Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #15

Rumah Baru Bagi Suara-Suara

Rangkaian tur Simfoni Tiga Kota resmi berakhir, namun gelombang yang ditinggalkannya tak lantas mereda begitu saja. Justru dari perjalanan panjang Yogyakarta, Surakarta, hingga Jakarta itulah, sebuah kesadaran baru merekah di dalam benak Rania dan rekan-rekannya. Perjuangan mereka bukan lagi sekadar soal meluncurkan satu judul novel atau memamerkan selusin kanvas melukis; mereka telah membuka keran keberanian bagi banyak pencipta karya lain yang selama ini bungkam di pinggiran.

Pagi itu, udara di pekarangan rumah restorasi terasa sangat bersih setelah diguyur hujan gerimis sejak subuh. Aroma tanah basah bersatu dengan wangi kayu tua yang menenangkan. Rania duduk di teras depan, memangku laptopnya seraya mencatat lusinan pesan yang masuk dari berbagai sanggar baca, penerbit lokal, dan kolektif seni di berbagai daerah.

Di meja kayu sebelahnya, Mas Andra sedang sibuk memeriksa berkas laporan keuangan dan skema pengiriman edisi reguler Melawan Arus. Sementara Dika, yang sedang duduk di lantai teras dengan kaus oblong hitamnya, tampak bersemangat membongkar kardus berisi lembaran-lembaran draf naskah baru yang dikirimkan oleh para penulis muda dari berbagai kota.

"Nya, coba lihat ini," panggil Mas Andra seraya menyodorkan lembaran kalkulasi digital di tabletnya. Matanya memancarkan binar kepuasan yang amat matang. "Penjualan Melawan Arus secara mandiri sudah menembus angka empat ribu eksemplar. Semua modal cetak, operasional tur tiga kota, dan alokasi dana untuk kas komunitas sudah tertutupi sepenuhnya. Kita tidak punya utang satu rupiah pun pada pihak luar."

Dika menepuk tangannya keras-keras. "Gokil! Empat ribu eksemplar tanpa perlu pasang iklan mahal di baliho Jakarta atau masuk toko buku jejaring raksasa. Ini buktinya kalau pembaca itu cari isi, bukan cuma bungkus!"

Rania tersenyum hangat, menatap abang dan adiknya dengan rasa haru yang mendalam. "Tapi yang paling penting bukan cuma soal angka bukunya laku, Mas, Dik. Lihat naskah-naskah di dalam kardus yang dipegang Dika itu."

Dika meraba tumpukan kertas kuarto di sampingnya. "Iya, Mbak. Sejak tur kemarin, ada puluhan penulis muda dan perupa lokal yang ngirim draf mereka ke email kita. Mereka minta saran, bahkan ada yang berharap naskahnya bisa diterbitkan lewat jalur independen yang kita rintis."

Mas Andra mengangguk-angguk paham. "Artinya, rumah restorasi ini tidak bisa cuma jadi tempat kamu mengetik lagi, Nya. Tempat ini sudah jadi simbol kebangkitan buat mereka."

Rania menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati, beralih menatap bingkai kaca di dinding teras yang membungkus lima lembar catatan kuning peninggalan Bapak. KITA MASIH BERSAMA. STRUKTUR RUMAH KITA TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH.

Lihat selengkapnya