” tanya Gino.
“Masih di sini. Jembatan Kuning.”
“Belum pulang? Masih lama gak?”
“Iya. Kesini aja, lo.”
“Gila. Udah sore, Mal.”
“Masih seru Gin. Masih pada nyahut ini. Gacor banget. Hahaha…,”
“Yauda gua kesitu.”
“Iya.”
Telepon ditutup. Gino menghela napas pelan. Niatnya pulang mendadak urung. Kakinya berbalik arah menuju Kali Cijembar.
Dari pinggir kali, Gino bisa melihat Kemal masih asyik memainkan jorannya di bawah Jembatan Kuning. Sesekali ujung joran itu bergerak pelan mengikuti arus air yang mengalir tenang di sela batu-batu kali.
Gino terus menyusuri tepian sungai, lalu masuk ke area bawah jembatan. Tubuhnya harus sedikit membungkuk saat melewati bagian bawah besi jembatan yang rendah. Setelah itu ia melompat dari satu batu ke batu lain, sampai akhirnya mendarat di sebuah batu besar yang menjadi spot favoritnya setiap kali nongkrong di Kali Cijembar.
“Mantap gak?” ujar Kemal begitu Gino sudah sampai di dekatnya.
Kemal memberi kode dengan gerakan mata ke arah koja kecil di sampingnya—tempat ikan hasil pancingan disimpan, yang terbuat dari jaring— yang tampak penuh sesak oleh ikan-ikan wader yang masih bergerak liar. Bahkan ada dua ekor lele di dalamnya, yang membuat koja kecil itu tampak semakin sesak.
Gino tidak berkomentar. Ia langsung duduk, tidak lama lalu merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, menjadi alas kepalanya.
“Gimana? Uda ketemu Pak RT?" tanya Kemal, sambil terus merhatiin pelampung pancingannya yang mengambang di permukaan air.
Tidak mendapat respons dari Gino, ia lalu melirik ke sahabatnya itu.
“Kenapa, lo?” mengkerut banget tuh muka. Kayak tape dilempar ke tembok. Hehehe…,” ledeknya.
“Gagal,” jawab Gino, sambil menghembuskan napas.
“Gagal gimana? Acaranya juga belum. Kok uda gagal?”
“Yeee…, maksudnya gua gagal jadi MC. Gak diizinin ama Pak RT.”
“Si Om Joel? Gimana?”
“Sama. Gak ngizinin.”
“Yauda. Masih banyak acara laen. Lo bisa nyari acara di luar,” kata Kemal, sambil mengambil sebatang rokok, meletakan di mulut, lalu menyalakannya.