Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #12

Riak Rumor dan Ujian Ketahanan

Kemenangan telak atas intimidasi Danang Baskoro di panggung Galeri Bentang Seni tidak lantas membuat jalan yang ditempuh Rania mendadak mulus tanpa hambatan. Justru sebaliknya, keberanian Rania membungkam sang kritikus senior di hadapan publik justru memicu gelombang perlawanan balik dari kelompok-kelompok yang merasa terancam oleh eksistensi gerakan independen tersebut.

Dua hari setelah malam peluncuran yang fenomenal itu, udara pagi di Jogja terasa lebih dingin dari biasanya. Di meja makan kayu jati rumah restorasi, Rania duduk tertegun menatap layar ponselnya. Sebuah artikel opini yang diunggah di portal media budaya terkemuka arus utama menjadi perbincangan hangat di kalangan komunitas sastra.

Artikel tersebut tidak membedah kualitas riset atau kedalaman narasi novel Melawan Arus, melainkan menyerang personal Rania. Dengan narasi yang dibungkus rapi menggunakan istilah-istilah akademis yang dingin, penulis artikel itu melabeli Rania sebagai "penulis muda yang arogan, emosional, dan kekanak-kanakan". Rania dituduh sengaja menciptakan drama penolakan penerbit Jakarta dan insiden di galeri semata-mata sebagai trik pemasaran demi mendongkrak penjualan buku secara mandiri.

Bahkan, rumor miring mulai berhembus di beberapa lingkar akademisi dan komunitas lokal, menyebut Rania hanyalah sosok idealis naif yang memanfaatkan nama besar Damar dan jaringan Galeri Bentang Seni untuk mendapatkan panggung yang tak sanggup ia raih lewat jalur profesional.

"Ini benar-benar licik, Mbak," cetus Dika dengan suara tertahan. Tangannya mengepal keras di samping cangkir kopi hitamnya. "Mereka kalah debat di depan umum, terus sekarang main belakang pakai artikel pembunuhan karakter begini. Mereka mau bikin orang-orang ragu sama keaslian perjuangan Mbak Rania."

Mas Andra, yang sedang mengecek tumpukan resi pengiriman buku pra-jual, menghentikan penanya. Ia menatap adiknya dengan pandangan tenang namun tajam. "Industri yang terbiasa memegang kendali tidak akan pernah suka melihat ada orang luar yang berhasil tanpa izin mereka, Nya. Mereka sedang berusaha memancing emosimu supaya kamu melakukan kesalahan dan membenarkan tuduhan mereka."

Rania menyandarkan punggungnya, merasakan kelelahan fisik dan emosional yang menggerogoti tubuhnya. Selama seminggu terakhir, ia hampir tak tidur nyenyak. Jam tidurnya tersita untuk mengurus tata letak, koordinasi percetakan mandiri, pengepakan ratusan eksemplar buku, hingga membalas pesan para pembeli satu per satu. Di tengah kelelahan fisik yang menumpuk, serangan rumor miring ini terasa bagai hantaman keras yang menguji batas ketahanannya.

"Rania nggak akan merespons artikel itu dengan emosi, Mas," ujar Rania lirih namun penuh penekanan. Matanya menatap lima kertas kuning peninggalan Bapak di dinding. "Kalau Rania sibuk melayani rumor mereka, energi Rania habis. Pembuktian terbaik bukan lewat perang kata-kata di media, tapi lewat kualitas buku yang sampai ke tangan pembaca."

"Itu sikap yang benar, Nya," puji Mas Andra bangga. "Biar Mas dan Dika yang amankan jalur distribusi dan administrasi cetakan kedua. Kamu fokus saja jaga kondisi dan siapkan ruang diskusi untuk tur komunitas."

Lihat selengkapnya