Racun itu masuk dalam memori otak Sekar saat dia belajar ilmu agama di ruang khusus milik Ki Rekso. Katanya, ini adalah syarat untuk bisa menyelamatkan kedua orang tuanya dari api neraka. Anak yang baik dan pandai berdoa konon tiket surga bagi Bapak dan emaknya. Sekar yang masih delapan tahun mengimani itu. Jadi, ketika Ki Rekso memintanya tinggal di ruang belajar ilmu agama sendirian sedangkan yang lain keluar, dia menurut. Manut.
Selama belajar ilmu agama, tidak pernah ada yang masuk ke ruangan itu. Ki Rekso akan marah ketika dia mengajar ilmu agama dan ada yang mengganggunya. Namun, tiba-tiba Sekar merasa tidak nyaman ketika tatapan Ki Rekso berubah. Tidak seperti Guru atau Bapak atau Kakek atau Paman atau Saudara. Tatapan mata Ki Rekso lain seperti kerasukan, dan itu membuat Sekar takut, juga kalut. Pulangnya, setelah keringat dingin membanjir, air matanya pun ikut mengalir.
Ternyata, itu tidak sekali dua kali.
Setiap Sekar belajar ilmu agama di salah satu ruangan khusus, ketakutan menyergapnya tiba-tiba. Sekar tidak pernah tahu kapan serangan Ki Rekso itu datang. Namun, perutnya bergejolak melakukan protes karena jijik, mual, dan banyak perasaan yang tidak bisa didefinisikan. Pokoknya Sekar hanya ingin muntah saat dekat dan atau menatap mata cekung Ki Rekso.
Puncak kengerian itu terjadi saat telapak tangan tebal dan keriput Ki Rekso seperti tidak sengaja menyentuh dengkul Sekar. Lalu merambah ke atas, sedikit lagi ke atas, menyamping, lalu…. Otak Sekar pun mendadak beku. Seluruh tubuhnya kaku. Perutnya menggila, dan sialnya dia tak bisa melakukan apa-apa. Keringat dingin meloloskan diri dengan cepat. Air mata turun tanpa sendat. Sekar ingin teriak, tapi tak bisa! Dia seperti mangsa yang terjerat dan sebentar lagi akan dilumat hingga sekarat.
Namun, Tuhan masih melindunginya.
Isi perut Sekar yang berwarna kehijaun akibat memamah bayam muncrat tepat di wajah Ki Rekso.
Itulah kali terakhir Sekar belajar ilmu agama. Meski dia merasa menjadi anak durhaka karena kelak tidak bisa membawa orang tuanya ke surga.
*
Racun itu kini pun masuk ke benak anaknya satu-satunya dan membangkitkan trauma Sekar. Dia seperti kembali dalam sumur gelap itu lagi, tapi lukanya ini terasa lebih sakit dan perih berkali-kali lipat. Ya, karena sekarang anaknya pun bernasib sama dengannya. Dia telah berjanji, apa-apa yang membuat Kinasih sedih, Sekar bersiap untuk membalasnya. Termasuk mengakhiri nyawa suaminya sendiri.
Puncak emosinya itu dia terpuruk tak sadarkan diri di depan pintu ruang belajar ilmu agama.
Setelah Yazid menolong dan mengamankan Sekar di kamarnya, dia mengetuk keras pintu ruang belajar ilmu agama. Dia ingin menyelamatkan Kinasih dari tabiat mengerikan bapaknya.
“Ninja! Ada Ninja, Pak!” teriak Yazid panik. Dia ingin mengakhiri siksaan Kinasih dan membawanya pergi jauh-jauh dari Bapak.
Buru-buru Ki Rekso keluar dari ruangan. Dengan langkah tergesa-gesa dia menemui para penjaga. Ki Rekso tampak panik dan ketakutan.
“Semua siaga!” teriaknya terdengar mengerikan sampai dalam rumah.
Yazid tahu, bapaknya sedang cemas dan membentak para penjaga. Kesempatan itu digunakan Yazid untuk menolong Kinasih, menggandeng tubuhnya yang lemas ke kamar bersama Sekar.
Teriakan demi teriakan warga kampung Bumirekso saling bersahut pilu. Terdengar sampai dalam rumah Ki Rekso.
“Periksa rumah Ki Rekso. Terus bunyikan kentongan!” perintah ketua penjaga rumah Ki Rekso yang masih bisa didengar Yazid.
Kentongan pun dipukul bertalu-talu. Obor dan senter saling berebut, menerjang jalan-jalan sempit desa yang menerbangkan debu. Malam ini seluruh warga mendadak cemas saat lampu seluruh rumah padam dan hanya menyisakan cekam. Ya, karena itu berarti ninja akan datang!
Makhluk yang disebut ninja ini berpakaian serba hitam, menutup kepala, dan hanya tampak sepasang matanya yang tajam. Semua orang tahu, rumah incaran Ninja diberi tanda silang. Lalu dia akan menemui korban, untuk dibunuh dan disiksa di tempat persembunyian.
Baru malam ini, apa yang diceritakan saksi mata tentang Ninja di kampung sebelah telah terjadi di Dusun Bumirekso. Lampu mati, dan kilatan cepat seseorang berpakaian serba hitam tampak di jalanan dusun.