Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #3

BAB 1. GOSONG

Perjalanan Sekar dimulai dari tahun 1983, kali pertama dia berani membenci satu laki-laki suci bernama Ki Rekso. Kala itu Sekar masih kelas lima Sekolah Dasar di satu-satunya sekolah yang berdiri di dekat kantor kecamatan. Sekar harus naik pit kebo bekasnya, hadiah dari Bapak yang sabar bertahun-tahun menyisihkan sebagian bayaran 80 rupiah tiap hari sebagai buruh sawah. Sepeda bekas tahun 1970-an itu dibeli Bapak dari kawan lamanya untuk Sekar yang menjadi juara kelas. Bapak memang selalu mengabulkan apa yang diinginkan Sekar. Ia adalah segalanya buat Sekar.

Setiap habis subuh, Sekar mengayuh sepedanya membelah hutan jati dan persawahan luas yang seperti tak pernah ada ujung milik Ki Rekso. Dusun Bumirekso memang dusun terpencil dan terkecil di desa Bumirejo, kecamatan Karangrejo. Jumlah keluarga pra-sejahtera paling besar. Letaknya tersuruk paling ujung dengan jalan berliku dan harus melalui hutan jati dulu. Dari tiga belas desa di kecamatan Karangrejo, Desa Bumirejo selalu menjadi yang terakhir mendapat bantuan atau informasi dari sang penguasa. Apalagi tempat tinggal Sekar berada di titik terjauh desa, bantuan yang ditunggu-tunggu pun terkadang tidak kunjung datang. Namun, mereka jarang mengeluh, bangga sekali kalau disebut kumpulan para ahli syukur.

Di tahun itu, ada yang ganjil.

Sekar sering melihat para laki-laki tegap, tinggi, dan gagah dengan seragam loreng gabungan warna cokelat, hijau, dan hitam muncul di kecamatan. Kata Pak Guru mereka adalah Angkatan Bersenjata yang masuk desa. Tentara-tentara itu juga ditugaskan oleh sang penguasa untuk ikut membantu para warga desa. Tugas mereka bertambah. Dari yang hanya fokus masalah keamanan negara, kini harus ikut berbaur dan lebih akrab dengan masyarakat. Mulai ikut mendirikan LKWD (Lembaga Ketahanan Warga Desa), mengenalkan listrik untuk beberapa dusun terpencil, memberikan teve bersama untuk warga, menyediakan koran dengan program SKMD (Surat Kabar Masuk Desa), hingga mewajibkan menonton siaran pedesaan ketika tayang. 

Namun anehnya, selama tentara-tentara itu ada di kecamatan, Sekar belum pernah melihat mereka sampai ke dusunnya. Selama ini, Ki Rekso-lah yang mewakili mereka. Jangan bayangkan Ki Rekso itu kakek-kakek berjenggot putih dan bertongkat kayu. Dia tak setua itu. Umurnya selisih 15 tahun dari Sekar.

Ki Rekso adalah sebutan Kepala Dusun Bumirekso yang memiliki sebagian besar tanah dusun sebagai penghormatan yang dituakan dan berilmu. Penyebutan ini telah melekat dari leluhur dusun yang juga keluarga Ki Rekso yang telah menjadi tulang-belulang di kuburan hutan perbatasan dusun. 

Sebagai kepala dusun, Ki Rekso memberikan informasi dari para laki-laki berseragam itu untuk disampaikan dalam khotbah-khotbahnya. Ki Rekso juga mendadak menjadi orang penting se-kecamatan saat dia masuk teve. Dia mengikuti lomba cerdas cermat tentang pertanian mewakili Desa Bumirejo yang rutin diadakan oleh sang penguasa yang membentuk kelompok DBP3 (Dengar, Baca, dan Pirsa dari Para Petani). Ki Rekso bahkan memiliki foto bersama sang penguasa yang sedang ingin-inginnya disebut Bapak Pembangunan.

Setelah lama menanti, dusun Sekar yang terpencil, yang sepi, yang miskin, yang seolah tak tersentuh ini, listrik akhirnya masuk juga. Bumirekso seperti dijajah oleh orang-orang berseragam. Tanah-tanah sisi jalan dusun yang penuh lubang itu digali. Tiang-tiang tinggi dipancang dengan kabel-kabel melintang jarang. Sekar heran. Bukannya menanam pohon, orang-orang ini justru sibuk menanam tiang. Dia serius menonton, sampai seorang petugas laki-laki berwajah masam mengancamnya akan mati kesetrum kalau dekat-dekat.

Sekar pikir, listrik itu untuk semua orang.

Ternyata itu adalah fasilitas hanya untuk warga yang bersedia mengeluarkan uang. Bagi warga yang buat makan saja susah, jangan harap bisa memensiunkan sentir di rumah mereka dengan listrik. Apalagi seperti Bapak yang hanya seorang kuli sawah atau Emak yang jualan jamu dari tanaman hutan perbatasan. Awalnya Sekar bisa terima dengan kenyataan itu. Namun, setelah tahu hanya rumahnya yang remang-remang, dia mulai sedikit tak tahu diri untuk meminta Bapak memasang listrik. Telinganya sungguh gatal mendengar semua teman-temannya di sekolah unjuk pamer kehebatan si listrik ini.

Tiap kali jam istirahat tiba di halaman sekolah, di bawah rimbun pohon beringin, anak-anak melingkar, saling memamerkan keajaiban baru yang mendadak hinggap di rumah mereka.

“Sekarang bengi wis jadi kayak siang. Padang!” ujar Siti yang sudah memasang listrik di rumahnya angkuh. Kakak Siti adalah istri Ki Rekso, Sekar yakin pasti rumahnya dapat bantuan cuma-cuma dari Ki Rekso.

“Iya, nggak usah lagi pakai minyak atau niup semprong,” balas Kumaeroh. Sama saja, kakak pertama Kumaeroh juga menjadi istri Ki Rekso dan tinggal di rumah gedongnya.

“Tinggal ceklek, langsung terang!” Supri, satu-satunya laki-laki yang ada di lingkaaran itu dengan kemayu menimpali, membuat Sekar makin ingin juga merasakan keajaiban itu. Apalagi, ujung hidung Sekar akan berakhir menghitam tiap setelah belajar karena asap sentirnya menempel jika terlalu dekat.

Supri lalu melanjutkan bercerita betapa hebatnya bola kaca ajaib bernama bohlam yang tergantung di blandar rumahnya. Katanya, kaca itu bisa memancarkan cahaya kuning terang benderang tanpa takut padam ditiup angin, sampai-sampai ia bisa melihat cicak yang sedang kawin atau menghitung jumlah nyamuk di papan  kamar saat tengah malam.

Lihat selengkapnya