Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #7

Penolakan yang Bermartabat

Sisa gerimis semalam masih meninggalkan aroma tanah wetah yang pekat di luar jendela rumah restorasi. Pagi baru saja merayap, namun Rania sudah duduk membisu di depan meja kerjanya. Cangkir teh melati di sampingnya telah membiarkan uap hangatnya menghilang sepenuhnya, berganti menjadi cairan dingin yang tak tersentuh.

Di layar laptopnya yang menyala remang, sebuah surel balasan dari penerbit ternama di Jakarta terpampang bisu. Tidak ada kutipan panjang yang perlu ia baca berulang kali; garis besar dari pesan formal itu sudah cukup untuk menikam dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat.

Penerbit itu menyukai namanya yang mulai dikenal pascakarya pertama. Namun, mereka menolak mentah-mentah jalan pikiran yang ia tuangkan dalam Melawan Arus. Mereka menuntut porsi kritik sosial dan analisis politik desanya dipangkas habis—dibuang ke tong sampah—lalu digantikan dengan drama romansa picisan yang aman, dangkal, dan mudah dijual.

Dada Rania naik-turun menahan sesak. Ada sensasi panas yang membakar di balik matanya, mendesak air mata kecewa untuk jatuh. Bukan karena naskahnya ditolak, melainkan karena ia merasa pemikirannya dilecehkan. Ia merasa dipandang tak lebih dari sekadar mesin pencetak kata-kata manis yang dipaksa melipat lutut demi kompromi pasar.

Apakah seorang perempuan memang tidak berhak memiliki pemikiran yang tajam? batinnya menjerit pedih.

Tangannya yang gemetar terulur meraih bingkai kaca di atas meja. Di balik kaca bening itu, lima lembar kertas catatan kuning peninggalan Bapak berdiri tegap. Rania mengusap permukaannya yang dingin, merasapi jejak tulisan tangan Bapak yang gemetar namun sarat akan keteguhan batin.

IKATAN KITA ADALAH ATAPNYA.

STRUKTUR RUMAH KITA TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH.

Kata-kata Bapak seolah menjelma menjadi hembusan angin hangat yang mengusap kepalanya. Bapak tidak pernah mengajarinya untuk merendahkan diri hanya agar diterima oleh orang lain. Bapak mengajarkannya untuk menjadi pilar yang kokoh, sekokoh dinding restorasi yang menopang rumah ini dari gempuran zaman.

Rania menyapu sudut matanya yang basah dengan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu memosisikan jemarinya di atas papan ketik. Tanpa keraguan, tanpa emosi yang meluap-luap, ia mengetikkan balasan singkat untuk menarik kembali seluruh draf naskahnya dari penerbit tersebut.

Ketika tombol penarikan naskah itu ditekan, Rania menutup laptopnya dengan hentakan pelan. Ada harga mahal yang harus dibayar dari keputusan ini: ia baru saja menutup salah satu pintu penerbitan terbesar di ibu kota. Namun, di dalam rongga dadanya, rasa bersalah dan kerdil itu sirna seketika, berganti menjadi sebentuk kebanggaan yang utuh dan bermartabat.

Lihat selengkapnya