Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #5

BAB 3. HUTAN

Hutan itu disebut rumah mayat. Banyak cerita menyeramkan tentang hutan batas dusun Bumirekso. Di sana pernah ditemukan mayat dua pasangan muda-mudi membiru telanjang. Polisi menetapkan bahwa dua pasangan yang diduga sedang memadu kasih itu terserang bisa ular liar. Ditemukan bekas gigitan sejenis ular hijau berbuntut merah yang membiru dan membengkak. Mayat kaku di titik itu dan meluas hingga area jantung. Satu dusun gempar. Sebab, mayat perempuan yang ditemukan itu adalah salah satu istri Ki Rekso.

Kabarnya, salah satu istri Ki Rekso itu sudah tidak perawan saat dinikahi Ki Rekso. Belum ada satu minggu, perempuan malang itu mati dengan laki-laki peliharaannya di lain desa. Tidak ada bekas serangan atau perlawanan. Polisi telah memutuskan bahwa mereka mati karena bisa ular di kuburan hutan milik leluhur Ki Rekso.

“Ki Rekso kan cuma nikahi perawan po janda!” bisik salah satu warga dusun Bumirekso di depan mayat telanjang yang kini ditutup oleh daun pisang di kuburan leluhur Ki Rekso. 

“Pasti leluhurnya nggak terima. Ini azab karena ngapusi Ki Rekso!” timpal warga lainnya dengan fasih dan bibir yang meleyot ke kanan ke kiri.

Pernah juga ada kejadian seseorang warga dusun tewas setelah muntah-muntah hebat, kliyengan, sesak napas, dan pingsan. Satu keluarga mengalami keluhan yang sama. Keringat dingin membanjir hebat disertai dengan rasa nyeri di perut dan ulu hati, lalu kesulitan bernapas. Satu orang terlambat untuk ditolong. Untungnya, Ki Rekso berhasil menyelamatkan anggota keluarga lain. Setelah diperiksa ternyata mereka mengalami keluhan-keluhan itu setelah tiga jam memakan pepes jamur yang ditemukan di makam hutan perbatasan. 

Jamur itu berbentuk gada Dewa Hanoman dengan semacam insang di bawah tudungnya. Saat masih kecil jamur itu tumbuh seperti cincin. Nenek Sekar menyebutnya cincin tunggon. Nenek hanya mengatakan mereka harus hati-hati dengan cincin tunggon. Itu milik penunggu hutan, jangan dimakan. 

Hutan batas dusun itu memang menyimpan banyak cerita menyeramkan. 

Orang tua bercerita kepada anak-anak mereka bahwa hutan itu adalah rumah mayat seperti yang dikisahkan tetua. Sekar tidak berkomentar saat teman laki-lakinya menceritakan ulang kisah dari bapak, ibu, kakek, nenek, buyut, udek-udek siwur, hingga bahkan sampai moyang itu. Sekar tidak benar-benar percaya. Ya, memang hutan itu kuburan keluarga Ki Rekso, jadi apa salahnya disebut rumah mayat? Sekar justru lebih takut saat mendengar cerita bahwa di sana juga tinggal setan pengunyah mata dan otak anak-anak yang keliaran malam-malam. Jadi, untuk menyelamatkan otaknya yang pintar dan matanya yang tajam, Sekar hanya berani bermain ke hutan sampai sebelum matahari terbenam. Walau kata Emak, setan lebih suka memakan dosa manusia dibanding mata dan kepalanya! 

Sebenarnya, tanah luas yang rimbun dengan pepohonan tua itu adalah milik sesepuh Ki Rekso. Warisan turun temurun yang haram untuk diolah atau ditanam jati seperti tanah-tanah lain milik Ki Rekso lain, atau didirikan bangunan rumah. Banyak orang percaya bahwa dulu nenek moyang Ki Rekso menganut aliran sesat. Ada kejanggalan yang remang-remang dirasakan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang hidup di tempat itu di masa lalu.

Konon, Moyang Ki Rekso, Mbah Rekso, adalah pembabat hutan dusun Bumirekso. Orang pertama yang menemukan dan meninggali tanah dusun. Sebagian besar tanah itu pun dikuasai. Namun, nahasnya, dia sulit mendapatkan keturunan. Dia hanya bisa memiliki satu. Begitu pula keturunan-keturunan di bawahnya. Semua garis keturunannya hanya mempunyai satu anak atau tidak sama sekali. Anehnya, walau mereka mempunyai banyak istri dan terus memperbanyak istri, tapi keturunan yang mereka inginkan tetap tak kunjung datang. Hingga jumlah keturunan Mbah Rekso tak sebanding dengan jumlah harta yang dimilikinya. 

Lihat selengkapnya