Langkah kaki Rania menyusuri trotoar kawasan Kotabaru yang dinaungi deretan pohon flamboyan tua. Sisa-sisa amarah dari ruang diskusi Pustaka Kota masih berdesing halus di pelipisnya, namun hawa sejuk sore Yogyakarta perlahan menurunkan tensi dadanya. Rania tidak ingin langsung pulang ke rumah restorasi dengan pikiran yang keruh. Ia butuh ruang netral—sebuah tempat di mana ide-ide tidak ditimbang berdasarkan siapa yang menyuarakan, melainkan murni dari apa yang terpancar.
Langkah kakinya membawanya berhenti di depan sebuah bangunan tua bergaya kolonial dengan dinding cagar budaya yang terawat. Di atas pintu kayu tinggi berlapis cat putih pudar, tergantung papan nama besi Galeri Bentang Seni.
Hari itu, galeri sedang menggelar pameran seni rupa independen bertajuk "Batas dan Distorsi". Tanpa ragu, Rania melangkah masuk melintasi ambang pintu. Suasana di dalam ruangan sangat kontras dengan keramaian Bulaksumur tadi. Di sini, keheningan menyelimuti udara, diselingi dengung halus kipas angin gantung dan aroma cat minyak, terpentin, serta kain kanvas basah yang khas.
Rania berjalan pelan di atas lantai tegel kunci bermotif klasik, mengamati satu per satu lukisan yang terpajang di dinding putih galeri. Ada lukisan lanskap surealis, instalasi besi berkarat, hingga potret abstrak dengan garis-garis tegas. Namun, langkah Rania mendadak terhenti total saat ia sampai di sudut terdalam galeri.
Di dinding utama sudut tersebut, tergantung sebuah kanvas raksasa berukuran dua kali tiga meter. Lukisan itu didominasi oleh sapuan warna-warna gelap—biru tua pekat, abu-abu arang, dan hitam terpentin. Namun, di tengah kepungan gelombang warna pekat itu, terpancar lelehan warna terracotta dan jingga keemasan yang sangat berani.
Warna keemasan itu membentuk tekstur kasar dari sosok seorang perempuan yang berdiri membelakangi pengamat. Tubuh perempuan itu tidak digambarkan dengan kelembutan yang gemulai atau tak berdaya; garis bahunya tegap, kepalanya terangkat tinggi, dan kedua telapak tangannya menahan gempuran lelehan cat hitam yang seolah hendak menenggelamkannya. Lukisan itu tidak berusaha menjual penderitaan, melainkan memancarkan ketangguhan yang tenang—sebuah perlawanan yang anggun namun tak tergoyahkan.
Rania berdiri terpaku. Matanya menyusuri setiap tekstur cat minyak yang tebal dan menimbul dari permukaan kanvas. Ada rasa haru ganjil yang mendadak meletup di dalam dadanya. Lukisan ini seolah-olah menyuarakan seluruh isi hatinya yang tadi sore dibungkam di Pustaka Kota. Tanpa sadar, Rania melangkah satu jengkal lebih dekat, tangannya terulur melayang di udara, hampir menyentuh gumpalan cat kering di sudut bawah kanvas.
"Tekstur di bagian itu masih agak rapuh kalau disentuh langsung."
Sebuah suara bernada rendah, tenang, dan jernih menginterupsi keheningan dari arah samping belakangnya.
Rania terperanjat pelan, mendadak menarik kembali tangannya dan menoleh.