Benar dugaan Sekar bahwa Kinasih terkena muntaber dan langsung mendapat penanganan di Puskesmas kecamatan. Anak itu kritis karena tidak ada asupan makanan dan minuman setelah muntah dan berak yang menguras semua isi di tubuhnya. Jika terlambat, nyawa Kinasih tidak akan tertolong.
Mendengar penjelasan dokter, berkali-kali Sekar berterima kasih kepada Tuhan yang masih memberikan kesempatan Kinasih untuk hidup lebih lama. Kini Kinasih dirawat inap di Puskesmas selama tujuh hari.
Undangan selamatan sederhana sudah disebar ke semua warga kampung, bahkan sebelum Kinasih pulang. Ki Rekso seolah ketakutan, jika Sekar berubah pikiran walaupun tanda tangan surat perjanjian ada di tangan. Jika Ki Rekso sedang sibuk mengurus berkas-berkas nikah, Sekar hanya peduli dengan kondisi Kinasih. Dia tak sedikit pun peduli dengan pernikahannya yang telah ditentukan harinya.
Satu-satunya hal yang membuatnya bisa sedikit lega dan senang adalah Kinasih dan Yazid telah rukun kembali. Mereka bahagia akhirnya bisa menjadi kakak-adik dan berjanji akan bermain kelereng bersama-sama. Sekar pikir, setidaknya bila dia tidak bahagia nanti di rumah gedong Ki Rekso, Kinasih bisa merasa nyaman karena kehadiran teman.
“Mulai sekarang kamu harus latihan manggil aku Mas Yazid, Kin,” ujar Yazid yang setiap hari pergi ke Puskesmas untuk menjenguk Kinasih dengan koleksi macam-macam kelerengnya.
Kinasih memandang lekat-lekat Yazid. “Males, ah. Aneh,” jawabnya kemudian.
“Aku itu lebih tua dari kamu. Lagian Bapak akan menikahi ibumu,” protes Yazid tidak mau kalah. Sebagai kakaknya kelak, dia ingin punya harga diri di depan Kinasih.
Kinasih menggerak-gerakkan kepalanya tanda berpikir. Bahkan kali ini keningnya sampai berkerut dan mulutnya cemberut.
“Padahal Ibu nggak suka sama bapakmu. Kok bisa ya?” katanya masih berusaha mengerti dengan kabar yang sudah merebak satu dusun. Semua orang kampungnya sepertinya sudah tahu semua.
Yazid ikut berpikir. Namun, dia bukan tipe yang suka mikir, jadi dia menyimpulkan sembarang saja.
“Mungkin karena kita tahu temenan, dan cocok buat jadi adik-kakak?” ujarnya tersenyum lebar.
“Masa mereka menikah karena kita?” Kinasih tentu tidak percaya. Rasanya Ibu hanya tahu kalau Yazid itu musuhnya, bukan temannya.
“Biasanya orang tua gitu. Melakukan apa saja buat anaknya.”
“Biar kita damai?” cetus Kinasih, satu-satunya hal yang mungkin jika apa yang dikatakan Yazid benar. Jadi Ibu ingin dirinya dengan Yazid berdamai, makanya dia mau menikah dengan Bapak Yazid. “Ah, aku masih nggak paham dengan pikiran orang dewasa.”