Mekar di Tanah Bumirekso

Nara Lahmusi
Chapter #21

BAB 19. DENDAM

Usaha pertama Sekar untuk membunuh Ki Rekso adalah dengan racun, seperti yang pernah Emak pernah lakukan. Di pagi hari setelah berdoa dan sarapan bersama, Sekar meminta izin untuk pergi ke hutan perbatasan. Dengan alasan menjenguk kuburan para sesepuh Ki Rekso, Sekar pun diizinkan pergi dengan syarat pulang sebelum matahari tepat di atas kepala. Sekar menyanggupi.

“Kenapa Kinasih tidak ikut makan bersama?” tanya Ki Rekso setelah mengabsen semua orang yang tinggal di rumahnya melalui tatapan mata.

Sekar menegang. Napasnya tiba-tiba saja memburu. Sekuat tenaga dia mencoba mengendalikan diri, seolah tidak tahu apa yang dilakukan Ki Rekso selama ini saat belajar ilmu agama.

“Kin sakit, jadi sarapan saya antar ke kamar,” jawab Sekar cepat. Dia juga menunduk, tak sanggup untuk menatap mata Ki Rekso yang rimbun dengan garis-garis keriput.

“Nanti bawa ke Puskesmas,” ujar Ki Rekso perhatian. Namun, hal itu membuat Sekar makin takut sekaligus jijik.

“Tidak perlu, Pak. Kin hanya kelelahan. Sekalian saya minta izin untuk Kin libur belajar ilmu agama dulu.”

Tidak ada perubahan ekspresi dari wajah Ki Rekso saat membahas Kinasih dan belajar ilmu agama. Sekar semakin benci dengan wajah suci tak merasa bersalah sama sekali.

“Semoga dia lekas sembuh, biar bisa kembali belajar,” pungkas Ki Rekso sebelum melahap sarapannya yang tak kurang sama sekali.

Setelah ritual sarapan pagi, Sekar pun berjalan kaki ke hutan perbatasan yang kini tampak kerontang. Gersang. Daun-daun pohon meranggas, menguning, dan berjatuhan. Tanaman liar kurus, kurang air. 

Sekar mengeluarkan pisau kecil dari bajunya dan melepas sandalnya dan merasakan pecahan-pecahan tanah akibat kemarau yang kelewatan. Nyanyian berbagai macam burung yang biasa menyapa Sekar, kini bungkam. Mereka tidak terdengar antusias, bahkan sepertinya hanya beberapa ekor saja yang bersuara. Kicauannya jarang, seperti keluh dan penderitaan atas kekeringan. 

Burung-burung itu seakan ingin memberikan kabar duka kepada Sekar yang berjalan di antara pohon-pohon puspa yang daunnya mulai kecokelatan. Melati hutan itu kini tak berbunga. Aromanya tak berbekas. Sebelum kekeringan melanda, Sekar akan disambut juga dengan samar-samar aroma wangi kamboja tua di pemakaman. Namun, kini tak ada penyambutan, karena kamboja-kamboja di hutan telah lama menggugurkan bunganya. Hanya aroma dupa dari sesajen yang tak pernah hilang dari sana.

Sekar masuk lebih dalam ke hutan dan berjalan tanpa alas kaki di antara pohon-pohon lerak dan nagasari yang menguning kering. Sekar melewati jalan setapak sempit sekitar empat jengkal tangan orang dewasa. Satu-satunya jalan yang terbentuk alami karena sering diinjak dan dilewati. Sekar berjalan menyusuri hutan, untuk datang ke kuburan.

Kakinya tiba-tiba saja terasa lemas saat pusara milik Preman sudah terlihat. Nisan dari kayu dengan pahatan nama asli itu seperti mengisap tenaga Sekar. Ya, Preman pernah memohon jika kelak dia mati, dia ingin menggunakan namanya di nisan sebagai tanda dia telah memaafkan dan berdamai dengan orang tuanya. Dia ingin mati dengan tenang dan bebas tanpa belenggu apa-apa lagi di dunia. 

Sekar pun ambruk di depan pusara suaminya. Dia menangis tersedu-sedu merasa bersalah, menyerah, dan kalah melawan Ki Rekso. Namun, hari ini dia putuskan ingin melawan. Dia tidak ingin lari lagi. Dan sebelum menjalankan rencananya, dia ingin meminta restu dari Preman agar diberi keberanian dalam mempermainkan nyawa orang. Lebih-lebih orang suci seperti Ki Rekso.

“Mas, hari ini mungkin aku akan benar-benar menjadi perempuan pencabut nyawa. Jadi, tolong aku, Mas. Bantu aku. Pinjamkan keberanianmu walau segenggam tanganmu,” pinta Sekar kepada nisan Preman dengan mata yang telah basah.

Setelah menceritakan semua yang dia alami setelah menikah dengan Ki Rekso dan alasannya menyerah, Sekar pun beranjak walau terasa berat. Dia mencium pusara kayu itu dengan segenap rindu. Sekar bangkit, melangkah lagi untuk mencari tempat tanaman beracun yang pernah Emak petik.

Lihat selengkapnya