Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #4

Teh Pertama di Galeri Tua

Pekarangan belakang Galeri Bentang Seni terasa bagaikan sebuah oase kecil yang tersembunyi di tengah himpitan bangunan kolonial Kotabaru. Dinding-dinding bata merah tanpa plester ditumbuhi tanaman sulur hijau yang lebat, sementara beberapa pot tanaman suplir dan pakis haji tertata rapi di sudut-sudut lantai batu. Di tengah pekarangan itu, berdiri sebuah meja kayu jati tebal yang mulai kusam dilindungi oleh payung kain tebal.

Damar kembali dari arah dapur kecil galeri sambil membawa sebuah nampan kayu. Di atasnya terdapat dua cangkir tanah liat yang memancarkan aroma uap teh poci hangat, bersanding dengan piring seng berisi pisang goreng hangat yang baru saja ditaburi sedikit gula kayu manis.

"Silakan, Rania," ujar Damar ramah seraya menata cangkir di hadapan Rania. Ia lalu duduk di kursi kayu berseberangan, memposisikan duduknya dengan santai tanpa jarak yang mengintimidasi. "Hanya ada teh poci lokal dan pisang goreng sederhana. Semoga pas untuk udara sore yang mulai dingin ini."

Rania menyungkringkan senyum tulus, menghirup aroma uap teh yang membumbung tipis. "Ini lebih dari cukup, Mas Damar. Terima kasih."

Suasana hening sejenak merayap di antara mereka. Hanya ada desir angin sore yang menggoyahkan daun-daun kersen di atas head board pekarangan dan suara kendaraan dari jauh yang terdengar samar. Namun, keheningan itu tidak terasa canggung; ada kehangatan alami yang membuat Rania merasa aman untuk meluruskan kakinya.

Damar memegang cangkirnya, menyesap tehnya perlahan sebelum memandang Rania dengan tatapan ingin tahu yang sopan. "Jadi ... pertanyaan apa yang tadi sempat mengganggu pikiranmu sebelum melihat Resonansi Batu Karang?"

Rania menarik napas panjang. Ia sempat ragu sejenak, terbiasa membentengi diri setelah perlakuan dingin yang ia terima dari para editor dan penonton diskusi di Pustaka Kota. Namun, tatapan mata Damar yang teduh dan jujur meluluhkan pertahanannya.

"Saya baru saja datang dari forum diskusi sastra di Bulaksumur," mulai Rania, suaranya tenang walau ada getaran ketegasan yang tertahan. "Seorang novelis senior di sana terang-terangan bilang kalau tulisan perempuan yang mengangkat sudut pandang emosional atau ruang domestik itu tidak punya nilai analitis yang tajam. Katanya, kalau mau membedah konflik sosial atau hukum, harus pakai pisau bedah yang 'dingin' dan 'objektif'—yang menurut dia cuma bisa dilakukan oleh penulis pria."

Lihat selengkapnya