Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #14

Simfoni Tiga Kota

Kesuksesan cetakan kedua novel Melawan Arus yang menembus berbagai sudut daerah mendorong lahirnya sebuah gagasan baru dari rumah restorasi. Atas inisiatif kolektif dari berbagai sanggar baca, komunitas perupa, dan lingkar diskusi mahasiswa, dirancanglah sebuah agenda tur diskusi independen bertajuk Rangkaian Suara dari Pinggiran. Tur ini dirancang secara khusus untuk melintasi tiga kota yang memiliki keterikatan sejarah dan batin paling kuat dengan perjalanan Rania: Yogyakarta sebagai titik pijak awal, Surakarta sebagai simfoni akar rumput, dan Jakarta sebagai panggung pembuktian atas masa lalu.

Pagi itu, suasana di pelataran rumah restorasi tampak begitu sibuk. Mas Andra sedang memasukkan kardus-kardus berisi buku cetakan ketiga ke dalam bagasi mobil van tua yang disewa untuk perjalanan. Dika, yang baru saja menyelesaikan penataan perangkat pengeras suara portabel di jok belakang, tampak sibuk memeriksa jadwal acara di ponselnya.

Rania berdiri di dekat pintu depan, mengunci pintu kayu berdaun ganda dengan cermat. Sebelum melangkah pergi, matanya sempat tertuju pada lima lembar catatan kuning peninggalan Bapak di balik bingkai kaca. STRUKTUR RUMAH KITA TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH. Kalimat itu kini terasa bukan lagi sekadar warisan penguat di saat krisis, melainkan sebuah bekal keberanian yang siap ia bawa berkelana.

"Semua buku dan materi pameran kecil sudah masuk ke mobil, Nya," panggil Mas Andra seraya menyapu keringat di dahinya. "Semua persiapan teknis di tiga kota sudah beres."

"Mas Damar sudah di perjalanan ke sini, Mas?" tanya Rania seraya merapikan selendang kain tenun yang melingkar di bahunya.

"Sudah dekat, Mbak," sahut Dika seraya meminum air mineral. "Mas Damar bawa satu mobil lagi buat mengangkut beberapa karya lukisan pendukung dan poster zine yang bakal dipajang selama tur."

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan tua berwarna biru gelap berhenti di depan gerbang. Damar keluar dari pintu pengemudi dengan kemeja linen kelabu khasnya. Senyum hangat langsung terbit di wajahnya begitu matanya bertaut dengan pandangan Rania.

"Siap menguji gaung naskahmu di kota-kota lain, Rania?" sapa Damar seraya melangkah mendekat.

"Siap, Mas," jawab Rania mantap, mengangguk pelan. "Kali ini bukan cuma suara dari Jogja, tapi suara kolektif kita semua."

KOTA PERTAMA: YOGYAKARTA.

Sebagai pembuka dari Simfoni Tiga Kota, gelombang pertama tur diresmikan di pelataran halaman rumah restorasi itu sendiri sebelum rombongan bergerak keluar daerah. Rania dan timnya sengaja mengundang para tetangga desa, pemuda karang taruna, pengrajin kayu lokal, serta para aktivis jaringan komunitas Jogja.

Di bawah rindangnya pohon mangga dan pendar lampu gantung bermangkuk seng, diskusi berlangsung sangat intim. Tidak ada barisan panggung tinggi atau jarak antara pembicara dan pendengar. Rania membacakan petikan Bab 4 di hadapan orang-orang yang menjadi inspirasi nyata dari risetnya. Suara mesin ketik tua Bapak yang dipajang di meja teras seolah kembali bernyawa. Malam itu di Jogja, rumah restorasi tidak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan telah menjelma menjadi laboratorium kebudayaan yang hidup dan mengakar.

KOTA KEDUA: SURAKARTA.

Perjalanan dilanjutkan menuju Solo. Diskusi digelar di sebuah pendopo tua berarsitektur kayu jati di kawasan Baluwarti, tak jauh dari benteng kraton. Sejak sore hari, pendopo berlantai ubin hijau itu telah dipadati oleh lebih dari dua ratus peserta. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan, menciptakan suasana diskusi yang sangat hangat dan tanpa sekat formalitas.

Berbeda dengan forum formal universitas yang kaku, diskusi di Solo berlangsung sangat kritis dan bermartabat. Beberapa aktivis hak perempuan desa dan peneliti hukum adat setempat bergantian menyampaikan tanggapan atas novel Melawan Arus. Mereka membedah bagaimana fiksi yang ditulis Rania mampu memotret realitas ketimpangan struktur sosial dengan presisi yang jarang ditemukan pada karya populer saat ini.

Di barisan samping pendopo, Damar menata beberapa karya seni rupa independen dan cetakan puitis naskah Rania. Kehadiran elemen visual itu membuat ruang diskusi terasa seperti galeri terbuka yang bernyawa.

Lihat selengkapnya