Ima seorang perempuan yang namanya di berikan oleh Rina datang dengan tenang tidak kabur. Ia menyerahkan diri malam itu, tapi dengan satu syarat: ceritanya harus di publikasikan.
Polisi datang, termasuk Ardi, rekan dekat Sena.
“Kita petugas hukum, Sena,” tegas Ardi. “Kita tidak bisa memilih keadilan mana yang ditegakkan.”
Sena menatap papan identifikasi korban yang masih berserakan di meja.
“Tapi hukum yang mana, Ardi? Yang melindungi pelaku pembantaian, atau yang menghukum pembunuh yang terluka?”
Ia tahu, jika Ima ditangkap diam-diam, sistem lama tetap bersih. Tapi jika ia membuka semuanya, akan ada kekacauan. Ima tidak meminta ampunan. Ia hanya ingin kebenaran diberi nama.
Sena menatap mata Ima terakhir kali sebelum ia dibawa.
“Aku akan memastikan dunia mendengar,” katanya.
Ima tersenyum, lirih:
“Itu saja yang kubutuhkan.”
Di malam itu, Sena menulis laporan resminya sendiri. Tapi di bawah catatan medis, ia tambahkan satu kalimat yang tidak diminta sistem:
“Operasi Rasius harus diinvestigasi penuh. Bukti forensik menunjukkan pola sistematis.”
Ia memilih jalan ketiga—bukan melindungi sistem, bukan menolak hukum—tapi membuka kebenaran kepada publik, apapun risikonya.
Kesaksian