Melati di Tangan Sang Penguasa Buta

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Tawaran Satu Miliar dan Sang Penguasa Buta

Di dalam ruangan sempit yang pengap, seorang gadis meronta sekuat tenaga.

"Lepasin aku! Aku mau pulang!" teriaknya, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki terdengar berat dan menyeramkan, membuat gadis itu refleks memejamkan mata rapat-rapat.

BRAKK!

Pintu tertendang keras. Seorang pria masuk sambil menopang tubuhnya dengan tongkat; kedua matanya tertutup perban tebal yang rapi.

"Kau bisa DIEM nggak?!" bentaknya, lalu melempar gelas ke arah gadis itu—beruntung gadis itu sempat menyingkir.

"Tolong lepaskan aku... aku ingin pulang," ucap Melati lirih, bibirnya bergetar hebat. Air mata kini mengalir deras tanpa bisa ia tahan.

"Kalau kau mau keluar, lunasi dulu hutang Pamanmu!"

"Ber... berapa besar hutangnya?" tanya Melati sambil menyeka air mata dengan tangan yang terikat. Kakinya terbelenggu begitu erat hingga kulit pergelangan kakinya memerah dan terasa perih.

"Sedikit saja. Satu miliar."

Pria itu melangkah perlahan mendekat.

"Satu miliar?!" Mata Melati membulat sempurna. Wajah mungilnya terlihat begitu polos, matanya besar dengan bulu mata lentik yang tebal—namun sayang, pria di hadapannya tak mampu melihat keindahan itu, karena kedua matanya telah buta.

"Kaget?" Pria itu mencoba meraba wajah Melati dengan jari kasarnya.

"Bisa... bisa dicicil?" tanya Melati dengan suara bergetar ketakutan.

"Cicil?!"

Cengkeraman kuat mendarat di dagu Melati, membuatnya meringis kesakitan.

"Tolong... jangan sakiti aku! Aku tidak tahu apa-apa! Yang berhutang kan Paman dan Bibi, kenapa aku yang jadi tumbalnya?" isaknya tersedu.

"Dasar tidak berguna! Kau di sini untuk melayaniku, bukan menangis tak jelas!"

"Kalau kau ingin tahu, tanya saja pada Harun! Dialah yang menjualmu padaku!"

Kepala Melati didorong keras hingga membentur dinding.

"Aaaahhh!"

"Sakit..."

Melati mencoba menahan tangisnya, takut pria itu akan bertindak lebih kejam jika mendengarnya menangis.

"Kalau aku dengar kau menangis lagi, jangan harap kau bisa melihat matahari besok!" bentaknya, lalu berbalik dan melangkah pergi.

"Tuhan... kenapa takdirku begini..." Melati menangis dalam diam. "Kenapa Paman dan Bibi tega melakukan ini padaku..."

Ia memegangi kepalanya yang terasa ngilu, lalu menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh dengan tongkatnya. Meski matanya tertutup rapat, langkahnya begitu pasti dan tegap—tak seperti orang buta pada umumnya.

"Dimas!" serunya lantang.

"Ya, Tuan!" Dimas segera mendekat.

"Berikan makanan pada wanita itu. Jangan sampai dia mati hanya karena kelaparan," titahnya singkat. Dimas mengangguk patuh dan segera melangkah pergi.

Pria itu adalah Azzam Pradana Putra. Seorang mafia yang namanya disegani dan ditakuti seantero kota. Namun tak ada musuh yang tahu rahasianya: Azzam sebenarnya buta total sejak kecelakaan yang menimpanya saat berusia dua puluh tahun. Sejak saat itu, ia selalu menutup matanya dengan perban tebal—karena baginya, memiliki mata namun tak bisa melihat sama sekali lebih menyakitkan daripada tak memilikinya.

"Azzam! Yuhuu, aku datang!"

Suara ceria itu terdengar, membuat Azzam mendengus kesal.

"Ngapain kau ke sini?" sentaknya ketus.

"Aku bawakan makanan enak! Kau harus coba!" seru gadis itu riang.

Gadis berwajah cantik dengan darah campuran itu adalah Anggraeni, keponakan Azzam. Meski masih kerabat, Anggraeni tak pernah peduli—di tempat asalnya, pernikahan antar kerabat masih diperbolehkan, dan hal itu membuatnya semakin berani mendekati Azzam. Ia begitu terobsesi pada sosok pria itu, bahkan tak peduli Azzam buta. Baginya, rahang tegas dan bibir tipis Azzam adalah pesona yang tak bisa ia lupakan.

"Aku sudah kenyang," tolak Azzam dingin.

"Ah, kok begitu sih? Aku sudah capek-capek masak khusus buat kamu," rengek Anggraeni tak menerima penolakan.

"Siapa yang menyuruhmu membawakannya?" Azzam hendak beranjak pergi.

"Lho, mau ke mana? Masa aku baru datang sudah ditinggal?" Anggraeni menahan lengan Azzam agak kuat.

"Kau mau apa sih?! Sudah kubilang aku tidak lapar! Jangan memaksaku!" amuk Azzam.

Namun Anggraeni memang keras kepala. Ia tak peduli pada nada suara tajam itu.

"Ayo, sekali saja cicipi," bujuknya sambil menyodorkan sendok ke bibir Azzam.

"Kubilang TIDAK!"

Azzam merebut piring dan sendok itu, lalu melemparkannya ke lantai.

PRANG!

Lihat selengkapnya