Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #9

Gerakan Dari Pinggiran

Kunjungan Rian dan bayang-bayang masa lalu Jakarta yang sempat melintas di teras rumah restorasi tidak sedikit pun menyurutkan langkah Rania. Penolakan tegas yang ia lontarkan kepada mantan kekasihnya itu justru menjadi ajang pembuktian bahwa dirinya tak lagi membutuhkan validasi dari industri yang hendak mengerdilkan pemikirannya. Keberaniannya berdiri di atas kaki sendiri telah membakar habis sisa-sisa trauma dan keraguan yang pernah membayangi langkahnya.

Pagi itu, suasana di ruang tengah rumah restorasi terasa sangat hangat dan hidup. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah jendela kayu berdaun ganda, membiaskan pendar cahaya keemasan di atas meja makan jati tua. Di atas meja, tertata cangkir-cangkir teh tubruk hangat, piring berisi pisang goreng, dan tumpukan naskah draf akhir Melawan Arus yang sudah tuntas diketik seluruhnya oleh Rania menggunakan mesin ketik peninggalan Bapak.

Di sekeliling meja itu, Rania duduk bersama Mas Andra yang sedang pulang sejenak dari Tangerang dan Dika yang sengaja menyempatkan diri mudik dari Jakarta di tengah kesibukan studio musiknya. Mas Andra dan adik laki-lakinya itu menyimak dengan khidmat saat Rania membacakan beberapa lembar bab terakhir yang baru saja diselesaikannya.

"Naskahmu ini sangat kuat, Nya," ujar Mas Andra seraya meletakkan cangkir tehnya perlahan. Matanya menatap adik perempuannya itu dengan rasa bangga yang amat dalam. "Jalur utama dari penerbit besar di Jakarta mungkin tertutup karena kamu menolak berkompromi, tapi Jogja ini punya ribuan pintu alternatif. Kita punya banyak jaringan penerbit independen, percetakan komunitas, dan kolektif seni yang justru haus akan karya yang punya keberanian batin seperti ini."

Dika, adik bungsu Rania yang duduk di samping Mas Andra dengan kaus hitam dan celana jins kusamnya, mengangguk antusias. "Setuju banget, Mbak. Kemarin pas Dika latihan drum bareng anak-anak komunitas di daerah Sewon, banyak teman-teman perupa dan aktivis kampus yang menanyakan kapan naskah Mbak Rania rilis. Mereka dengar cerita soal Mbak yang berani menarik draf dari penerbit Jakarta demi mempertahankan keutuhan isinya. Spirit perlawanan itu yang bikin orang-orang respek dan berempati."

Rania tersenyum hangat, merasakan keharuan merebak di dadanya. Dukungan dari abang sulung dan adik bungsunya—pilar-pilar yang menjaga rumah restorasi ini tetap berdiri kokoh—menjadi jangkar penguat yang luar biasa.

"Rania rencana mau cetak mandiri dan kerja sama dengan penerbitan kolektif kecil, Mas, Dik," sahut Rania dengan suara yang mantap dan jernih. "Bukan cuma sekadar menerbitkan buku dan menjualnya di toko, tapi Rania ingin peluncurannya nanti jadi ruang diskusi yang inklusif. Sebuah panggung di mana sastra, seni rupa, dan dialog sosial bisa melebur tanpa ada sekat-sekat patronase."

"Mas dukung penuh, Nya," tegas Andra, menepuk bahu Rania dengan penuh kasih sayang. "Nanti Mas yang bantu atur manajemen keuangan dan sistem prapenjualannya dari Tangerang. Kita buktikan kalau karya bermartabat bisa menemukan jalannya sendiri."

Lihat selengkapnya