Di umur Sekar yang hampir sembilan belas, Kinasih lahir. Kinasih tampak cantik, meski lahir dengan berat badan yang hanya 2,5 kg. Melihat putrinya miskin daging, Sekar menangis. Kemiskinan seperti mengikutinya ke mana pun dia pergi, membunuhnya pelan-pelan, sampai menempel juga ke jabang bayi. Namun, Preman menepati janjinya. Dia menjelma menjadi bapak yang baik untuk Kinasih. Meskipun tetap bekerja sebagai preman di Ibu Kota, dia selalu menyempatkan mengirim uang kepada Sekar tepat waktu. Setiap bulan sekali, Preman juga tak pernah absen pulang untuk menjenguk Kinasih. Dia sangat sayang kepada anaknya, sampai-sampai lupa dengan sebutan istrinya si perempuan pencabut nyawa. Toh nyatanya, dia masih sehat juga sampai saat ini.
Tahun demi tahun berlalu dengan tanpa ada hal yang berubah kecuali usia Kinasih dan sikap preman yang sedikit lebih manis. Sekar tetap dilarang kerja, tetap dijuluki perempuan pencabut nyawa, bahkan kini dengan asumsi kejam para tetangga; siapa yang akan mati duluan di keluarganya? Kinasih atau Preman?
Ah, Sekar mencoba tak peduli. Kabar akan terjadi kekeringan panjang di desanya lebih membuatnya khawatir. Ki Rekso yang sangat pintar itu mengatakan musim kemarau panjang ini gara-gara El Nino. Entah siapa dia, tapi kata Ki Rekso, dia datang di bulan Maret 1997 seperti yang diramalkan. Seluruh warga percaya bahwa Ki Rekso juga bisa meramal masa depan. Sekar mendengkus, karena dia tahu Ki Rekso hanya memiliki teve, membaca koran, dan tampak hebat dalam memainkan kata.
Ternyata, berita akan terjadi kemarau panjang bukan isapan jempol belaka. Hawa dusun semakin panas. Angin kering berembus tak hanya siang, tapi juga malam. Sumur-sumur mulai surut. Elnino benar-benar ada.
“Panase, puol kayak kursine pejabat,” ujar Preman di dipan.
Laki-laki itu telanjang, memamerkan tubuhnya yang dirajah oleh gambar dan tulisan aneka rupa. Ada gambar gajah, pohon besar dengan daun kepala orang-orang digantung, anjing, perang dengan panah dan tombak saling terbang, sasaran tembak, bahkan ada gambar orang mencekik. Dulu sebelum tahu dongeng-dongeng Mbah Uti, Sekar penasaran arti tato-tato yang memenuhi kulit suaminya yang basah. Keringat kecut dan pekat tak henti keluar dari sana, membuat rajah di tubuhnya seperti bernyawa. Di lengan kanannya, gambar pohon mangga tampak liat dan berhasil mengusik Sekar. Dia mengelus lengan kekar suaminya.
“Kenapa pohon mangga?” tanya Sekar yang hanya memakai kutang hitam.
Preman berdeham. “Pohon mangga di depan rumah Mbah Uti ini paling setia sama aku.”
“Kenapa?”
‘Lho dari aku kecil sampai aku meninggalkannya karena kujual rumahnya, dia masih setia di sana. Nungguin kenanganku sama Mbah Uti.”
Sekar menepuk lembut lengan itu setelah mendengar jawaban Preman. Lalu Preman kembali menceritakan arti tato lainnya, tanpa ditanya. Di bawah tato pohon mangga itu, ada rajah berbentuk anjing bermata sendu.
“Anjing yang setia kepada tuannya,” kata Preman dengan mata berbinar.
Preman lalu bercerita seperti pendongeng ulung bahwa dulu dia sempat ingin menjadi anjing, setelah neneknya menceritakan tentang anjing yang setia menunggu tuannya yang telah mati pulang. Namun, saat teman-temannya sering memisuh dengan hewan itu, dia berubah pikiran. Dia tidak mau dirinya disalah-salahkan atas kejahatan orang melalui pisuhan. Lalu, Preman beralih ingin menjadi gajah seperti cerita neneknya tentang gajah yang setia.
Sekar lalu melihat rajah gajah di dada tepat di bawah tulang selangka Preman. Ukiran gajah besar bersama kawanan serta anak-anaknya tampak tersenyum senang. Kata Preman, gajah adalah binatang yang sangat dia ingini setelah dia mati. Gajah adalah binatang yang baik dan setia. Makanya, dia ingin menjadi gajah saja setelah mati biar bisa menjadi orang yang baik.
Lalu senyum Sekar tipis tergores saat dia meraba tato di leher suaminya. Gambar berupa lingkaran target.
“Kenapa lingkaran target? Kelemahan kamu?” tebak Sekar penasaran.
“Iya, dua kelemahan aku di titik itu,” jawab Preman sambil tersenyum.
“Dua kelemahan? Kamu cukup lemah berarti ya sebagai preman,” goda Sekar sambil mengusap lembut tato itu.
“Satu, buat orang yang ingin membunuhku. Dua, untuk orang yang ingin mencumbuku!” jawab Preman dengan tatapan yang hangat juga dalam.
Sekar mencoba mengalihkan perhatian Preman. Entah kenapa efek tatapan Preman itu membuatnya merasa makin panas tak hanya pipinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Dia berusaha mati-matian mengendalikan diri dengan beralih menyibukkan diri mengipasi Kinasih yang sudah berumur delapan tahun dengan kipas bambu. Anak gadisnya tidur lelap dan berkeringat.
“Sampai kapan kamu akan menjadi preman? Kalau bisa, cari pekerjaan yang buat Kinasih bangga,” ujar Sekar untuk mengalihkan suaminya dari hasratnya yang tampak membuncah.
“Aku sudah memikirkan itu. Aku ingin menjadi preman baik.”
“Preman baik maksudmu?” tanya Sekar bingung.