Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #15

BAB 13. KALAH

Kelangkaan beras dan naiknya sembako semakin menambah penderitaan warga kampung Bumirekso. Hujan juga belum turun, meski Januari yang katanya kepanjangan dari hujan sehari-hari pun, tak memberikan tanda-tanda akan hujan. Di hari raya orang Cina yang biasanya hujan, tak berhasil juga menurunkan hujan di Bumirekso yang tandus dan seperti terbakar. 

Aroma keringat semakin menyengat, debu bertebangan dengan cepat, karena angin seperti tak berhenti untuk rehat. Tahun baru 1998 tak hanya cuaca di desa terpencil ini yang panas. Tetapi juga Ibu Kota yang terbakar oleh tuntutan-tuntutan mahasiswa yang menyuarakan keluhan atas kenaikan harga sembako yang menggila. Apa pemerintah sengaja ingin membunuh warga-warganya? Warga yang miskin, tentu saja! Karena warga kaya raya hanya diperiksa, apakah mereka menimbun beras atau tidak.

Beberapa petugas LULOG juga sering ke rumah Ki Rekso. Kata para tetangga, petugas itu ingin memeriksa lumbung padinya karena sanksi bagi penimbun beras sudah diterbitkan. Namun, entah karena apa, Ki Rekso lolos begitu saja. Dengan alasan untuk kemaslahatan umat, dan tidak dijual alias dibagi gratisan, maka nama penimbun padi tak layak Ki Rekso sandang. Dia mendadak seperti Pahlawan tanpa kenal pamrih. Sekar muak dan mual mendengar kasak-kusuk itu. 

Gratis dari mananya?!

Lolosnya Ki Rekso dari pemeriksaan LULOG (Lembaga Urusan Logistik), membuat nazarnya pun dilaksanakan. Sebelumnya dia bernazar, jika lolos dari audit LULOG, maka dia akan membuat sumur baru yang lebih dalam dan dikhususkan gratis untuk warga kampung. 

Pengumuman itu jelas membuat Sekar gelisah. Sekar telah kalah. Sumber kekuatan untuk bertahan hidup telah direnggut Ki Rekso. Begitu juga dengan Kinasih, kelereng-kelerengnya tak bisa menyelamatkannya lagi karena Yazid sudah tak sudi lagi membayarnya. 

Lantas bagaimana, dia bisa bertahan? Jika banyak pelanggan sumurnya mendadak lari dan memilih punya Ki Rekso yang gratis dan berbondong-bondong pergi ke sumur baru itu. 

“Kita masih punya simpanan sedikit makanan,” kata Sekar menenangkan diri. Namun setelah diperhitungkan, simpanan makanannya ternyata hanya cukup untuk lima hari. Setelah itu, Sekar dan Kinasih akan kehabisan apa yang bisa dimakan. Ah, Sekar tiba-tiba menyesal karena tidak menarik biaya atau bayaran besar-besar kalau akhirnya seperti ini. 

“Ibu, aku pusing,” kata Kinasih yang sudah seharian menahan lapar di ranjang kamar tidur. “Aku mu-mual.”

Belum sempat Sekar mendekat, Kinasih sudah mengeluarkan cairan hijau dari mulutnya. Perutnya kosong, dan tak ada yang bisa dikeluarkan kecuali cairan pekat itu.

“Ya, Tuhan, kamu kenapa, Nduk?” teriak Sekar mendekat dan memeriksa keadaan Kinasih. Badannya sangat dingin. Tak hanya muntah, ternyata Kinasih juga berak di celana karena diare. 

“Kinasih!” jerit Sekar kembali dirundung cemas. Bayangan kematian Bapak, Ibu, dan Preman datang untuk menyesaki kepalanya. Dia tidak ingin lagi kehilangan. Dia yakin bukan perempuan pencabut nyawa! Kini dia harus melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Kinasih.

“Ibu…” rengek Kinasih setengah sadar karena lemas. “Ibu…”

Setelah membersihkan tubuhnya, Sekar menggendong Kinasih dan berlari ke luar rumah. Tak ada hal lain yang dia pikirkan sekarang kecuali keselamatan Kinasih. Nyawa anak satu-satunya kini ada di tangannya. Inilah waktunya untuk Sekar mengalah. Dia harus rela berkorban untuk belahan nyawanya. Meski, harus pergi ke tempat yang sangat dia benci dan hindari; Rumah Ki Rekso.

Sekar bukannya tak punya perhitungan. Selama ini, dia telah menyiapkan benteng pertahanan terbaik yang sanggup dijangkau oleh kemampuannya. Untuk urusan penyakit, dia memegang teguh warisan ilmu Nenek dan Emak. Ramuan tanaman liar dari hutan perbatasan seperti daun beluntas, ciplukan, hingga sambiloto biasa sanggup meredam demam atau perut melilit. Dia juga mengandalkan sumur peninggalan Bapak, satu-satunya senjata barter yang menyelamatkan mereka berbulan-bulan.

Namun, takdir merobohkan seluruh benteng pertahanannya sekaligus dalam satu empasan brutal. Kemarau gila mengeringkan tanaman obat di hutan perbatasan, mematikan setiap helai daun obat yang biasa dia petik. Sumur dalam gratisan yang didirikan Ki Rekso menghancurkan mata pencahariannya dalam semalam. Dan saat muntaber menguras habis cairan tubuh Kinasih hingga anak itu kritis dan terkulai dingin di punggungnya, Sekar sadar, rebusan daun kering tak akan pernah sanggup menandingi selang infus dan tusukan jarum Puskesmas.

“Tuh, lihat! Waktu Kinasih hidup sudah hampir habis,” komentar tetangga Sekar yang melihat Kinasih pingsan di gendongan punggung Sekar. Mereka tambah yakin, Sekar adalah perempuan pencabut nyawa.

“Kuburan Preman belum kering, dia sudah memakan korban lagi.”

“Serem. Jangan sampai deh dia dekat-dekat sama kita.”

Sekar tak peduli dengan cibiran tetangga-tetangganya. Dia tetap fokus berjalan cepat menuju rumah megah itu. Tak peduli kakinya yang berdarah menggores-gores kerikil dan kerasnya tanah. Tak peduli panasnya matahari tepat di atas kepala. Sekar terus berjalan cepat ke rumah Ki Rekso. Jantungnya berdetak kencang dan keras. Keringatnya luruh di sekujur tubuh. Nyawa Kinasih kini ada di pundaknya.

Sesampainya di gerbang rumah, perut Sekar terasa melilit. Ketakutan seolah menguasainya. Namun, dia harus melawannya. Dia tidak punya pilihan selain langsung masuk. Kaki Sekar rasanya sudah mati rasa, punggungnya juga, tapi dia mencoba bertahan untuk terus berjalan melewati lapangan luas depan rumah ini. Di depan pintu rumah, dia berteriak memanggil Ki Rekso.

“Tolong! Tolong kami, Pak! Tolong!” teriak Sekar semakin lama semakin keras karena Ki Rekso tak kunjung keluar juga dari rumah. “Tolong….”

Sang pemilik rumah tampak buru-buru berjalan keluar untuk mendekati Sekar.

“Ada apa?!” tanyanya cukup kaget dengan kehadiran Sekar di rumahnya. Jika tidak terjadi hal mendesak, janda Preman itu tak akan mungkin sudi melangkahkan kakinya dan berdiri di depan rumahnya.

Lihat selengkapnya