Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #12

BAB 10. RINDU

Malam semakin kelam dan kejam semenjak tak ada lagi Preman. Suara katak lenyap, jangkrik membisu, dan burung-burung malam mengungsi entah ke mana. Kampungnya seolah redam dipanggang kemarau panjang, atau mereka sedang menemani kesedihan Sekar atas kehilangan Preman? Meski itu nyata terjadi, tetap saja Sekar merasa sendirian. 

Di dipan kayu rumahnya, dia terus mengutuk dirinya sendiri. Rasa bersalah setia menemaninya dalam sepi hingga dia tak sanggup memejamkan diri. Hatinya penuh dengan olok-olok. Kata-kata busuk untuk dirinya itu seperti pisau yang terus saja mengiris perasaannya tiap waktu.

“Benar, kan? Sekar iku pembawa kematian!”

“Iya, setelah Bapak, Emak, sekarang suaminya. Jangan-jangan habis ini Kinasih pun bakal nyusul.”

“Heh, nggak boleh gitu!”

“Apa kalian sadar? Semua mayat-mayat yang mati karena Sekar itu memprihatinkan. Mati yang buruk! Bapaknya gosong kesetrum, emaknya keinjek-injek, kesabet arit pas geger pemilu, sekarang suaminya mati dengan bekas tusukan sana-sini. Aneh tha? Sekar pancen pembawa sial!”

Air mata Sekar tak terasa turun. Dipeluknya Kinasih yang terlelap dengan perut bergemuruh riuh. Apa anak perempuannya mungkin masih lapar? Sampai saat ini, Sekar hanya memasak apa yang masih dia punya meskipun gentong berasnya sudah terisi dari para pelayat. Namun, dengan memakannya, Sekar merasa seolah menjadi pengkhianat. Dia seperti ikut merayakan kematian Preman dengan makan-makan. 

Sungguh! Sekar tak sampai hati untuk melakukan itu. Sayangnya, singkong rebus tak sepenuhnya bisa meredam cacing-cacing di perut Kinasih yang meminta lebih. Apakah Sekar juga akan mati karena dirinya? 

Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Dia harus memastikan Kinasih hidup dengan layak. Nyawa Kinasih adalah segalanya melebihi nyawanya sendiri. Apa pun akan dia lakukan untuk Kinasih. 

Sekar langsung menghapus air matanya. Tidak ada waktu lagi untuk berduka dan meratapi apa yang telah terjadi. Bapak, Emak, dan Preman, mungkin sudah ada di tempat yang seharusnya. Kalaupun mereka meninggal karena dirinya, itu sudah tidak bisa lagi diubah. Namun, Kinasih harus tetap hidup. Apa pun akan Sekar perjuangkan untuk Kinasih.

Dengan berjalannya waktu, dengan perlahan-lahan, Sekar berusaha keras meredam kesedihannya di depan Kinasih. Walaupun tiap dia menanak nasi dari pemberian tetangga saat Preman mati, lubang kehilangan di hatinya yang terasa sakit karena mengingat kembali Preman. Kenangan terakhirnya bersama Preman yang ingin menjadi orang lebih baik, terus terbayang tanpa bisa dia hindari.

“Adakah preman yang baik?” tanya suaminya waktu itu dengan mata menerawang jauh ke dalam mata Sekar yang tajam dan menakutkan. Mata Sekar tampak seperti burung pembawa kematian di hutan perbatasan.

Mereka berdua tidur dengan tubuh saling berhadapan tanpa sehelai kain pun. Setelah memadu kasih dengan berisik, mereka terkapar dalam buaian kasih. 

Sekar balas menatap Preman. Dia tidak seperti perempuan kampungnya yang lain yang ketika ditatap matanya oleh laki-laki akan menunduk malu dan semburat merah tergores indah di pipinya. Sekar tak pernah satu kali pun merasakan sensasi itu. Dia membelai rambut dada bidang Preman. 

“Preman ini nama, pekerjaan, atau hobi?” balas Sekar bertanya setengah bercanda.

Preman tak melanjutkan. Matanya menghindar, wajahnya tampak sedih dan masih berpikir. Tubuhnya dia rebahkan hingga matanya hanya bisa menatap langit-langit yang langsung tembus sampai genteng. Beberapa genteng yang sudah lungkrah, memberikan sensasi sinar bintang di atas.

“Aku ingin jadi Bapak yang baik buat Kinasih,” ujar Preman kemudian setelah terdiam lama.

Sekar tersenyum dan mengelus pundak Preman yang sangat lebar dan pejal.

“Sepertinya kamu sudah tahu jawabannya, apa yang terbaik buat Kinasih.”

“Kalau buatmu?” kejar Preman tidak puas dengan jawaban istrinya. Dia kembali memiringkan badannya hingga kembali berhadap-hadapan dengan tubuh telanjang Sekar yang selalu tampak indah di matanya.

Sekar menarik tangan dan memangkunya di pahanya. Lalu mengubah posisinya telentang seperti yang dilakukan Preman tadi. Matanya melihat jauh ke atas dengan binar-binar harapan. Bibirnya ditarik ke sudut-sudut tanpa sadar.

“Aku ingin suatu hari preman bernama Preman berhenti dari pekerjaannya sebagai preman. Dia akan kerja di ladang seperti yang lainnya. Dia juga bersedia bantu-bantu aku mendirikan warung serba ada. Kami berdua harus selalu bersama mendidik Kinasih, agar dia menjadi anak yang tidak menuruni keburukan ibu dan bapaknya.”

Tanpa sadar Preman tersenyum, dia angkat kepalanya untuk mengecup kening Sekar, lalu menggenggam erat tangannya malam itu.

  *

 Sekar buru-buru mengusap air matanya, saat mendengar rintihan Kinasih yang sudah di depan dapur. Sekar yang sedang menanak nasi, lalu berjingkat dan mendekat.

“Kenapa, Nduk?” tanya Sekar khawatir.

“Aku lapar,” rengek Kinasih sambil mengelus perutnya.

Lihat selengkapnya