SELALU ada keceriaan dan keseruan yang berbeda hampir di setiap kampung, di minggu-minggu menjelang 17 Agustus. Tak terkecuali di kampung Cijembar, kampung tempat tinggal Gino. Beberapa perlombaan mulai digelar. Seperti catur, karambol, badminton, tenis meja, dan gapleh. Hampir setiap malam pos ronda dan lapangan kecil itu selalu ramai. Warga berkumpul hingga larut malam. Semua seperti mengambil perannya masing-masing.
Bapak-bapak dan anak muda berperan sebagai peserta lomba. Ibu-ibu sebagai tim hore. Supporter, yang sering kali berubah menjadi tim huru-hara. Berisik, dan kadang lebih ribut daripada peserta lombanya sendiri. Teriakan, protes, sampai debat receh soal skor pertandingan jadi hiburan tersendiri setiap malam.
Beberapa ibu yang baik dan suka berbagi, di momen-momen seperti itu selalu keluar dengan sepiring dua piring makanan ringan. Anak-anak berperan menjadi tim penggembira. Tidak ada suasana malam yang disukai anak-anak kampung melebihi malam-malam menjelang 17 Agustus. Mereka dibebaskan untuk keluar malam, bermain hingga larut, tanpa takut dimarahi orang tuanya. Anak-anak yang lain ada juga yang sibuk berlatih, mempersiapkan diri untuk tampil di acara malam kreasi seni di tanggal 17 Agustus.
Sementara itu para pemuda, terutama yang aktif di kampung, selalu berperan ganda. Ya sebagai peserta lomba, ya sebagai panitia. Mereka-mereka itu biasanya terlihat sibuk sekali. Bahkan kesibukannya sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum perlombaan itu digelar, dengan rapat-rapat persiapan.
Di tengah keramaian malam itu, ada satu orang yang nampak tidak terlalu bersemangat, Gino. Entah mengapa setiap ia melihat perlombaan apapun, yang selalu muncul di kepalanya adalah penolakan itu. Penolakan oleh Pak RT dan Joel untuk ia menjadi MC di acara malam kreasi.
Malam itu, di saat orang-orang sibuk menonton pertandingan gapleh dadn karambol, Gino justru melipir menjauh dari keramaian. Yang ditujunya adalah rumah Fury. Pacar sekampungnya.
Di depan rumah Fury, ia mengeluarkan ponselnya. Belum sempat ia memijit tombol call, Fury tiba-tiba keluar rumah.
“Eh, baru mau aku telpon,” ucap Gino.
“Ngapain telpon lagi. Kan uda bilang tadi mau ke sini,” jawab Fury, sambil duduk di kursi bambu teras rumahnya.
“Masuk.”
Gino pun melangkah masuk ke teras rumah Fury.
“Pada gak ada?” tanya Gino sambil celingukan melihat ke dalam rumah melalui kaca jendela.
“Cuma ada bapak.”
“Yang lain?”
“Ke pos ronda. Nonton pertandingan, apa tau.”
“Kamu gak keluar?” tanya Gino.
Fury menggerakkan bahu naik turun. “Nungguin bapak. Lagi sakit.”
“Kamu sendiri? Biasanya kan paling sibuk kalau acara-acara gini,” Fury balas bertanya.
“Nggak ah. Lagi males,” jawab Gino, sambil menyenderkan punggunya di kursi bambu, menimbulkan bunyi berderit di ruas-ruas kursi itu.
“Tumben. Kenapa?” Fury menunjukkan tatapan heran.
Gino balas menatapnya.
“Gak usah gitu ngeliatinnya. Gemes aku. Hehehe,” Gino cengengesan.
Fury malah mengerutkan jidatnya.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Males aja,” Gino kembali rebah di kursi bambu yang kembali mengeluarkan bunyi berderit.
“Aku pengen banget jadi MC acara malam kreasi nanti. Tapi ditolak,” ujar Gino, sambil matanya menatap kosong pohon mangga di depan rumah Fury.
“Ditolak siapa?”
“Pak RT.”
“Alasannya?”
Gino menggerakkan bahu naik turun. “Mana ku tahu.”
“Mungkin kamu lebih dibutuhkan di posisi lain,” kata Fury.
“Posisi apa?”
“Ya, mungkin bagian nyiapin acara. Atau bagian dekor panggung. Atau apalah.”
Gino hanya diam saja mendengar Fury bicara. Tatapannya masih lurus ke depan, ke arah pohon mangga yang berdiri tepat di pinggir jalan. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin malam. Dari kejauhan terdengar suara orang bersorak dari arah Pos Ronda. Sepertinya semakin malam pertandingan semakin seru.
Fury melirik Gino beberapa detik.
“Kamu tuh kalau lagi kepikiran sesuatu, mukanya keliatan banget,” katanya.
“Emang gimana?”
“Kayak orang abis ditinggal kawin.”
Gino terkekeh kecil.
“Lebay.”
“Serius.”
“Ya mau gimana lagi…” gumam Gino pelan. “Aku cuma pengen banget jadi MC.”