MC Ghaib

Galih Priatna
Chapter #5

BAGIAN 5

MALAM puncak peringatan tujuh belas Agustus akhirnya tiba.

Sejak selepas Isya, jalan-jalan kecil menuju lapangan dekat Pos Ronda mulai dipenuhi warga. Anak-anak berlarian, saling kejar dan bendera merah putih kecil. Ibu-ibu datang bergerombol memakai sweater tipis dan jilbab warna-warni. Bapak-bapak duduk-duduk santai sambil membawa kopi dalam gelas plastik. Motor berjajar panjang di pinggir jalan sampai ke depan musholla. Beberapa pemuda yang menjadi panitia terlihat sibuk mempersiapkan ini-itu.

Lapangan kecil yang biasanya hanya dipakai main bola kini berubah total. Di ujung lapangan berdiri sebuah panggung sederhana beralaskan papan kayu yang ditutup karpet merah. Yang membuat panggung itu terlihat megah adalah dekorasi bertemakan perjuangan, hasil kreasi pemuda-pemuda kampung. Siapapun yang melihat dekorasi itu tidak akan pernah mengira bahwa semua itu dibuat dari kertas koran dan kertas semen bekas. Sorot lighting warna-warni semakin menambah megah panggung itu. Di bagian belakang panggung tergantung kain backdrop besar bertuliskan: MALAM KREASI SENI PERAYAAN HUT RI KE-75.

Selain lampu yang menyorot ke panggung, suasana semakin meriah dengan hiasan lampu warna-warni di tengah lapangan, yang dipasang melintang dari tiang ke tiang. Lampu-lampu itu sesekali berkedip tidak beraturan. Speaker besar berdiri di kanan kiri panggung, mengeluarkan bunyi yang menggema dan dentuman suara bass yang serasa menghamtam ulu hati.

Aroma gorengan, kopi sachet, dan jajanan anak-anak dari stand-stand penjual yang berjajar di sisi lapangan, bercampur jadi satu di udara malam.

Gino berdiri agak jauh dari keramaian, dekat pohon jambu air di luar lapangan. Tangannya masuk ke saku hoodie hitam yang dikenakannya. Matanya terus menatap panggung. Perutnya terasa tidak nyaman sejak tadi. Bukan karena gugup. Tapi karena iri.

Tak lama kemudian musik pembuka diputar cukup keras. Lampu panggung menyala terang. Warga mulai bersorak kecil.

Lalu seseorang naik ke atas panggung sambil membawa mikrofon. Sahal. Pemuda kampung seumuran Gino, malam itu tampil sangat rapi. Jas hitam dipadukan kaos turtleneck putih membuatnya terlihat seperti presenter acara TV. Rambutnya klimis. Sepatu putihnya bersih mengilap terkena sorot lampu panggung.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!”

Suaranya langsung menggema memenuhi lapangan.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab warga serempak.

Sahal tersenyum lebar.

“Alhamdulillah… malam ini kita semua masih diberi kesehatan, diberi kebahagiaan, dan yang paling penting… diberi kuota internet untuk upload story Agustusan.”

Warga langsung tertawa. Beberapa anak muda bersiul ramai.

“Heeeh Sahal!” teriak seseorang dari belakang.

Sahal tertawa kecil. Santai. Tidak gugup sedikit pun.

“Selamat datang di malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke tujuh puluh lima!” lanjutnya penuh semangat. “Malam di mana kita semua berkumpul… bukan untuk nyicil pinjol… tapi untuk bersenang-senang bersama!”

Tawa kembali pecah.

Gino memperhatikan tanpa berkedip.

“Sial. Harusnya gua yang ada di situ,” gerutu Gino dalam hati.

“Garing banget lagi, jokes-nya,” gumamnya lagi.

Malam itu Sahal terlihat lancar sekali berbicara. Kata-demi kata terangkai menjadi kalimat yang indah. Diselingi candaan-candaan ringan yang kadang terdengar absurd, tapi tetap berbuah tawa penonton.

Ucapannya mampu menghipnotis penonton. Tangannya luwes bergerak. Intonasinya naik turun pas. Bahkan cara dia berjalan kecil di atas panggung terlihat sangat yakin dna percaya diri.

“Bapak-bapak ibu-ibu jangan tegang ya malam ini,” kata Sahal lagi. “Kalau ada yang belum dapet hadiah, tenang… hidup memang penuh ketidakadilan.”

Lihat selengkapnya