Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #6

Resonansi Karya

Seminggu telah berlalu sejak sore berhujan di mana Damar menggoreskan arang pada kanvas dan melahirkan sketsa tanpa wajah itu. Sejak hari itu, ada getaran energi baru yang mengalir deras di dalam dada Rania. Setiap kali ia duduk di depan meja kayu jati rumah restorasi Yogyakarta, menatap lima lembar catatan kuning peninggalan Bapak yang terbingkai rapi, Rania tak lagi mengetik dengan bayang-bayang amarah atau rasa kerdil.

Ucapan Damar di dalam studio tua itu—bahwa emosi bukanlah lawan dari logika, melainkan jiwa yang membuat logika itu bernyawa—menjadi bahan bakar mutlak yang membakar habis keraguannya. Suara ketukan mesin ketik tua merk Royal peninggalan Bapak bergema makin nyaring, makin tegas, dan tak lagi ragu-ragu membedah ketidakadilan sosial dari sudut pandang seorang perempuan.

Siang itu, pendar sinar matahari menerobos lewat sela-sela jendela kayu berdaun ganda, membiaskan cahaya keemasan di atas tumpukan kertas A4 yang kian menggunung di sisi kiri meja Rania.

Rania menyapu keringat tipis di keningnya saat mendengar langkah kaki mantap mendekati teras depan rumah restorasi, disusul ketukan pelan tiga kali di daun pintu yang terbuka separuh.

"Permisi ... Rania?"

Rania mendongak dari mesin ketiknya. Senyum hangat seketika terbit di wajahnya saat melihat Damar berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna krem dengan celana kain gelap yang rapi. Gaya pakaiannya sederhana, namun tetap menyisakan bercak cat minyak tipis berwarna terracotta di ujung lengan kemejanya—sebuah penanda khas bahwa ia baru saja bergelut dengan kanvas sebelum datang ke sini. Di tangan kirinya, Damar membawa sebuah tabung gambar dari plastik hitam tebal.

"Mas Damar!" Rania segera bangkit dari kursi kayunya, berjalan menyambut Damar di teras depan. "Masuk, Mas. Kebetulan sekali saya baru saja memutarkan rol kertas terakhir untuk hari ini."

Damar melepas alas kakinya di ambang pintu, melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah restorasi dengan penuh rasa hormat. Matanya mengedari ruangan beratap tinggi itu—dinding bata ekspos, perabotan kayu antik, dan terkhusus: meja kerja Rania tempat mesin ketik tua dan bingkai kaca lima kertas kuning peninggalan Bapak bertengger.

"Rumah ini punya aura yang sangat tenang, Rania," ujar Damar pelan, suaranya dipenuhi ketakjuban yang tulus dan penuh penghargaan. "Pantas saja tulisan-tulisanmu punya kedalaman batin yang begitu kuat. Tempat ini seperti menyimpan ingatan yang dijaga dengan sangat hidup."

"Ini rumah peninggalan orang tua saya," jawab Rania seraya mempersilakan Damar duduk di kursi kayu berukir di dekat meja. "Setiap sudutnya direstorasi oleh Mas Andra dan Dika supaya ingatan tentang Bapak tetap hidup di sini."

Damar melangkah mendekati meja kerja Rania, matanya tertuju pada bingkai kaca tebal di dinding. Ia berdiri di sana dalam keheningan yang cukup panjang, membaca baris demi baris dari lima lembar kertas catatan kuning dengan tulisan tangan Bapak yang sedikit gemetar itu dengan saksama.

Lihat selengkapnya