Tiga minggu menjelang pameran kolaboratif di Galeri Bentang Seni, sudut ruang tengah rumah restorasi berubah menjadi markas kerja independen yang riuh namun tertata. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk lewat daun jendela kayu, menyinari tumpukan kertas kalkir, sampel jilid kain, dan draf desain sampul buku yang tersebar di atas meja kerja peninggalan Bapak.
Rania duduk membelakangi bingkai kaca lima kertas kuning, memangku laptopnya yang kini terhubung langsung dengan sistem pemesanan pra-jual mandiri. Di sampingnya, Mas Andra yang baru saja tiba dari Tangerang sedang sibuk merekap data transaksi keuangan, sementara Dika duduk bersila di atas karpet tebal seraya menata tumpukan pembatas buku dari kertas daur ulang.
"Nya, coba lihat angka ini," ujar Mas Andra dengan suara rendah yang menahan keterkejutan. Tangannya menunjuk pada layar kalkulator dan lembar rekapitulasi data di mejanya. "Sistem pra-jual baru kita buka empat hari lalu lewat jaringan media sosial dan tautan kolektif, tapi kuota cetakan pertama sebanyak lima ratus ekslempar sudah ludes terpesan."
Rania tertegun, menatap abangnya tak percaya. "Lima ratus eksemplar, Mas? Dalam empat hari?"
"Bahkan ada lebih dari dua ratus pesanan susulan di daftar tunggu," tambah Andra dengan senyum lebar yang jujur dan bangga. "Orang-orang tidak cuma membeli bukunya, Nya. Banyak dari mereka yang menyertakan catatan kecil di kolom pesan. Mereka bilang, mereka ingin mendukung keputusanmu yang menolak dipangkas oleh penerbit besar. Mereka ingin membaca narasi jujur yang lahir dari rumah ini."
Dika menghentikan jemarinya yang sedang mengikat pembatas buku, lalu terkekeh renyah. "Dika bilang juga apa, Mbak Rania. Anak-anak komunitas musik dan perupa di Jakarta sama Jogja itu paling respek sama ideologi yang konsisten. Waktu Dika sebar poster rilis Melawan Arus di studio, mereka langsung bikin gerakan share berantai. Kita nggak butuh baliho besar di jalan protokol Jakarta kalau jaringan akar rumputnya sudah solid begini."
Rania menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati, merasapi kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya. Perasaan getir saat menarik draf naskah dari Jakarta beberapa minggu lalu kini sepenuhnya sirna. Keputusan untuk memegang teguh martabat karyanya ternyata tidak membawanya pada kesunyian, melainkan membukakan pintu menuju ribuan dada pembaca yang haus akan kejujuran rasa.
Ia beralih menatap lima lembar catatan kuning peninggalan Bapak di dalam bingkai. STRUKTUR RUMAH KITA TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH. Tulisan tangan Bapak yang sedikit gemetar itu seolah sedang tersenyum padanya, mengagumi keteguhan anak perempuannya yang kini berdiri sebagai pilar yang sama kokohnya.
"Terima kasih ya, Mas Andra, Dika," bisik Rania tulus, menatap kedua saudaranya satu per satu. "Tanpa kalian berdua yang menjaga rumah ini dan mengurus teknisnya, Rania nggak akan sampai di titik ini."