Malam pertama setelah Sekar resmi menjadi istri Ki Rekso adalah siksaan. Sekar tahu, sudah banyak biaya yang dikeluarkan Ki Rekso untuk menikahinya. Biaya rawat inap Kinasih seminggu saja sudah tak bisa Sekar bayangkan. Lalu, selamatan dengan berkat nasi kotak di saat krisis dan harga naik fantastis tentu saja merogoh banyak uang. Belum lagi, ditambah mas kawin yang tak tanggung-tanggung berupa sawah yang luas.
Sekar seharusnya bahagia seperti para perempuan-perempuan di kampungnya yang mencibir iri ingin menggantikan posisinya. Namun, nyatanya malam resmi menjadi istri Ki Rekso membuatnya mati rasa, perut mual, kepala pusing, seperti sedang keracunan.
Kali pertama pindah ke rumah gedong ini, Sekar dan Kinasih diajak istri sah pertama Ki Rekso, Maryamah, untuk melihat bagian-bagian rumah. Dari seluruh sudut rumah besar milik Ki Rekso, ada satu lorong di bagian paling belakang yang selalu dibalut remang dan keheningan aneh. Lorong sempit di dekat sumur dalam itu berujung pada sebuah pintu kayu jati hitam tebal tanpa jendela.
Saat Sekar melintas di dekatnya, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri tegak. Dari celah bawah pintu itu, menguar aroma ganjil; perpaduan antara kemenyan basah, tanah lembap, dan bau apak ruangan tertutup yang lama tak disapu angin.
Setelah waktu malam, Sekar dengan dibimbing oleh Maryamah, dan istri-istri muda siri Ki Rekso untuk masuk ke dalam kamar khusus. Sekar hanya menurut, meski hatinya gaduh dan keberaniannya mendadak kisut. Kakinya rasanya lemas, andai tidak digandeng oleh Maryamah.
Sekar didudukan dalam ranjang berseprai wangi dan halus. Di samping ranjang terdapat nakas dengan lilin yang memberikan cahaya remang-remang, dan sesajen dengan dupa beraroma kembang. Aneka bunga tersebar di atas ranjang yang depannya sudah disiapkan dua sajadah tebal menghadap kiblat. Lilin-lilin menyala indah di tiap sudut kamar, membuat Sekar merasa ini seperti persiapan sebuah ritual.
“Saya selalu repot saat malam pertama Ki Rekso. Apalagi kalau istrinya muda yang tak tahu apa-apa tentang kodrat wanita,” kata Maryam yang bersuara sangat lembut. Dia membuka obrolan sambil melumuri rambut Sekar dengan minyak yang beraroma wangi nan lembut.
Saat Maryamah berada di depannya, Sekar dengan sangat teliti memperhatikan wajah Maryamah. Tidak ada paksaan atau ketakutan. Bahkan, Sekar mencoba mencari-cari bekas luka atau pukulan, tapi di wajahnya yang bercahaya itu tampak tak pernah mendapatkannya. Entah, di tubuhnya yang tertutup itu.
“Semua kamu yang mempersiapkan?” tanya Sekar di sela-sela Maryamah menata rambutnya.
“Itu tugas suci,” ujar Maryamah sambil tersenyum. Matanya seperti binar bintang dan ketulusan paling agung tampak cemerlang di sana.
“Apa kamu Ibu Yazid?” tembak Sekar tidak tahan lagi melihat istri yang tak pernah keluar dari istana Ki Rekso ini begitu sempurna sesempurna bidadari. Dan itu pun masih kurang bagi laki-laki ini?! Sekar tiba-tiba marah. Rasanya ingin memberontak dan menyelamatkan semua perempuan yang ada di sini.
Maryamah mengangguk.
“Semua istri Ki Rekso adalah Ibu Yazid. Begitu juga dengan Kinasih. Semua perempuan di sini adalah ibunya.”
Wajah Sekar mengerut tanda marah. “Mana bisa?! Tetap aku Ibu kandungnya. Terima atau tidak,” protes Sekar tegas. “Tidak ada yang bisa menggantikan orang yang melahirkannya,” tambahnya dengan menatap tajam Maryamah.
“Apa kamu masih suci?” tanya Maryamah tenang dengan rupa tanpa celah dan amarah. Dia seperti robot yang telah diatur untuk berekspresi tanpa emosi, dan itu membuat Sekar benci. Sekaligus takut. Dia takut setelah tinggal lama di rumah gedong ini, dia akan melupakan dirinya sendiri dan berubah seperti Sekar dan istri-istri Ki Rekso lain.
“Tidak ada perempuan yang suci di sini,” jawab Sekar dingin. Namun, Maryamah tetap tersenyum tulus. Dia pun menjawab dengan lembut, membuat Sekar semakin benci.