Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #19

BAB 17. TRAUMA

Teror ninja yang dicurigai dikirim oleh sang penguasa negara yang sedang ingin-inginnya menekan, membuat kacau, dan membelokkan isu, kembali merebak di pelosok-pelosok dusun. Preman-preman telah mendengar kabar bahwa mangsa para ninja tak lagi sekadar dukun santet atau tukang suwuk di pinggiran hutan. Sasaran maut itu telah bergeser secara mengerikan kepada para orang alim, mulai dari kiai tarekat, penceramah mimbar, hingga guru-guru ngaji kampung yang sehari-hari mengajari anak-anak mengeja alif-ba-ta di teras musala.

Kabar angin dari desa-desa tetangga makin membuat bulu kuduk berdiri. Di Desa Gambiran, seorang kiai sepuh ditemukan tewas di dalam mihrab dengan leher nyaris putus dan lidah terpotong, hanya berselang sejam setelah listrik kampung padam mendadak.

Dua malam lalu, di Dusun Kebonagung, seorang guru ngaji diseret paksa dari kamarnya oleh lima orang bertopeng hitam setelah tembok depan rumahnya ditandai silang cat merah. Matinya tak wajar. Tubuhnya penuh sabetan arit dan ditinggalkan begitu saja di pinggir kali. Teror itu kini bukan lagi bisik-bisik jauh di Ibu Kota, melainkan maut nyata yang sedang memburu orang-orang suci di pelosok desa.

Ki Rekso sebagai orang yang dikenal dan menasbihkan diri sebagai orang alim pun merasa was-was mendengar berita itu. Seluruh preman dan warga Bumirekso sepakat akan mengamankan Ki Rekso. Namun, Ki Rekso menolak pengamanan atas dirinya. Dia merasa aman berada di rumahnya.

“Atas izin alam semesta, saya tidak akan celaka,” katanya saat para warga menawarkan tempat bersembunyi untuk Ki Rekso.

“Tapi, Pak, mereka bekerja di malam hari dengan menandai rumah para orang alim. Kami takut Ki Rekso menjadi korban selanjutnya,” ujar salah satu preman sebagai tim keamanan dusun. 

“Jangan khawatir. Dusun kita ini berada paling dalam dari tempat lain di kecamatan ini. Aku ini cuma mengajari kebaikan untuk warga sendiri, bukan kiai besar berpengaruh seperti yang di Gambiran atau Kebonagung,” elak Ki Rekso mencoba menenangkan diri sendiri, meski keringat dingin yang membasahi keningnya tak bisa berbohong. “Kalaupun ada ninja masuk, pasti desa-desa di depan dulu yang akan jadi korban. Tapi kalau kalian masih ingin membantu, jaga-jagalah kalian di depan rumah saya. Bawa kentongan juga.”

Setelah kabar ninja merebak tak hanya di Jawa Timur, tapi juga ke daerah-daerah di Jawa Tengah, rumah Ki Rekso tak pernah absen dari penjagaan warga. Mereka membawa kentongan dan senter untuk terus mengawasi. Penjagaan dilakukan bergilir. Dan setiap malam, Sekar akan menyajikan makanan ringan dan satu teko kopi hitam untuk para penjaga rumah suaminya.

Keresahan Sekar kini tak hanya karena teror ninja, melainkan karena putrinya, Kinasih. Sudah beberapa hari keceriaannya seperti terenggut. Dia juga tampak tak bersemangat untuk melakukan apa-apa seperti biasanya. Bahkan, dia tidak mau lagi belajar ilmu agama bersama Yazid dan Ki Rekso di ruangan khusus yang dulu juga menjadi tempat Sekar menimba ilmu semasa kecil. 

Sekar semakin cemas. Kebahagiaan Kinasih adalah alasan membuatnya bertahan di rumah gedong ini. Namun, jika itu raib, Sekar tak punya lagi alasan untuk bertahan.

Di kamarnya yang luas dan sangat indah, Sekar berusaha mendekati Kinasih. Dia harus tahu apa yang terjadi dengan putrinya yang terus saja ingin ada di kamar, tertidur miring, dan membenamkan wajah gemasnya di bantal. Apakah dia sedang bertengkar dengan Yazid?

“Kenapa, Nduk? Biasanya semangat kalau belajar bersama-sama Yazid,” bujuk Sekar duduk di sisi ranjang anaknya.

Kinasih tiba-tiba terduduk. Matanya sembap dan merah.

“Siapa bilang aku belajar bersama Mas Yazid, Bu?” jawab Kinasih dengan nada gemetar.

Sekar membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. “Maksudmu?”

“Ki Rekso menyuruh Mas Yazid tunggu di luar!” tangis Kinasih pecah. “Setiap kali masuk ruang itu, pintu dikunci dari dalam. Aku dipanggil sendirian, Bu! Nggak ada Mas Yazid!”

Kata-kata Kinasih menghantam dada Sekar seperti hantaman godam besi. Kepala Sekar seketika berdengung nyaring, napasnya tersengal. Iblis itu telah menipunya! Muslihat yang sama, pola yang sama, ruang gelap yang sama persis seperti yang merenggut masa kecilnya dulu. Rasa bersalah menyergap Sekar hingga lututnya lemas bertelut di lantai.

“Bilang sama Ibu, apa yang dilakukan Ki Rekso, Nduk?” tanya Sekar mendekati Kinanti, berjalan dengan lututnya.  Air matanya tak bisa dia bendung lagi. Kengerian menghunjamnya bertubi-tubi. Dia mencengkeram lengan Kinasih untuk berkata jujur, dan menceritakan semuanya. Sekar ingin kecemasannya salah. Dia ingin apa yang dipikirkannya keliru.

Lihat selengkapnya