Malam telah datang seolah lebih cepat dari biasanya. Rencana yang sudah disusun pun dilaksanakan. Sekar telah diselundupkan Maryamah ke rumahnya. Semua penghuni rumah Ki Rekso kini berkumpul di rumah Sekar. Rumah sempit itu terasa sesak. Apalagi, Sekar ingin satu-satunya kamar di rumahnya hanya boleh diisi oleh perempuan agar tak ketahuan keberadaannya oleh Ki Rekso. Para istri juga pasti tidak nyaman, jika mereka disatukan dengan pekerja-pekerja laki-laki milik Ki Rekso.
“Yid, kamu ikut masuk ke kamar perempuan. Jaga mereka,” perintah Ki Rekso menahan nyeri tak hanya di kemaluannya, tapi juga tubuhnya. Seperti ada kaca-kaca tajam yang sengaja disebar di seluruh badannya.
“Njih, Pak,” jawab Yazid patuh. Dia pun masuk ke kamar yang penuh dengan perempuan ibu-ibu tirinya. Dia disambut senyuman oleh Sekar.
Seperti malam lalu, lampu Dusun Bumirekso kini tiba-tiba padam. Gelap membungkus desa, meninggalkan cekam yang menggelisahkan. Seluruh warga tetap di rumah dengan jantung yang berdetak kencang. Mereka tahu, matinya lampu berarti datangnya Ninja. Tak ada yang berani bersuara ketika berisik langkah yang cepat terdengar dari genteng rumah mereka. Suara itu kerap dan lekas, membuat sang pemilik rumah sampai menahan napas. Mereka menangis dalam diam dan saling berpelukan.
Begitu juga di dalam rumah Sekar.
Tak ada yang bersuara bahkan bergerak. Mereka diam saling genggam tangan dan memejam. Suara langkah kaki pun mulai terdengar dari atas. Awalnya pelan. Namun, semakin lama semakin terdengar. Mereka tahu suara langkah itu mendekat dan kini tepat berada di atas mereka.
Sekar merapal doa.
Digenggamnya tangan Kinasih dan Yazid dengan tangan kanan dan kirinya. Suara langkah itu kini seolah merambat di dinding. Sekar bisa mendengarnya, dan dia tersenyum. Kemudian suara merambat itu pergi. Senyap. Hanya suara bising sayap nyamuk yang sanggup mereka dengar.
Kesunyian itu teramat panjang dan tegang.
Suara-suara samar kadang datang.