Dua minggu berlalu sejak sore pertama Rania melangkah ke Galeri Bentang Seni. Sejak saat itu, irama hidup Rania menemukan muara baru yang jauh lebih berwarna. Jika pagi harinya dihabiskan di atas meja kayu peninggalan Bapak—menatap lima lembar catatan kuning di dalam bingkai sambil menghantamkan jemari pada tuts-tuts besi mesin ketik tua—maka sore harinya hampir selalu bermuara di sudut Kotabaru.
Sore itu, hujan gerimis menyapu halus jalanan batu di depan galeri tua. Suara tetesan air yang menghantam atap seng bagian samping menciptakan simfoni alami yang menenangkan. Di ruang kerja pribadi Damar—sebuah ruangan luas beratap tinggi dengan dinding bata terekspos dan aroma terpentin yang pekat—suasana terasa begitu hening, hangat, dan produktif.
Rania duduk di sofa kain hijau pudar yang terletak di sudut ruangan, memangku laptopnya yang menyala untuk merapikan hasil ketikan manualnya dari rumah. Namun, jemarinya di atas papan ketik mendadak berhenti. Pandangannya teralih pada Damar yang berdiri sekitar tiga meter di hadapannya.
Damar sedang berdiri menatap sebuah kanvas putih berukuran sedang yang bertengger di atas easel kayu. Mengenakan kemeja katun berlengan pendek yang dinodai jejak cat mengering, pria itu memegang sebatang arang lukis (charcoal) di antara jemari tangan kanannya. Dahinya sedikit berkerut, fokus matanya begitu tajam menembus kanvas, seolah-olah ia sedang memindahkan sebuah bayangan dari alam pikirannya langsung ke atas kain kassa tersebut.
Ada keindahan yang ganjil dan memikat dari cara Damar bekerja. Pria itu tidak tergesa-gesa; setiap goresan tangannya terukur, penuh pertimbangan, namun dieksekusi dengan keberanian yang mutlak. Tidak ada kepura-puraan di dalam studio itu.
"Rania," panggil Damar pelan tanpa menoleh, memecah keheningan di antara desis gerimis luar.
"Ya, Mas Damar?" sahut Rania, merapikan letak kacamata bacanya.
"Boleh saya minta kamu menahan posisi dudukmu seperti itu sebentar saja?" Damar memutar tubuhnya sedikit, menatap Rania dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang tenang. Ada binar ketertarikan artistik yang jujur di sana. "Gestur kepalamu yang sedikit miring dan caramu memegang cangkir itu ... komposisinya sangat presisi dengan sudut cahaya dari jendela."
Rania tertegun sejenak, merasakan desir hangat merayap di sepanjang tengkuknya. "Mas Damar mau melukis saya?"
Damar tersenyum tipis, menggoyangkan batang arangnya pelan. "Hanya sketsa kasar. Bukan potret resmi yang harus membuatmu duduk kaku satu jam. Saya cuma ingin menangkap 'ruang' di sekitarmu saat kamu sedang hanyut dalam tulisanmu."
"Tapi saya bukan model lukis, Mas," ujar Rania, ada nada canggung yang manis dalam suaranya.
"Justru karena kamu bukan model profesional, makanya ekspresimu jujur," balas Damar mantap, suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. "Seni tidak butuh kepura-puraan, Rania. Posisi dudukmu yang tegak namun rileks itu memancarkan ketenangan seseorang yang tahu persis apa yang sedang dipertimbangkannya."
Rania mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya kembali pada sofa kain hijau, mencoba untuk tetap bersikap alami walau dadanya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia membiarkan Damar mulai menggerakkan batang arangnya di atas kanvas.