Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #7

BAB 5. TARUHAN

Kira-kira, bagaimana nasib perempuan miskin yatim piatu di kampung penuh tipu-tipu dengan trauma dan mimpi buruk setiap waktu? Ah, Sekar tak ingin muluk-muluk mencari jawaban atas pertanyaan yang terus saja mencuat di kepalanya itu. Apalagi hari yang disebut para perempuan desa ini dengan hari kotor akhirnya telah datang kepadanya. Dia tidak merasa kotor dan berubah menjadi kotor. Namun, kini dia hanya bukan lagi anak-anak, melainkan menjadi perempuan seutuhnya yang dianggap telah masak. Sekar membenci kata dirinya sedang kotor hanya karena dia menstruasi.

Tubuh Sekar mulai tumbuh mekar di usianya yang ketujuh belas. Gadis itu kini sudah menjadi perempuan ranum yang penuh lekukan. Rambutnya yang hitam legam bergelombang selalu digelung agar tidak mengganggu pandangan saat bekerja. Kulitnya halus, berwarna sawo matang karena sering terbakar matahari dari pagi hingga siang, atau hingga sore, tergantung pemilik sawah mempekerjakannya. Wajah kanak-kanak cerdik yang dulu, seolah melebur menjadi perempuan yang kuat dan teguh. Aturan-aturan leluhur sebagai perempuan pun mulai menjeratnya. Namun, Sekar tidak mau dibelenggu di kasur, sumur, dan dapur. Terserah orang mengatakan apa, Sekar hanya ingin tetap bisa hidup bebas.

Satu-satunya yang membuatnya masih diterima sebagai perempuan di dusunnya adalah dia tak melanjutkan sekolah. Selain dilarang bekerja, aturan warga dusun ini adalah perempuan juga tidak baik sekolah tinggi-tinggi. Akan tetapi, Sekar berhenti sekolah bukan karena dia menerima aturan yang ditetapkan leluhur (dari keluarga Ki Rekso yang dikubur di hutan perbatasan). Bukan juga karena dia menerima konsepsi bahwa hidup perempuan hanya untuk di kasur, sumur, dan dapur. Melainkan lebih karena dia benar-benar tidak punya biaya untuk sekolah. 

Jangankan untuk sekolah, buat makan besok saja susah. Harta satu-satunya yang Sekar punya hanya gubuk sempit peninggalan Bapak dengan sumur (yang konon katanya keramat) di dalamnya. Itu pun sempat diincar oleh keluarga jauh untuk dijual sebagai syarat merawatnya. Sekar pun memilih hidup sendiri.

Menjadi kuli sawah adalah jawaban paling sempurna bagi hidup sendiri Sekar. Apalagi, majikan Emak dulu menerimanya tanpa syarat. Mereka juga tidak keberatan dia bekerja di ladang-ladangnya bersama para pria. Walaupun itu melanggar aturan tak tertulis, dan banyak ditentang orang seperti halnya Emak dulu. Sekar paham, menjadi kuli tidak masuk dalam tiga tempat perempuan. Padahal, kalau orang sedikit mau berpikir, mau masak, nyuci, atau bergumul dengan laki-laki, bisa saja dilakukan di sawah, kan? Tak perlu harus melilit perempuan dengan penjara kasur, sumur, dapur yang tak masuk akal itu. 

“Kamu jangan ikut jejak emakmu, Kar,” kata Ki Rekso tampak cemas, peduli akan nasib Sekar.

Setelah tujuh hari kematian Emak, Ki Rekso kembali datang malam itu. Sebagai kepala dusun, dia wajib memantau warganya. Apalagi status Sekar adalah gadis remaja yang sudah tak berbapak-ibu. 

“Apa kamu nggak takut dengan semua kawan laki-lakimu di sawah? Bapak cuma ingin melindungimu,” mohon Ki Rekso duduk di kursi tamu.

Namun, Sekar tidak bisa lagi ditipu. Dia tahu, mata Ki Rekso yang kecil dan teduh itu bisa mendadak berubah sangat tajam dan kejam. Wajahnya memang putih bersih dan rupawan, tampak berwibawa dengan goresan lembut keriput karena sudah masuk umur empat puluh. Dengan kumis dan jenggotnya yang tipis dan terawat itu membuatnya semakin tampak bijaksana. Bibirnya merah, mudah merekah saat tersenyum, dan dari sanalah keluar suara rendahnya yang empuk. Ketika berkata-kata, orang yang mendengarkannya akan merasa nyaman. Terkadang suara itu lembut, tak jarang juga akan berubah terdengar tegas. Ki Rekso adalah sosok yang dicintai banyak orang. Namun, dengan segala kelebihan dan daya tarik Ki Rekso itu, Sekar dengan mati-matian menahan mual. Wangi aroma tubuhnya seperti masuk melalui hidung, mengumpul, membesar, dan terus bercokol di lambung. Sekar sampai menelan lagi apa yang seharusnya dimuntahkan. Dia terus mencoba menguasai diri. Dia menelan ludahnya lagi, mengambil napas, dan mengeluarkannya kasar. Namun sialnya, tubuhnya masih saja bergetar.

“Ki Rekso bukan bapak saya, jadi tidak perlu susah payah berbuat baik kepada saya,” jawab Sekar cepat sambil berusaha menyibukkan diri dengan membakar daun serai kering untuk mengusir nyamuk.

“Tapi, kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan bilang,” ujar Ki Rekso, seolah memiliki tugas suci merawat anak yatim piatu. “Masih ada banyak waktu untuk mengambil keputusan,” pungkasnya lalu beranjak dari kursi kayu dan meninggalkan Sekar sendirian.

Embusan napas kelegaan keluar dengan berat. Entah kenapa Sekar menjadi terengah-engah. 

Kepergian Ki Rekso dari rumahnya malam itu ternyata hanya sebuah awal. Sebagai yatim piatu dan hidup sendiri, Sekar dijadikan inspirasi ceramah Ki Rekso. Jelas, situasi itu menguntungkan bagi laki-laki itu. Kebaikan akan mudah tampak dan dilihat dengan sasaran seorang perempuan menderita, kurang kasih sayang, sendirian, dan pembawa sial yang menolak ritual dan belajar agama. Nama Ki Rekso pun akan semakin harum semerbak mewangi bagai kasturi dan dikenal sebagai orang suci yang sanggup memaafkan Sekar, anak perempuan yang berkhianat saat pemilu. Bahkan, Sekar juga mulai dipaksa untuk menjadi istrinya melalui sindiran-sindiran di pelajaran ilmu agama. 

Berkedok ingin melindungi dan menjadi rumah baginya, membuat Ki Rekso seperti pahlawan, dan Sekar yang menolaknya akan menjadi anak tak tahu diuntung! Sekar tak bisa berbuat apa-apa. Melawan Ki Rekso di dusun ini sama saja meminta dia untuk diasingkan, disudutkan, dan parahnya tidak akan mendapat pekerjaan. 

Awalnya, semua berjalan baik-baik saja. Namun, setelah para pemilik sawah dusun kompak tak lagi memberinya pekerjaan, Sekar mulai memikirkan hal ini dengan serius. Ternyata tidak cukup menghadapi Ki Rekso hanya dengan diam. 

Berhari-hari, Sekar hanya memakan goking yang dikukus karena beras sudah tak tersisa di gentong. Sekar juga memakan segala jenis umbi-umbian dari hutan perbatasan, asal tetap kenyang meski beras selalu dikirimkan Ki Rekso sebagai amal. Sekar tak sanggup memakan pemberiannya. Jangankan untuk memakan, melihat itu dari Ki Rekso saja, Sekar muak. Dia justru terus memikirkan bagaimana cara untuk melawannya dan lepas dari paksaan menikah yang semakin hari semakin mengimpitnya.

“Ki Rekso nikahi perawan-perawan itu karena dia peduli dengan masa depan mereka.” Pendapat salah satu Ibu yang anaknya dinikahi siri oleh Ki Rekso. “Dengan menjadi istri, dunia dan akhirat mereka wis terjamin. Hidup makmur,” lanjutnya dengan bangga kepada Ibu-ibu yang sedang berkumpul. 

Sumur adalah panggung bagi mereka. Sambil mencuci mereka menampilkan dirinya yang paling sempurna. Di sumur, Ibu-ibu akan memperlihatkan kebahagiaan rumah tangganya. Harta yang dimilikinya, dan hal-hal yang bisa dibanggakan lainnya. Anehnya, mereka tak pernah membanggakan diri mereka sendiri, tetapi para suami; Laki-laki!

Lihat selengkapnya