Tak ada yang diingat Sekar malam itu. Dia bangun dengan telentang dengan selimut menutupi tubuhnya yang telanjang. Dia masih ingat bahwa tubuhnya bergetar hebat saat Ki Rekso menyentuhnya. Matanya memejam. Perutnya mual. Nyalinya ciut, dan berangsur-angsur tubuhnya lemah seolah akan semaput. Setelah itu, tak dia rasakan apa-apa lagi. Matanya memburam dan napasnya tiba-tiba seolah akan temaram. Bangun-bangun tubuhnya terasa sakit semua. Sekar pikir, kengerian itu telah berakhir. Ternyata tidak. Tiap malam Jumat, Sekar harus mengulangi ritual itu lagi, lagi, dan lagi.
“Ritual baik ini akan berhenti kalau kau tetap sadar saat melakukannya,” kecam Ki Rekso setelah Jumat pagi sekar terbangun dan tak ingat apa-apa lagi.
Penyiksaan itu membuat Sekar tak ingin melakukan apa-apa. Dia menurut. Patuh dengan semua jadwal yang sudah dibuatkan oleh Maryamah. Pijat wanita didatangkan. Jamu-jamuan rapet wangi dihidangkan. Wewangian penambah gairah diracikkan. Maryamah ingin menjadi istri pertama yang selalu berbakti dan mendukung keputusan suaminya.
“Kalau kamu tidak dalam kondisi sadar, malam Jumat ini tidak akan berhenti,” pesan Maryamah saat sedang mengoleskan minyak mawar di rambut panjang Sekar.
“Apa kalau aku kuat, dia akan berhenti?” tanya Sekar.
“Ikuti apa yang telah kuajarkan. Setelah itu, kamu bisa beristirahat panjang,” jawab Maryamah seolah tahu penderitaan Sekar.
Saat melihat Kinasih masuk ke rumah setelah lelah bermain kelereng dengan Yazid, sedikit perasaan lega membuncah. Anaknya tampak semakin besar dan pintar. Meskipun dia harus berkorban setiap malam Jumat, kebahagiaannya melihat Kinasih tumbuh dengan baik tak bisa disembunyikan atau dicegah. Hidup bagi Sekar adalah Kinasih. Kebahagiaan anaknya akan menjadi kebahagiaannya juga.
“Ibu kenapa? Sakit?” tanya Kinasih saat melihat perubahan ibunya yang semenjak pindah ke rumah Ki Rekso menjadi lebih pendiam dan kurus. Ibunya juga sering muntah-muntah sembunyi-sembunyi.
Kinasih tahu, dan berjanji tidak akan bilang kepada siapa-siapa seperti keinginan Sekar. Ibunya juga tidak begitu bernafsu untuk makan. Ibu hanya menyukai teh panas, dari rempah-rempah yang Ki Rekso punya.
“Ibu sakit, ya?” tanya Kinasih cemas. Dia tidak mau pergi sebelum mendengar jawaban ibunya.
Sekar berusaha tersenyum. Meski menarik bibirnya itu terasa berat, tapi untuk anak semata wayangnya dilakukan juga.
“Apa kamu bahagia di sini, Nduk?” tanya balik Sekar.
“Aku seneng banget, Bu. Apalagi Mas Yazid baik dan sering ajak aku main-main sampai jauh. Aku juga boleh memainkan kelerengnya,” ujar Kinasih polos sambil melirik Yazid yang ada di sampingnya.
Anak laki-laki itu ikut tersenyum membalas senyum Kinasih. Adik barunya itu seolah bisa melenyapkan rasa kesepian di rumah yang besar ini.
Sekar menarik bibirnya dengan mata berkaca-kaca memandang rona bahagia di wajah dua anak ini. Apalagi, Kinasih tampak lebih segar. Perut dan pipinya semakin berisi, terlihat cantik, dan montok. Rambutnya pun semakin lebat dan panjang dengan poni yang menggemaskan. Sekar pun memeluknya, bersyukur atas keputusannya yang mungkin menyakitinya. Dia bersumpah akan bertahan dan menerima risikonya, asal Kinasih tetap bahagia.
“Ibu kenapa menangis?” tanya Kinasih melihat ibunya meneteskan air mata. Dia mengelus pipi ibunya dan menghapus air matanya.
“Ini tangis bahagia, Nduk. Melihatmu makin sehat dan segar, membuat Ibu bersyukur,” jawab Sekar berdusta. Lagi-lagi senyum dia tarik kuat-kuat agar semakin lebar. Walau luka batinnya pun ikut melebar.
Kinasih cemberut. Pipinya tampak berkumpul, dan mulutnya mencucu lucu.
“Tapi, Ibu curang. Kenapa cuma aku yang tambah gendut tapi Ibu malah makin kurus?” protes Kinasih.
Sekar bingung harus menjawab apa. “Nanti Ibu susul, ya.”
“Harus! Aku juga pengen Ibu nggak makin kurus.” Kinasih membalasnya dengan jari telunjuk di depan wajahnya sebagai bentuk keharusan untuk ibunya.
“Ibu janji akan makan yang banyak biar bisa menang dari kamu,” ujar Sekar sambil meraih telunjuk putrinya untuk diikatkan dengan telunjuknya sebagai perjanjian. Mereka berdua lalu tersenyum bersama dan diakhiri dengan pelukan hangat.
Namun, keberadaan Kinasih ternyata tak bisa menghapus seluruh kesedihan Yazid selama di rumah. Sekar sering mendapati Yazid berdiri diam di balik pilar rumah ketika Ki Rekso memanggil salah satu istri mudanya untuk masuk ke kamar khusus. Kepalan tangan Yazid selalu menyatu erat di balik punggungnya hingga buku-buku jarinya memutih.
“Ki Rekso suka perempuan yang usianya sama kayak Mas Yazid ya, Bu?" cetus Kinasih suatu sore saat melihat seorang gadis baru berusia lima belas tahun diantar ayahnya ke rumah gedong.
Sekar belum sempat menjawab ketika Yazid melintas di depan mereka sambil membanting kaleng kelerengnya ke ubin.
“Bapak itu bukan suka, tapi rakus!” sergah Yazid dengan nada benci yang begitu pekat, membuat Sekar menahan napas. “Istri-istri itu cuma akan dijadikan tempat melahirkan anak, habis itu dibiarkan sakit dan mati di kamar belakang!”