Waktu seperti melambat. Tiap detik tak memberikan jeda untuk Sekar merehatkan pikiran walau sejenak. Setelah mengurus Kinasih, otaknya kembali diperas memikirkan nasib suaminya di Ibu Kota. Apa benar di Ibu Kota sedang terjadi kerusuhan? Apa itu hanya siasat Ki Rekso untuk menakut-nakuti dirinya?
Tidak ada cara lain. Dia harus membuktikan sendiri perkataan Ki Rekso tentang berita itu. Sekar pun bertekad ingin mencari kebenaran akan berita itu. Jika harus mengemis, memohon-mohon untuk ikut menonton teve di rumah tetangga, atau mencari koran meski jauh dari kampungnya, Sekar rela dan bersedia. Intinya, Sekar tidak bisa tinggal diam dengan kecemasan yang bisa membunuhnya perlahan-lahan.
Dengan menggandeng Kinasih yang semakin kurus dengan tutup kepala dari selendang batik bekas, Sekar menyusuri jalan mencari rumah tetangganya yang juga mertua Ki Rekso. Di dusun, hanya yang berkerabat dengan Ki Rekso yang memiliki televisi. Sekar tak peduli dengan panasnya matahari yang membakar kulitnya dan membuatnya semakin gosong. Dia menghalau debu jalan kampung yang terbang menunggang udara panas dan menempel di kulitnya hingga lengket dengan keringat. Dia ingin tahu kabar Preman.
Sesampainya Sekar di rumah tetangga, dia langsung meminta tolong. “Yu, boleh aku nunut nonton berita di tivi?” tanyanya kepada salah satu mertua Ki Rekso.
Perempuan itu menatap angkuh Sekar. Bibirnya tiba-tiba meleot tanda tidak suka dan jijik.
“Sebentar saja, Yu,” mohon Sekar sambil menggendong Kinasih yang kepanasan.
“Gaya temenan. Wong wedok ngopo delok berita? Ora penting. Anakmu itu dipakani, malah nonton tivi. Pulang sana, bisa-bisa keluargaku ketularan sial,” usir tetangganya sambil menunjuk-nunjuk Sekar dan Kinasih.
Sekar tetap bersabar. Dia belum mau menyerah. Baginya caci maki sudah seperti makanan sehari-hari.
“Kalau gitu, boleh aku tanya berita ke suamimu, Yu?”
“Opo?!” bentak perempuan itu. “Ndak sopan, ya! Jadi perempuan itu mbok ya tahu tempat dan kodrat. Mau ketemu suami orang segala. Gatel? Preman jarang pulang? Jarang kelonan?” serang Ibu itu sengit.
Hati Sekar terasa sakit. Dia tidak tahan lagi mendengar nama Preman disebut-sebut.
“Pareng, Yu,” pungkas Sekar pamit. Dia memilih pergi.
Sekar semakin yakin cara pertamanya tidak akan berhasil. Bagaimana dia diizinkan menonton berita kalau orang-orang yang memiliki teve di kampungnya tidak menerimanya. Dia juga tidak mungkin meminta bantuan Ki Rekso. Satu-satunya yang dia bisa usahakan tanpa menyakiti hatinya lagi adalah pergi jauh dari kampung ke kecamatan untuk mencari koran. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti. Dia sadar, baca koran juga butuh uang. Sedangkan dia tak punya uang lebih hanya sekadar untuk membeli koran. Koran bekas pun sudah pasti jadi rebutan para pemulung untuk diuangkan. Akhirnya Sekar pun memilih pulang, apalagi Kinasih sudah merengek kehausan dan kepanasan.
Sesampainya di jalan depan rumah, Sekar melihat peti mati.
Peti itu berada di beranda tanah rumahnya dan telah dibuka, dijadikan tontonan orang-orang. Sekar bisa mendengar, bisik-bisik tetangganya itu berjalan di atas tiupan angin kering, menyusuri lekuk demi lekuk jalan kampung, hingga memanggil lebih banyak orang mendekat. Tubuh Sekar masih kaku. Jantungnya seakan berhenti. Kecemasannya semakin mengental di hati.
Namun, tidak Kinasih. Dia melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari dengan penasaran menuju peti mati yang teronggok di depan rumahnya. Saat Kinasih mendekat ke arah kerumunan, dia membelahnya seperti tongkat nabi di laut merah. Dia mendekati bibir peti, dan berhasil melihat sosok di dalamnya.
Mata Kinasih mendadak merah, dia langsung berteriak kencang memanggil-manggil bapaknya. Tangan kecilnya berusaha meraih tubuh Preman yang penuh luka. Anak itu menggerak-gerakan Preman menganggap bapaknya hanya tidur siang.
“Bapak, bangun! Bapak ayo main kelereng! Bapak jangan tidur terus!”
Kinasih terus menggerak-gerakan mayat Preman yang sudah kaku, dingin, dan penuh bekas luka.
Sekar yang melihatnya pun mendekat dan memeluk putrinya. Dia selalu berusaha kuat untuk Kinasih, meski kini hatinya hancur, dan jiwanya lebur. Dia akan terus menggenggam janjinya untuk selalu kuat apa pun yang menimpanya, demi Kinasih!