Tiga hari telah berlalu sejak panggilan telepon yang menghantam mentalnya, namun gema nada dingin dari ujung saluran itu masih tersisa di kepala Rania. Lembaran-lembaran kertas A4 berseri hasil ketukan mesin ketik tua milik Bapak tersusun rapi di sudut meja kerja kayu jati di rumah restorasi. Setiap kali pandangannya jatuh ke tumpukan itu, dada Rania terasa sesak. Pikirannya butuh udara luar. Ia perlu melangkah keluar sejenak, meloloskan diri dari kepungan ingatan dan rasa bersalah, sekaligus melihat sejauh mana riak dunia kepenulisan di Jogja tengah berdenyut.
Sore itu, halaman Pustaka Kota—sebuah ruang kreatif independen yang memadukan toko buku, kafe, dan ruang diskusi di kawasan Bulaksumur—terlihat riuh. Lampu-lampu bohlam gantung berwarna kuning hangat mulai menyala satu per satu, berpendar ganjil di antara rindangnya daun pohon kersen dan deretan rak buku kayu tinggi yang menjulang hingga mendekati atap. Aroma seduhan biji kopi Arabika bersilang dengan bau kertas tua yang khas, menciptakan atmosfer intelek yang biasanya menenangkan, namun kali ini terasa sedikit mengintimidasi.
Rania memilih duduk di barisan kursi kayu tengah, berusaha membaur dengan deretan pengunjung lain. Di tangannya, seangkring kopi hitam dingin yang esnya telah mencair sepenuhnya tak lagi dipedulikannya. Fokus matanya tertuju pada panggung kayu berukuran empat kali empat meter di depan ruangan, tempat sebuah diskusi panel mingguan bertajuk "Arah Sastra Kontemporer: Menembus Batas Realitas Sosial" tengah berlangsung.
Dua pembicara duduk di atas sofa kulit cokelat yang tampak agak mengelupas di bagian sudutnya. Salah satu pembicara adalah Danang Baskoro, seorang novelis pria paruh baya bertubuh gempal yang baru saja menerbitkan buku analisis budaya politik. Danang dikenal vokal, tajam, dan memiliki pengaruh cukup kuat di lingkaran sastra lokal. Di sampingnya duduk sang moderator, seorang mahasiswa tingkat akhir berjarik dan berkemeja linen longgar yang sesekali melemparkan pertanyaan pemicu dengan nada kagum.
"Realitas sosial kita hari ini butuh keberanian mutlak untuk membedah struktur," ujar Danang, suara bass-nya yang berat bergema penuh wibawa lewat pengeras suara. Jemarinya yang menggenggam cangkir keramik bergestur tegas di udara. "Penulis zaman sekarang tidak boleh loyo. Harus paham dialektika, hukum, dan konstruksi kekuasaan yang bekerja di balik layar. Kalau tulisan hanya berputar di balik tembok kamar, mengurus emosi personal, ya itu bukan fiksi sosial. Itu cuma fiksi komersial sentimental yang berniat mengeksploitasi kesedihan."
Tawa kecil bernada sepakat meledak ringan dari deretan penonton di barisan depan, mayoritas mahasiswa dan penggiat komunitas sastra pria yang mengangguk-angguk khidmat.
Rania merasakan denyut perih mendadak menghantam ulu hatinya. Kalimat itu, meski diucapkan secara umum, terasa seperti tamparan langsung yang menghantam naskah pertamanya tentang perjuangan merawat Bapak—sebuah karya yang oleh orang-orang seperti Danang mungkin akan dengan mudah dicap sekadar "fiksi sentimental".
Ketika sesi tanya jawab akhirnya dibuka, jemari Rania terangkat ke udara sebelum pikirannya sempat mencegah. Anggukan cekatan dari moderator memberinya ruang untuk berdiri. Rania merapikan letak selendang tenun yang menyilang di bahunya, mencoba menutupi gemetar tipis di jemarinya, lalu menerima mik portabel yang disodorkan oleh panitia.