Malam ini, Sekar akan melancarkan rencana keduanya. Rencana pertamanya gagal. Racun di teh Ki Rekso tidak bereaksi sama sekali. Sepertinya dia tidak akan mati hanya dengan meminum teh campuran itu. Sekar baru bisa mengeksekusi rencananya setelah Ki Rekso mengungsi ke rumahnya. Untuk itu, dia harus mempersiapkannya terlebih dahulu.
Sekar pergi ke gudang rumah Ki Rekso untuk menyembunyikan cat dalam tas perlengkapan yang nanti akan dibawa Ki Rekso pindah sementara. Hanya itu yang dia butuhkan. Namun, sial! Saat akan berjalan ke belakang rumah, Ki Rekso menahannya. Matanya memerah dan tatapan iblis penuh nafsu tertuju kepadanya. Sekar ingin muntah. Dia pun berlari menghindar, tapi Ki Rekso menarik lengannya. Sekar terkunci hingga tak bisa lari lagi.
“Ini siang! Ini juga bukan hari Kamis!” teriak Sekar yang kini sedang ditonton oleh istri-istri lain Ki Rekso.
“Aku menginginkanmu sekarang juga. Menolak ritual, kamu pantas dipukul. Kamu kira aku tidak tahu rencanamu?” ancam Ki Rekso yang tampak kehilangan kesabaran. Ki Rekso tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia akan tampak ramah jika di luar kamar khusus untuknya bercinta. Dia tidak pernah melepaskan topengnya seperti ini. Apalagi di depan para istri dan Yazid.
“Apa perlu saya siapkan semuanya?!” tanya Maryamah tunduk, tanpa peduli perlawanan Sekar dan lolongan minta tolong.
“Tidak usah. Aku sudah nggak sabar!” putus Ki Rekso sambil menarik paksa lengan Sekar untuk mengikutinya ke arah kamar kawin dengan istri-istrinya.
“Kumohon, Pak, jangan sekarang,” pinta Sekar yang sudah memuntahkan isi mulutnya dan Ki Rekso tak sedikit pun berhenti menyeretnya ke kamar ritual. Setelah berhasil masuk, Sekar dilemparkan ke ranjang, dan Ki Rekso mengunci pintu kamar dan melempar kunci sembarang.
Tidak ada ritual, tidak ada acara berdoa, proses cocok tanam ini murni karena nafsu iblis Ki Rekso yang membludak di luar jadwal biasanya. Napas Ki Rekso memburu, matanya penuh nafsu, Ki Rekso menyeringai sambil melucuti pakaiannya sendiri. Dia pun menekuk dengkulnya di kasur, berjalan perlahan seperti hewan berkaki empat yang menemukan mangsa di depan. Rasanya dia ingin segera mencengkeram Sekar, menidurinya dengan seluruh debar dan gairahnya.
“Lepas bajumu sendiri atau aku lepaskan?” bisik Ki Rekso setengah mengancam. Sekar seperti kehabisan isi perut dan air mata. Dia ketakutan. Tubuhnya bergetar. Namun, Ki Rekso malah semakin binal. Dia menindih Sekar dan mengunci kedua tangannya ke atas. Sekar tak berdaya. Dia meronta, dan itu justru membuat Ki Rekso semakin suka.
“Tolong hentikan, Pak,” rintih Sekar yang justru memompa gairah Ki Rekso.
“Inilah kenapa kamu diciptakan. Untuk ini! Perempuan selalu di bawah, dimasuki laki-laki,” seru Ki Rekso dengan napas cepat. Tangannya yang kuat merobek baju Sekar. Dia tidak sabar untuk menelusuri setiap inci tubuh Sekar tanpa peduli posisi. Dia ingin menjadi pengembara bebas tanpa aturan.
Sekar seperti mati rasa. Tubuhnya dan jiwanya seperti terpisah. Dia memang menyerahkan tubuhnya, tapi tidak jiwanya. Tubuhnya seperti pohon, yang rela diapakan saja. Dia tidak lagi menangis, tidak lagi memejam, dia mematung seperti pohon tumbang. Rasa sakit tak lagi dia pedulikan hingga terasa hambar dan kosong. Sekar telah mati rasa.
Matanya terbuka menatap langit-langit ranjang. Di sana bayangan-bayangan orang-orang yang dia sayang datang. Bapak yang marah dan berteriak “lawan”, Emak yang mencoba membangkitkan semangat juang, dan Preman yang penuh amarah dan dendam berkata, Mana perempuan yang bisa membuat Preman takut? Di mana perempuan yang membuat Preman bertekuk lutut karena keberaniannya? Bunuh sekarang!
Teriakan Preman seperti hunjaman batu besar di dada Sekar yang sedang diremas-remas Ki Rekso. Napasnya menderu, dan kini tubuhnya kembali terisi oleh nyawa dan luka. Sekar akan melawan. Dia tidak ingin mengecewakan Bapak, Emak, Preman, dan Kinasih. Kekuatan seperti mengalir dalam pembuluh darahnya. Dia percaya karena masih muda, dan lawannya hanya Ki Rekso kan?
“Kamu tahu, ini bukan ritual. Tiap malam Jumat sudah kubiarkan jin-jin di tanahku mencicipimu dengan buas. Kali ini, giliranku, Sekar!”
“Jin?” desah Sekar mencoba memamah informasi yang dia dengar dari embusan napas cepat Ki Rekso.