Udara kering beraroma tanah garing seketika mengepung hidung kala kaki-kaki telanjang bergedebug saling balap. Langit gelap. Bocah-bocah itu lari kencang saat lewat jalanan desa nan lengang. Napas berpacu. Keringat keluar tanpa malu. Sarung disilangkan, dan rukuh dibuat menyerupai ninja putih yang berkibar-kibar. Mereka semua takut dicegat mayat seperti yang dikisahkan. Atau setan pengunyah mata dan otak anak-anak yang keliaran malam-malam. Tujuan mereka satu; rumah paling besar, paling terang, dan mungkin paling aman: rumah Ki Rekso!
Sekar menjadi yang pertama sampai di rumah Ki Rekso meski lawannya adalah laki-laki yang akan disunat minggu-minggu ini. Sudah biasa dia menjadi juara, tapi kawan laki-lakinya tak pernah ada satu pun yang mengakuinya. Bahkan, ketika Sekar berhasil menguras kelereng-kelereng mereka karena kalah, mereka tetap merasa nomor satu sebagai laki-laki yang punya kuasa dan boleh kencing berdiri.
Sekar juga tak mau ambil pusing, tapi dia akui yang terakhir memang benar. Dia pernah mencoba kencing berdiri seperti laki-laki pecundang yang kalah taruhan, tapi malah berakhir dengan tubuh berbau pesing. Dia lalu bersumpah tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Setelah melewati halaman luas rumah Ki Rekso dengan takjub, Sekar langsung dipersilakan masuk oleh para anggota keluarga Ki Rekso: perempuan-perempuan muda dengan wajah seperti bidadari. Mereka menunduk, tersenyum sedikit, dan tampak sangat cantik saat melayani. Salah satunya menyebut dirinya Maryamah.
Namun, Sekar heran, kenapa rumah gedong penuh cahaya milik Ki Rekso ini dipenuhi oleh banyak perempuan-perempuan muda?