Sekar memasuki hutan perbatasan dengan rasa takut. Bukan, bukan karena dia sedang berada di kuburan keluarga Ki Rekso, atau masuk ke sarang ular, atau lutung, atau binatang apa pun. Sekar takut karena telah menyentuh ramuan bunga rahasia milik Emak.
Alas kaki Sekar dilepas, saat dua Beringin besar di bibir hutan dengan akar bergelantungan yang menyerupai rambut-rambut raksasa itu seolah menatapnya. Dua pohon tinggi di depan ini seperti penjaga yang memiliki mata, mengingatkan siapa saja untuk melepas alas kaki, dan jangan berani-berani melakukan hal-hal buruk di dalam sini. Mereka juga mengapit jalan masuk satu-satunya di hutan perbatasan.
Nyanyian berbagai macam burung menyapa Sekar. Mereka terdengar nyaring, kompak saling menunggu giliran. Kicauannya acak, tapi nyaman dan bisa dinikmati. Burung-burung itu seakan ingin memberikan ketenangan kepada Sekar yang berjalan di antara pohon-pohon puspa menjulang. Aroma bunga puspa menguar dari pintu hutan seperti sapaan selamat datang. Emak pernah bilang bahwa pohon puspa disebut melati hutan karena memiliki bunga putih yang wangi. Di musim hujan, bayi-bayi daun pohon puspa akan lahir kemerahan, kontras dengan daun-daun dewasa yang hijau pekat.
Setelah berjalan semakin dalam, samar-samar aroma bunga puspa memudar dan tergantikan dengan wangi bunga lain. Sekar tanpa sadar tersenyum karena mulai mencium aroma yang selalu dia rindukan, wangi kamboja tua di pemakaman leluhur Ki Rekso.
Di antara pohon-pohon lerak dan nagasari Sekar mengikuti belaian wangi itu. Harum kamboja liar membungkus tubuh kecil Sekar untuk masuk lebih dalam ke hutan. Sekar melewati jalan setapak sempit sekitar empat jengkal tangan Bapak. Satu-satunya jalan yang terbentuk alami karena sering diinjak dan dilewati, jalan yang langsung menuju kuburan keluarga Ki Rekso yang penuh sesajen.
Sekar pun sampai di tempat ternyamannya untuk sendiri dan menyepi. Batang tubuh berurat milik pohon kamboja raksasa kini berada di depannya. Batangnya kokoh meski tamKi Rekso. Banyak rongga dan benjolan seperti bisul besar dengan ranting-ranting meliuk yang tampak mirip lengan. Sebagian akarnya yang sebesar kaki tua tampak keriput berkelindan satu sama lain mencungul di atas permukaan tanah. Aroma dupa di cawan sesajen bercampur dengan wangi bunga kamboja, seolah membelai lembut Sekar. Di rongga batangnya yang kasar dan tampak sangat tua itulah Sekar selalu duduk menenangkan diri.
Sambil duduk mendengarkan cicitan merdu burung dan menyesap aroma wangi dupa dan bunga pohon, Sekar kembali mengulang apa yang baru saja terjadi.
Setelah memuntahkan semua isi perutnya karena ketakutan kedatangan Ki Rekso, Sekar menjadi sangat kehausan. Mulutnya pahit dan amis. Dia butuh minum segera. Ketika Emak pergi dari dapur dan masuk ke kamar, Sekar buru-buru meraih kendi air minum. Namun, nahasnya, dia menyenggol ramuan bunga yang Emak tumbuk dan menumpahkan setengah dari isinya.
Sekar takut.
Dia tahu bunga itu sangat berharga bagi Emak, dan dia tidak ingin Emak kembali menggila saat seperti dia kali pertama ingin menyentuh bunga itu. Dengan cemas dan buru-buru, Sekar pun membersihkan tumpahan air bunga itu dengan kain. Setelah bersih, dia keluar dari pintu belakang, dan pergi ke hutan perbatasan. Sekar benar-benar takut dengan amukan Emak karena telah menumpahkan teh dari bunga-bunga yang selama ini mengembalikan semangat kehidupannya.
Di rongga batang kamboja yang tumbuh subur di tanah kuburan leluhur, tanpa sadar Sekar tertidur. Angin yang datang dan mengelus-elus rambut ikalnya mengantarkan Sekar dalam alam mimpi. Dia bahkan tidak yakin itu nyata atau mimpi. Dia hanya merasa telah berhasil membunuh Ki Rekso dengan bantuan setan hitam. Darah segar Ki Rekso muncrat nyata tepat di wajahnya. Merah. Gelap. Anyir. Sekar seketika memuntahkan isi perutnya ketika cipratan darah Ki Rekso terasa sampai masuk ke mulutnya.
Sekar langsung terbelalak bangun. Napasnya terengah-engah. Keringat mengalir deras. Dia memegang dadanya sendiri bertanya-tanya kenapa mimpi buruk itu datang lagi?
Sekar pun lekas pergi dari kuburan karena langit sudah semerah darah. Dia berlari keluar karena hutan semakin redup dan kelam. Suara-suara hewan malam sudah mulai terdengar, mendorong Sekar menambah kecepatan. Saking takutnya dia sampai lupa mengambil alas kakinya dan pergi begitu saja menuju rumah. Namun, ada yang ganjil. Saat masuk ke jalan utama dusun, tatapan mata benci menyerbunya. Kata-kata kasar dan bisikan terdengar samar-samar seperti di waktu pemakaman Bapak.
“Dasar anak pembawa sial!”
“Anak Setan!”
Lalu nama Emak pun dibawa-bawa yang katanya gila karena dirinya. Sekar tidak paham, tapi dia tahu Emak pasti sedang tidak baik-baik saja.
Sejak peristiwa itu, Ki Rekso tak pernah lagi datang, dan Sekar yang semakin sering menyepi di hutan semakin disebut anak perempuan pembawa sial. Apalagi, dia menolak ritual penyucen, ritual mandi yang dipimpin oleh Ki Rekso agar nasib buruknya tak menulari warga. Sekar lebih baik mati daripada harus dimandikan oleh laki-laki mengerikan itu. Lagian, kesialannya bukan penyakit menular!
*