"Biarkan tema-tema tajam dan analitis seperti ini ditulis oleh penulis-penulis pria yang lebih menguasai medannya."
Kalimat itu masih terngiang jelas, bergema tajam di dalam kepala Rania bagaikan sembilu yang menyayat ketenangannya. Telepon genggam di atas meja kayu tua itu baru saja mati beberapa detik lalu, meninggalkan nada tut-tut-tut yang dingin. Panggilan telepon dari seorang editor senior sebuah penerbit ternama di Jakarta itu secara halus namun telanjang baru saja meremukkan draf novel terbarunya.
Bukan karena alur ceritanya yang bolong, bukan pula karena risetnya yang dangkal. Melainkan semata-mata karena Rania adalah seorang perempuan.
Napas Rania memburu. Dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang membakar tenggorokannya. Jemari tangannya mengepal erat di atas meja, hingga buku-buku jarinya memutih.
Hanya karena aku perempuan, aku cuma boleh menulis tentang penderitaan cinta dan air mata? batinnya berteriak, sarat akan kemarahan yang tertahan.
Rania menarik napas panjang, mencoba menguasai gemetar di tangannya. Matanya beralih menatap mesin ketik tua merk Royal berbadan besi hitam yang bertengger kokoh di hadapannya. Mesin ketik peninggalan Bapak. Dulu, sebelum demensia merenggut ingatan sang ayah dan memaksanya beralih menuliskan lima kertas catatan kuning dengan spidol, Bapak menggunakan mesin ketik inilah untuk mencatat berkas-berkas toko kainnya.
Bagi Rania, menekan tuts-tuts besi yang tebal ini bukan sekadar gaya hidup melambat ala penulis muda Jogja, melainkan sebuah terapi fokus. Di tengah riuk godaan notifikasi dunia digital dari laptopnya yang terlipat di sisi kiri meja, ketukan manual ini memaksanya jujur pada setiap kata.
Tanpa ragu, Rania memajukan posisi duduknya. Ia meluruskan punggung, lalu menghantamkan jari-jarinya ke atas tuts-tuts besi berdebu itu dengan hentakan yang tegas dan bertenaga.
Suara ketukan logam yang menghantam pita tinta berbunyi nyaring membelah keheningan. Setiap kali tuas besi itu menjejak kertas tebal berukuran A4, Rania menyalurkan seluruh kekesalan dan amarahnya menjadi larik-larik kalimat perlawanan. Suara ketukan yang ritmis dan keras itu seolah menjadi detak jantung keduanya—sebuah pembuktian bahwa suaranya tidak akan pernah bisa dibungkam oleh prasangka siapa pun.
Aroma kayu jati tua dan seduhan teh tubruk melati yang mengepul tipis di ruang tengah rumah restorasi Yogyakarta itu perlahan menyatukan fokusnya kembali. Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela kayu berdaun ganda, membiaskan pendar cahaya keemasan di atas meja kerja peninggalan Bapak.
Tiga bulan telah berlalu sejak acara syukuran rumah restorasi dan peringatan kepergian Bapak. Kehidupan di rumah kampung ini telah menemukan iramanya yang tenang. Mas Andra mengurus bisnis dan keluarganya di Tangerang, sementara Dika sedang sengit-sengitnya membangun nama studio musiknya di Jakarta Pusat. Rania memilih menetap di sini, mencoba merajut jalan hidupnya sendiri sebagai seorang novelis independen.
Namun, ketenangan fisik di rumah kampung itu tidak serta-merta membuat isi kepala Rania menjadi tenang. Sejak novel pertamanya yang menceritakan tentang dinamika keluarga dan perawatan pasien demensia mendapatkan apresiasi yang hangat, Rania justru mulai menghantam tembok tebal bernama diskriminasi gender di industri kreatif.
Rania menghentikan ketukannya sejenak, menatap bingkai kaca tebal yang tergantung tepat di atas meja kerjanya. Di dalam bingkai itu, lima lembar kertas catatan kuning peninggalan Bapak berdiri dengan sangat terhormat.