Untuk kali pertama, setelah bertahun-tahun dipanggang kemarau dan penderitaan, hujan akhirnya turun mengguyur tanah Bumirekso. Aroma tanah basah yang membumbung hangat seolah menyapu bersih sisa-sisa bau amis prasangka, duka, dan trauma masa lalu. Orang-orang Bumirekso tak lagi berani melabeli Sekar sebagai perempuan pencabut nyawa atau pembawa sial; mereka menyaksikan sendiri bagaimana perempuan yang dulu mereka hinakan justru menjadi tempat berlindung saat kiamat kelaparan melanda. Maryamah dan perempuan-perempuan lain pun kini berdiri tegap dengan kepala terangkat, bukan lagi sebagai pelayan berstatus janda rendah, melainkan sebagai pengasuh dan penjaga bagi komunitas baru tempat mereka saling menopang.
Sekar berdiri di ambang pintu, membiarkan rintik air hujan membasahi telapak tangannya yang dulu kasar oleh cangkul. Hatinya yang dulu diremuk ketidakadilan, kini mekar sepenuhnya di atas tanah tempat ia dilahirkan. Dia teringat rumah pertamanya yang hancur oleh kematian Bapak, rumah keduanya yang direnggut kekuasaan, dan tewasnya Preman, serta rumah ketiganya yang berubah menjadi sangkar berkedok kebaikan.
Namun hari ini, sambil menatap Kinasih yang tertawa riang menyongsong hujan bersama Yazid, Sekar akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan masa kecilnya, bahwa rumah sejati bukanlah bangunan gedong yang mengurung kebenaran, melainkan tempat di mana orang-orang memilih untuk saling menjaga, saling memeluk luka, dan hidup tanpa rasa takut.