Sesuai undangan Zayid, Minggu pagi Kinasih datang seperti pahlawan siap perang kelereng di pelataran rumah Ki Rekso yang seperti lapangan. Rumahnya besar dan banyak ruangan-ruangan. Dindingnya sudah dari batu bata yang disemen. Lantainya ubin berwarna kuning. Kalau Kinasih menginjaknya, terasa berada di sungai saking dingin dan sejuknya. Zayid juga punya rumah kayu di sisi kanan rumah utama dengan mesin selep padi. Di sana, padi-padi hasil panen sawahnya yang berhektar-hektar disimpan. Mungkin, jika kemarau sepanjang dua tahun pun, keluarga Ki Rekso ini masih tetap bisa makan seperti biasa.
Kinasih kini sudah berada di pelataran yang biasanya digunakan untuk menjemur padi hasil panen Ki Rekso yang tak pernah habis. Sawah di Dusun Bumirekso ini sebagian besar memang miliknya, turun temurun dari keluarganya.
Konon, keluarga Ki Rekso ini adalah rentenir kejam yang merebut sawah-sawah warga yang tak bisa membayar utang. Harta yang melimpah itu sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya keturunan. Hanya ada satu pewaris tunggal dengan harta warisannya itu, dia akan tetap makmur tanpa melakukan apa pun semasa hidup. Saat itulah, tercetus ide memasukkan Ki Rekso kecil ke sekolah kebaikan hingga dewasa.
Orang tua Ki Rekso tahu, setelah mereka mati, warganya akan membenci dan merebut kembali sawah-sawah mereka kelak yang telah diwariskan oleh putranya. Dan dia sadar, hanya dengan kekuatan kebaikan serta kebijakan yang bisa melenakan umat dari dosa-dosa kejahatan masa lalunya. Maka, orang tua Ki Rekso pun bisa mati dengan tenang setelah mengetahui anaknya diangkat menjadi pemimpin kampung, satu-satunya orang yang berilmu agama yang ditempa dari jauh.
Akan tetapi, lapangan itu kini terasa kelompong. Tak ada kepang atau telasar untuk menjemur padi. Sudah hampir satu tahun Bumirekso seperti dikutuk. Tidak pernah ada hujan. Musim kemarau telah lewat, tapi air belum kunjung datang. Elnino jadi sasaran kebencian yang disebut-sebut di teve sebagai penyebab kemarau mengerikan ini.
Kinasih mendekati Yazid yang datang dengan sebuah wadah berbentuk ayam berisi banyak kelereng. Dia menatap Yazid dengan senang. Bocah laki-laki lainnya belum tampak. Hanya mereka berdua yang saling bertatap.
“Kita nggak main cuma berdua, kan?” tanya Kinasih penasaran kenapa hanya ada mereka.
“Aku ingin ngomong dulu sama kamu,” jawab Yazid singkat. “Aku sengaja undang mereka datang nanti.”
“Mau ngomong apa?” tanya Kinasih penasaran.
“Aku mau beli kemenanganmu hari ini,” ujar Yazid sambil menyodorkan uang lima ratus dan dua ratusan.
“Buat apa uang?” Kinasih masih tidak paham.
“Ini yang dibutuhin ibumu. Bisa buat beli beras dan mi. Pasti ibumu senang.”
“Ibu bakal senang?” tanya Kinasih polos.
“Sudah lama kamu dan ibumu nggak makan nasi, kan? Pernah makan… Mi?” Kalimat terakhir Yazid terdengar agak ragu.
“Aku belum pernah makan mi. Enak ya?” tanya Kinasih sungguh penasaran. “Tapi, aku harus bilang gimana sama Ibu? Aku takut dimarahi.”
“Bilang saja kelerengmu dijual. Kalau dijual kan dapat uang.”
“Dijual dapat uang?” ujar Kinasih mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Benar. Jadi kamu hanya perlu pura-pura kalah saja di permainan hari ini.”
“Baik. Aku mau. Mana uangnya,” kata Kinasih tak berpikir panjang. Asal bisa membantu Ibu dan membuat dia bahagia, apa pun akan dilakukan.
“Ingat, kamu harus selalu kalah!” ancam Yazid sambil menyerahkan uang sebesar tujuh ratus rupiah kepada Kinasih, sebuah harga untuk membeli ego dan harga dirinya sebagai laki-laki.
Setelah transaksi rahasia itu selesai, bocah-bocah laki-laki lain mulai berdatangan. Yazid telah mengatur mengundang banyak lawan agar kemenangannya dilihat banyak orang. Dengan penuh aura persaingan, para tamu undangan membawa botol-botol bekas sabun colek atau minuman yang telah dipangkas 3/4-nya berisi kelereng. Yazid pun mulai menggambar kotak kecil bersisi dua jengkal jari dengan kapur di tanah untuk tempat meletakkan taruhan kelereng.
“Satu orang sepuluh,” katanya setelah selesai menggambar kotak dan meletakkan sepuluh kelerengnya di dalam.
Kinasih pun sama. Memilih sepuluh kelereng yang tidak begitu dia sukai untuk taruhan. Pemain lain pun sama meletakkan masing-masing sepuluh kelereng di dalam kotak. Setelah semua taruhan berkumpul, permainan pun dimulai. Sesuai janji, Kinasih pun berusaha untuk tidak mengenakan kelerengnya ke umpan taruhan dalam kotak. Berkali-kali dia sengaja gagal untuk memberikan kesempatan kepada Yazid yang memiliki ketepatan dan kecepatan di bawah Kinasih.
Saat menata kelereng di atas tanah, mata Yazid kerap teralih ke arah teras rumahnya yang luas. Di sana, tiga istri muda Ki Rekso sedang duduk menunduk membisu sambil mengupas bawang. Kinasih yang menyadari arah tatapannya menepuk pundak Yazid.
“Kamu lagi lihat ibumu, Yid?” tanya Kinasih polos.
Gerakan tangan Yazid terhenti. Rahang bocah itu mengetat rapat, dan mata bulatnya yang biasanya jenaka mendadak meredup seperti lampu sentir kehabisan minyak.
“Bukan,” bisik Yazid pelan, hampir tak terdengar di antara desir angin kering. “Aku nggak tahu ibuku yang mana. Bapak bilang semua perempuan di rumah itu ibuku, tapi tak satu pun dari mereka yang punya mata kayak mataku.”
Yazid melempar kelerengnya keras-keras ke tanah hingga pecah terbelah dua, membuat Kinasih terperanjat kaget.
Dari awal permainan pun sudah bisa diprediksi siapa yang akan memenangkan taruhan. Yazid berulang-ulang mengenai kelereng di kotak taruhan yang berarti kelereng itu menjadi miliknya. Senyum kebanggaan dan kepongahan terpancar jelas di wajahnya. Inilah kemenangan pertamanya setelah dia hampir putus asa dan terpaksa menceritakan kesusahannya kepada Bapak.
Meski menang, Yazid tidak sepenuhnya sepakat dengan kata-kata bapaknya, bahwa laki-laki ditakdirkan lebih pandai dari perempuan, bahwa laki-laki memang diciptakan untuk memimpin dan mengatur perempuan. Sebab dia sadar telah mengalahkan Kinasih dengan cara licik!
“Ucapanmu tidak selalu benar, Pak,” bisiknya dalam hati saat semua teman laki-lakinya mengagung-agungkan namanya atas kemenangannya mengalahkan Kinasih si juara bertahan.