Serangan rumor miring di portal berita budaya dan bisik-bisik bernada pembunuhan karakter yang dihembuskan para petinggi industri ternyata tak sanggup bertahan lama. Di era di mana publik makin jeli membedakan antara rekayasa media dan kejujuran rasa, propaganda dingin itu justru berbalik menjadi senjata makan tuan.
Pagi itu, udara di pekarangan rumah restorasi terasa sangat sejuk. Burung-burung gereja berkicau riang di antara dahan pohon mangga yang mulai berbunga. Rania duduk di sudut teras, dikelilingi oleh belasan kardus cokelat tebal yang baru saja diturunkan dari mobil kurir.
Di atas meja kayu tempat mesin ketik tua peninggalan Bapak bertengger, tumpukan amplop surat dari berbagai daerah di Indonesia menggunung rapi. Bukan surat penolakan dari penerbit, melainkan surat-surat apresiasi yang ditulis tangan oleh para pembeli cetakan pertama novel Melawan Arus.
Rania mengambil salah satu amplop berwarna cokelat muda dengan cap pos dari sebuah desa kecil di Pati, Jawa Tengah. Dengan penuh kehati-hatian, ia membuka lipatan kertas di dalamnya dan mulai membaca baris demi baris tulisan tangan yang rapi namun tegas:
"Mbak Rania yang baik,
Saya seorang guru honorer sekaligus pengurus sanggar baca perempuan di desa kami. Saat membaca Bab 4 tentang konflik tanah warisan dan celah hukum patriarkal dalam novel Mbak, saya meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya, rasa sakit dan perjuangan yang kami alami di desa ini tidak ditulis sebagai cerita penderitaan yang kasihan, melainkan sebagai bentuk ketahanan yang sangat bermartabat.
Terima kasih sudah menolak memotong bagian itu saat penerbit besar memintanya. Jika Mbak menuruti kemauan mereka hari itu, kami di sini tidak akan pernah menemukan cermin yang begitu jujur untuk perjuangan kami ...."
Rania merapatkan kertas surat itu ke dadanya. Matanya berkaca-kaca oleh keharuan yang luar biasa. Rasa lelah berhari-hari mengurus tata letak, koordinasi percetakan mandiri yang bising di Sewon, hingga tekanan rumor miring seketika luruh tak berbekas.
Inilah pembuktian yang sesungguhnya. Bukan angka penjualan di toko buku megah atau pujian manis dari kritikus senior seperti Danang Baskoro, melainkan ikatan batin yang terjalin erat antara gubahan kata-katanya dengan batin para pembaca di akar rumput.
"Nya, lihat ini," panggil Mas Andra yang baru keluar dari ruang tengah membawa lembar rekapitulasi data digital. Wajah abang sulungnya itu memancarkan binar kebahagiaan yang sangat jernih. "Pra-jual cetakan kedua sebanyak satu ribu eksemplar yang kita buka dua hari lalu ... hari ini resmi ditutup karena kuotanya sudah terpenuhi seratus persen."