Dulu, sebelum kemarau panjang ini, goking atau nasi sisa yang dikeringkan dibuat makanan bebek atau ayam. Namun, sekarang, tak ada waktu untuk mempedulikan lambung bebek atau ayam. Mereka memasak lagi goking untuk dimakan sendiri.
Selama kekeringan melanda Dusun Bumirekso, Sekar bertahan hidup hanya dari air sumur dan simpanan goking yang dirawat baik-baik. Akan tetapi, kini dia benar-benar telah kehabisan semuanya. Hanya air sumur dari moyang Bapak yang masih bisa menyambung nyawanya. Goking, ubi, ketela, semua telah ludes dan tak ada sisa sedikit pun. Hutan perbatasan menjadi ramai oleh para warga untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan. Namun, nihil. Tanaman di sana pun kering, ubi-ubian raib, dan hanya hewan-hewan yang menjadi sasaran buruan. Aturan dilanggar, ketakutan akan perintah leluhur Ki Rekso kalah dengan rasa lapar.
Sekar tidak pernah malu untuk ikut memburu bersama para laki-laki di kampungnya, meski sering pulang dengan tangan kosong. Dia memilih tidak membawa apa-apa dari hutan, daripada menangkap hewan apa saja; ular, biawak, burung-burung langka. Sekar sadar bahwa dirinya benar-benar sangat miskin. Sangat miskin! Namun demikian, miskin bukan alasan Sekar untuk menyerah dengan hidup. Apalagi ada anak yang harus dia jaga nyawanya. Sekar tidak ingin kehilangan lagi. Sekar tidak mau orang-orang yang dia sayang mati. Lebih-lebih semua karena dirinya. Apa pun yang terjadi, Sekar tidak boleh menyerah demi Kinasih. Dia tidak ingin Kinasih meninggalkannya seperti Bapak, Ibu, dan Preman.
Selama perjalanan, Sekar terus menimbang-nimbang keputusan yang akan dia ambil. Nyawa Kinasih sebagai taruhan, dan dia harus rela berkorban. Sudah cukup tiga nyawa saja yang diambil karenanya. Tiba-tiba, terbitlah pikiran gelap itu. Dia ingin menjual tubuhnya kepada Ki Rekso demi Kinasih.
“Bu, kenapa banyak yang menunggu di depan rumah kita?” tanya Kinasih yang lemah di gendongan Sekar saat mereka hampir sampai rumahnya.
Sekar mendadak teringat kembali saat mayat Preman dibawa pulang dalam peti mati di depan rumah. Banyak orang yang mengerubunginya. Sekarang pun juga, tapi tidak ada mayat. Sekar sejenak berhenti. Selain melepas lelah, dia juga sedang berpikir. Apalagi orang-orang ini berdiri di depan rumahnya dengan membawa ember.
Apakah ini pertanda….?
Tiba-tiba Sekar berjalan dengan lebih cepat untuk mendekat. Tenaganya yang surut seperti hadir kembali. Dia percaya Tuhan Maha Baik dan akan membantunya bertahan hidup, tanpa menjual diri.
“Tolong minggir dulu. Kasih jalan!” teriak Sekar membelah kerumunan.
Warga pun memberikan jalan meski bibirnya bergerak-gerak meleyot tidak suka. Namun, ini masalah hidup dan mati. Jadi, mereka tak akan bisa berbuat apa-apa lagi, termasuk mendekati orang yang mereka benci setengah mati.
“Sumur saya masih banyak air. Dan bagi yang ingin mengambilnya, bayar!” teriak Sekar tegas menghalau keributan protes para Ibu. “Kalian bisa tukar apa saja selama saya dan anak saya bisa manfaatkan.”
Suara sumbang protes warga pun terdengar saling tindih. Teriakan mereka bersahutan seperti demo yang terjadi di Ibu Kota.
“Jangan gitu, dong!”
“Cetil!”
“Tega sama tetangga! Punya empati nggak tha?”
“Kudoakan sumurmu kering sekarang juga!”
Mendengar semua protes itu membakar emosi Sekar seketika. Sekar menurunkan Kinasih dari gendongannya dan mendudukkannya di lincak kayu depan rumahnya.
“Diam!” teriak Sekar menenangkan ocehan tetangga. “Yang ngomong silakan pulang!”
Warga desa langsung diam tanpa suara. Hening seketika. Sekarang giliran Sekar yang angkat bicara.
“Pelit kalian bilang? Ini tentang hidup dan mati. Ini tentang saya dan anak saya bertahan hidup.” Sekar mengusap air matanya yang tiba-tiba saja datang.
“Coba kalian sedikit saja mencoba berada di posisi saya. Sebenarnya yang tega itu saya atau kalian?! Yang nggak punya empati itu saya atau kalian?! Ini sumur saya, hak saya meminta imbalan bagi yang mengambilnya.”
“Tapi, Ki Rekso tidak pernah mengambil bayaran untuk sumurnya!” protes salah satu warga dusun dengan mata menghina.