Malam pameran dan peluncuran kolaboratif di Galeri Bentang Seni dibuka oleh gerimis tipis yang membasahi jalanan Kotabaru. Rintik air hujan tidak menyurutkan langkah ratusan pengunjung—mulai dari perupa muda, mahasiswa, hingga para pembeli yang telah memesan novel Melawan Arus sejak gelombang pra-jual pertama.
Dinding-dinding galeri dipenuhi karya seni rupa independen yang dipajang berdampingan dengan kutipan naskah Rania. Di sudut panggung utama, di depan kanvas raksasa Resonansi Batu Karang milik Damar, Rania duduk memegang buku cetakan pertamanya. Di barisan depan, Mas Andra dan Dika berdiri bersiap menyokongnya.
Namun, ketenangan dan kehangatan ruangan itu mendadak menguap ketika pintu kayu galeri terdorong keras.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan kemeja batik mahal melangkah masuk, diikuti oleh dua orang wartawan media seni arus utama. Suasana galeri yang tadinya riuh hangat mendadak berubah menjadi hening yang tegang.
Danang Baskoro. Kritikus sastra senior dari Jakarta yang dua minggu lalu terang-terangan meremehkan Rania di forum Bulaksumur.
Danang melangkah penuh percaya diri menembus kerumunan, memotong jalan menuju depan panggung tanpa memedulikan tatapan heran dari para pengunjung muda. Ia menghentikan langkahnya tepat di bawah panggung Rania, menyilangkan tangan di dada dengan sunggingan senyum sinis yang sarat patronase.
"Rania," panggil Danang, suaranya yang berat dan menggema sengaja ditunjukkan untuk mencuri perhatian seluruh ruangan. "Saya dengar kamu bikin gerakan 'perlawanan' kecil-kecilan di sini setelah menarik naskah dari penerbit besar."
Damar langsung melangkah maju ke depan panggung, memposisikan dirinya di antara Danang dan Rania. "Pak Danang, kalau Anda datang sebagai pengunjung, silakan nikmati pamerannya. Tapi ini panggung pembacaan karya, bukan forum debat unjuk kuasa."
Danang terkekeh remeh, mengibaskan tangannya ke arah Damar. "Jangan terlalu defensif, Mas Pelukis. Saya cuma prihatin melihat potensi penulis muda seperti Rania yang sengaja mengisolasi dirinya di pinggiran cuma karena tidak tahan menerima kritik profesional dari industri."
Danang memutar tubuhnya, menatap Rania lurus-lurus dengan nada menantang. "Kamu bilang tulisanmu membedah ketidakadilan hukum dan struktur desa secara analitis, Rania. Tapi dari potongan yang kamu sebar di media sosial, narasi ini cuma bentukan emosi sentimental perempuan yang naif. Kamu melarikan diri ke penerbitan independen ini bukan karena memperjuangkan ideologi, tapi karena kamu takut tulisanmu diuji oleh standar intelektual yang sesungguhnya, bukan?"