Rumah itu sunyi. Seperti halnya makam setelah mayat dikuburkan dan orang-orang pergi menghilang. Setidaknya itu melegakan bagi Sekar, karena gunjingan-gunjingan tetangga tak lagi terdengar.
Ki Rekso mencela bagaimana kematian menjemput Bapak. Katanya, Bapak mati dengan buruk. Mati dalam kondisi maling. Mau itu demi anak, demi istri, demi apa pun, maling tetaplah maling, pendosa dan hina! Sudah maling, anaknya juga tidak pernah belajar ilmu agama. Tidak bisa mendoakan orang tuanya. Lantas, apa yang diharapkan dari anak seperti itu? Hanya membawa sial bahkan sampai ajal.
Mata runcing Sekar berubah menyipit seperti hanya garis tajam karena tak henti-hentinya menangis. Benarkah apa yang dikatakan Ki Rekso tentangnya? Kalau saja dia tidak ngotot minta dipasang listrik, Bapak pasti masih bernapas dan tidak disebut maling.
Kematian Bapak menjadi hantaman keras bagi Sekar. Rumah pertamanya seolah telah runtuh bersama tubuh gosong Bapak, lebih-lebih tuduhan-tuduhan yang harus dia terima.
Setelah menyalahkan diri, Sekar mulai belajar membenci dirinya sendiri. Rasanya dadanya sesak, ada sesuatu di dalam sana yang menusuk-nusuk hingga dia ingin menangis saja. Rambutnya yang lebat dan ikal berantakan meski ditutup selendang saat pemakaman. Telinganya yang besar, yang dikatakan pembawa kepintaran, sudah seperti terbakar dengan tuduhan dan kasak-kusuk tak mendasar orang-orang. Wajah kotak berahang keras itu seperti kehilangan aura keberanian. Bibir penuhnya yang menyerupai waru itu terus bergetar, ingin keras-keras menyuruh orang-orang diam dan berteriak lantang, "Kalian nggak kenal Bapak!" Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia masih dianggap anak-anak, dan juga dilihatnya Emak justru berdiri tegar seolah menerima semua tuduhan tanpa air mata.
Benarkah Emak menerimanya? Kenapa Emak tidak melawan Ki Rekso?
Apa karena dia penguasa?
Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya hanya bisa Sekar telan.
Kini tinggal Sekar dan Emak yang berada di rumah apak itu. Alas tanah yang mulai merekah karena panas, menyisakan hiasan mayat Bapak berupa bulir-bulir potongan bunga yang Emak petik sendiri di hutan batas desa. Tidak ada mawar, melati, atau kamboja. Hanya bunga-bunga liar apa saja yang bisa dibawa Emak pulang untuk jamu, kini digunakan Emak sebagai pelengkap pemakaman Bapak yang penuh dengan suara sumbang. Mungkin orang-orang datang melayat tidak ingin benar-benar mendoakan. Mereka penasaran ingin melihat: bagaimana akhir hidup orang yang maling listrik dengan seluruh tubuh gosong terbakar? Tubuh kaku hitam Bapak justru seperti penghiburan bagi mereka untuk terlihat lebih baik, lebih suci, dan lebih berhak atas surga Ilahi.
“Aku nggak pembawa sial kan, Mak?” tanya Sekar seolah tahu kata-kata tajam Ki Rekso tadi tak hanya melukainya, tapi juga telah merobek perasaan emaknya.
Sekar memang sengaja berhenti belajar ilmu agama di rumah gedong itu karena perutnya terus saja terasa mual saat berdekatan dengan Ki Rekso. Dia sangat tersiksa menahan isi perutnya agar tidak keluar. Sekar masih tahu bagaimana adab manusia berada di depan kitab suci. Kalau dia muntah? Bisa tambah dosa, kan?! Namun, bagi warga dusun Bumirekso, berhenti belajar ilmu agama di rumah Ki Rekso adalah aib dan Sekar sudah lama menanggungnya.
Tidak mendapat jawaban Emak, Sekar mengajukan pertanyaan lagi.
“Mak, apa benar Bapak masuk neraka? Dibakar api di sana? Makanya tubuhnya gosong?” repet Sekar masih terngiang-ngiang kata-kata buruk Ki Rekso.
Rasa bersalah kembali menjalari tubuhnya. Dia bahkan tidak tahu tepatnya apa yang sedang dirasakannya sekarang. Kehilangan orang yang disayang ternyata semenyakitkan ini. Apalagi masih harus mendengar orang lain menjelek-jelekkannya.
“Mak?” panggil Sekar tak sabar menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
Dia duduk di lincak kayu, mengamati wajah Emak yang layu dan kuyu. Di tempat mereka biasanya menandaskan nasi sambal yang dilumuri jelantah berjamaah, Sekar menatap lekat-lekat mata merah Emak yang penuh amarah dan dendam, mata yang baru kali ini Sekar lihat, mata yang bisa membunuh siapa saja yang ada di depannya.
“Maafin Sekar, Mak,” Sekar khawatir menyaksikan Emak seperti ini. Dia mulai terisak. Pundaknya bergetar. Namun, Emak langsung memeluknya erat-erat. Emak berujar lirih dan berulang-ulang.