Preman tak ingin dipanggil nama. Katanya, dia benci dengan nama yang diberikan oleh bapak dan ibunya yang tak bertanggung jawab. Perlu diluruskan, sesungguhnya Preman tidak membenci namanya. Dia hanya benci orang yang memberikan nama itu. Gara-gara ditinggal kedua orang tuanya, entah sengaja atau tidak, Preman hidup bersama neneknya. Namun, belum sempat beranjak dewasa, Mbah Uti, satu-satunya keluarganya itu meninggal karena penyakit gula. Preman lalu hidup sendiri sebatang kara setelah dengan tabah berbulan-bulan merawat dan menghirup bau busuk luka basah Mbah Uti.
Dia tak pernah protes merawat Mbah Uti. Dengan sungguh-sungguh, Preman memandikan, menceboki, memakaikan popok kain, baju, dan menyuapi bubur encer yang lebih banyak airnya ketimbang berasnya kepada Mbah Uti setiap hari. Dia tak pernah bosan, karena setiap bertemu, Mbah Uti akan banyak dongeng yang Preman dengar. Cerita aneh yang tak pernah dia dapatkan.
Terkadang Mbah Uti dengan pelan dan lembut menceritakan tentang perang antara Pandawa dan Kurawa. Lain hari, dia bisa bercerita tentang gajah. Terkadang, Mbah Uti bercerita tentang pohon besar yang berdaun nyawa-nyawa manusia. Masih banyak lagi hal aneh yang Preman dengar dari cerita Mbah Uti.
“Pohon itu berada di Sasvata. Setiap daun itu jatuh, satu manusia mati. Ketika terjadi perang, pohon itu akan meranggas. Seperti telah terjadi bencana kekeringan.”
“Apa pohon itu bisa mati, Mbah?” tanya Preman waktu itu.
Mbah Uti mengangguk yakin. “Jika semua daunnya telah jatuh.”
Pernah juga, Mbah Uti bercerita tentang cerita-cerita gelap di desanya dulu. Cerita yang terus dituturkan dari orang-orang terdahulu agar tidak dilupakan.
Uti pernah bercerita tentang penembakan massal orang-orang bertato. Orang-orang bertato mendadak hilang, dan beberapa hari kemudian ditemukan di kali mati di dusun sebelah dengan luka tembak dan telah tak bernyawa.
“Sejak saat itu, para preman di kampung ini bersusah payah menghapus tatonya,” ujar Mbah Uti.
“Aku nggak takut, Mbah. Aku Preman, jadi harus bertato, biar seram!” jawab Preman yang justru semakin ingin memperbanyak tatonya setelah mendengar cerita Mbah Uti.
Selain itu, Preman juga mendengar cerita tentang teror tekekan malam hari di kampungnya dulu dari mulut Mbah Uti yang bacin. Katanya, saat itu orang bisa saja dicekik sampai mati oleh orang entah setan. Kocaknya, tekekan itu tidak bisa dihalau dengan doa-doa, tapi dengan tidur di tanah lapang seperti hewan dengan senjata arit dan palu di sampingnya.
Lantas, adakah cerita Mbah Uti yang paling Preman sukai?
Ya, ada satu cerita Mbah Uti yang membuatnya terharu. Cerita sederhana tentang anjing setia tentara Nippon yang selalu menunggu majikannya pulang di stasiun kereta. Padahal, majikannya itu telah mati lama setelah perang. Dan akhirnya anjing itu pun mati tua di saat menunggu majikannya. Preman menangis saat mendengar cerita itu, dia lalu bertanya, “Apakah arwah si anjing akhirnya bertemu dengan tuannya?”
Namun, Mbah Uti tak menjawab.
Preman lantas berjanji kelak jika punya anak, dia tidak akan sejahat orang tuanya. Dia akan menjadi Bapak seperti anjing prajurit Nippon yang setia. Walaupun dia hanya mengandalkan penghasilan sebagai preman pasar agar tidak mati.
“Kapan aku mati?” tanya Preman kepada dirinya sendiri setelah berbulan-bulan tidak berani keluar rumah Sekar setelah resmi menjadi suami. Sungguh, rasanya aneh. Dia seperti diikuti ajal. Saat ingin bekerja, mencopet di pasar, dia takut ajal tiba-tiba datang dan menebas nyawanya. Mungkin dengan banyak skenario. Barangkali dia akan ketahuan dan digebukin orang-orang. Atau kesialan absurd lainnya seperti kesandung, kejungkal, lalu ketabrak truk pengangkut beras pasar.
Memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu membuat Preman tak pernah bisa tenang. Menikahi Sekar benar-benar seperti siksaan dan hukuman. Dia sampai hampir gila dan ingin membunuh Sekar, agar dia bisa terbebas dari ketakutan menyakitkan itu.
“Kalau kamu mati, nggak ada kesialan lagi!” teriak Preman mengamuk, saat oplosan merendam otak dan pikirannya.
Interaksi mereka sehari-hari dibendung oleh jarak yang ganjil. Saat pikiran Preman jernih, dia memandang Sekar seperti melihat mayat bernapas. Dia takut, waspada, dan bersikap seolah istrinya adalah hantu yang bisa mencabut nyawanya jika didekati. Namun, ketika oplosan dan ciu mulai merendam otaknya, alkohol berubah menjadi perisai gaib. Dalam benak mabuknya, rasa takut akan kutukan Sekar lebur oleh berahi dan amarah yang menuntut penyaluran. Di kepalanya yang teler, Preman merasa kebal dari segala jenis kesialan.
Lalu dia akan mendekati Sekar dengan frustrasi dan ingin membuktikan bahwa dia masih memegang kuasa. Menyiksa dan menyetubuhi Sekar adalah caranya menutupi rasa kerdil akibat kalah taruhan.
Sekar sendiri tidak pernah menolak secara drastis. Bagi Sekar, ini adalah kalkulasi bertahan hidup. Sentuhan kasar Preman yang telanjang bulat dan meninggalkan lebam, jauh lebih sanggup dia tanggung ketimbang rabaan halus Ki Rekso yang berbau wangi kasturi tapi membuat lambungnya mual setengah mati. Preman adalah musuh yang terbuka, tidak punya topeng, dan gampang ditaklukkan hanya dengan gertakan kata-kata. Sekar tahu cara mengendalikan laki-laki ini.
“Kamu salah kalau dengan menyiksaku seperti ini kamu bisa hidup lega. Justru sebaliknya!” ancam Sekar selalu punya cara untuk memukul balik suaminya.
“Di rumah aku bosan!” bentak Preman. “Dan kamulah tempat yang aman buat penyaluran emosiku,” akunya sambil tersenyum sinting di bawah pengaruh alkohol.
Sekar mendelik menantang, tak sedikit pun memperlihatkan raut takut.
“Apa kamu nggak takut mati cepet kalau menyiksaku?”
“Mau kupukul lagi kamu?!”
Preman merasa paling berkuasa setelah menjual rumah neneknya kepada Ki Rekso. Uang yang dihasilkan dari menjual harta satu-satunya itu digunakan untuk hidup barunya dengan Sekar. Dalam hati, dia sedikit bersyukur terbebas dari bau nanah dan darah busuk bekas daging-daging Mbah Uti yang melepuh di rumahnya, tapi rasa kehilangan akan Mbah Uti dan cerita-cerita yang mengalir dari bibir hitam dan mulut bacinnya itu nyata.