Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #8

Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Kabar penarikan naskah dari penerbit Jakarta menyebar dengan cepat di antara jejaring penulis muda dan lingkaran komunitas sastra Yogyakarta. Bagi sebagian orang, tindakan Rania dianggap sebagai langkah gegabah seorang penulis pemula yang terlalu impulsif. Namun bagi Rania, setiap huruf yang tertuang dari mesin ketik tua peninggalan Bapak adalah bagian dari kehormatan dirinya yang tak dapat ditawar.

Pagi itu, udara di rumah restorasi terasa sejuk. Rania duduk di sudut teras depan, membiarkan jemarinya menganyam kembali lembaran draf Bab 15. Di meja kecil di sampingnya, cangkir teh poci yang masih mengepulkan uap tipis menemaninya.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik saat sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang besi rumah restorasi. Dari dalam mobil, turun seorang pria berusia akhir tiga puluhan. Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang tersetrika rapi, celana bahan gelap, dan kacamata berbingkai tipis. Posturnya tegap, cara jalannya tenang namun menyebarkan aura dominasi yang terukur.

Rania membeku sejenak di kursinya. Jantungnya berdegup tak beraturan saat mengenali sosok tersebut.

Rian.

Mantan kekasihnya semasa Rania masih tinggal di Jakarta dua tahun lalu—seorang editor eksekutif muda di salah satu jaringan penerbitan besar yang dulu pernah mengisi hari-harinya, sebelum perbedaan nilai dan ambisi memisahkan mereka secara dingin.

"Rania," sapa Rian dengan suara rendah yang sangat dihafal Rania. Pria itu menghentikan langkahnya di anak tangga teras teratas, mengedarkan pandangan sejenak mengamati bangunan kayu restorasi sebelum menatap Rania lurus-lurus. "Lama tidak bertemu."

Rania merapikan tumpukan kertas di mejanya, mencoba menguasai kestabilan suaranya. Ia berdiri, namun tetap menjaga jarak aman di balik meja.

"Mas Rian," balas Rania tenang, meski ada getaran asing di dadanya. "Ada angin apa sampai datang ke Jogja?"

Rian tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh perhitungan profesional yang dulu pernah membuat Rania kagum sekaligus terasing. Pria itu menarik salah satu kursi kayu dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.

"Saya dengar kamu menarik draf Melawan Arus dari Pustaka Aksara," ujar Rian langsung pada intinya, menyilangkan kakinya dengan santai. "Kabar itu sampai ke meja kerja saya kemarin sore di Jakarta."

Lihat selengkapnya